Bandar Lampung (Humas) ------ Sore merambat ke penghujung jam kerja ketika seorang pemuda Palestina melangkah masuk ke Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung. Namanya Siradj. Di dalam dadanya bersemayam hampir 30 juz Al-Qur’an; di dalam ingatannya, Palestina--tanah kelahiran yang tak pernah selesai dirindukan.
Kepada Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung, Erwinto, Siradj menyampaikan satu harapan; menemukan tempat untuk menjalani tasmi', memperdengarkan hafalannya, sekaligus menjaganya tetap kukuh. Ketika kantor bersiap menutup hari, sebuah ikhtiar justru baru dimulai.
Jauh dari tanah kelahiran, Siradj menempuh pendidikan strata satu di UIN Raden Intan Lampung. Ruang kuliah menjadi tempatnya menjemput masa depan, sedangkan ayat-ayat Al-Qur'an menjadi tali yang mengikatnya dengan rumah, keluarga, dan negeri yang terus hidup dalam ingatan. Selain Al-Qur'an, ia juga menekuni hafalan hadis.
Siradj mengerti, hafalan tidak cukup hanya disimpan. Ayat demi ayat mesti terus dilafalkan, diperdengarkan, dikoreksi, dan diteguhkan agar tidak luruh oleh waktu. Namun, sebagai perantau, ia belum mengetahui pintu mana yang harus diketuk untuk menjalani tasmi' dan memperoleh pengakuan atas hafalannya.
Erwinto menyambut kedatangannya dengan hangat. Kegelisahan pemuda itu didengarkan, lalu jalan dicarikan. Harapan Siradj tidak dibiarkan tinggal sebagai percakapan di ruang kerja. Kemenag Kota Bandar Lampung bergerak mencari lembaga yang dapat menyimak bacaannya, membenahi kekurangan, serta mendampinginya selama menyelesaikan perkuliahan.
Pencarian itu bermuara di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Dewan Dakwah Lampung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, yang dipimpin KH Arifin.
Kepada Arifin, Erwinto menitipkan Siradj beserta cita-citanya: menjalani tasmi', menyempurnakan bacaan, dan menguatkan hafalan. Pintu pondok pun terbuka. Arifin menyatakan siap mendampinginya hingga hafalan itu mencapai derajat mutqin--kuat, lancar, dan kokoh.
"Semoga ikhtiar ini menjadi penguat bagi Siradj dalam menyelesaikan hafalannya, sekaligus menginspirasi para santri untuk terus mencintai, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur'an," ujar Arifin.
Bagi Kemenag Kota Bandar Lampung, pelayanan keagamaan tidak selalu selesai di balik meja. Ada kalanya pelayanan menjelma kesediaan untuk mendengar kegelisahan seorang perantau, mencarikan pintu, lalu memastikan ia menemukan rumah bagi ayat-ayat yang dijaganya.
Perjalanan menuju tasmi' memang belum selesai. Namun, Siradj kini tidak lagi mencarinya seorang diri. Palestina tetap jauh di seberang sana, tetapi setiap ayat yang mengalir dari lisannya seolah memendekkan jarak menuju tanah yang dirindukan.