Lampung Barat, Kemenag (Humas) -- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat menggelar kegiatan Pembinaan dan Pendampingan bagi Operator Emis 4.0 serta Emis GTK (Simpatika). Agenda strategis yang diselenggarakan di Aula Kankemenag Kabupaten Lampung Barat pada Rabu (22/7/2026) ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Lampung Barat, H. Miftahus Surur, didampingi Kasubbag TU, H. Mukip Zaman, dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Suherman.
Kegiatan tersebut diikuti secara antusias oleh seluruh operator madrasah, baik negeri maupun swasta, dari seluruh penjuru Kabupaten Lampung Barat.
Pembinaan ini difokuskan untuk menguatkan kompetensi teknis para pengelola data serta memastikan integrasi sistem pendataan pendidikan di lingkungan Kemenag berjalan optimal, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam laporannya, Kasi Penmad Suherman, menggarisbawahi krusialnya peran operator dalam keberlangsungan tata kelola lembaga pendidikan.
Ia menyampaikan bahwa saat ini tercatat ada 111 operator dari madrasah yang telah mengantongi izin operasional resmi, di mana seluruhnya memegang tanggung jawab besar terhadap pemutakhiran data kelembagaan, siswa, hingga tenaga pendidik.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Lampung Barat, Miftahus Surur, dalam arahannya menegaskan bahwa operator merupakan "jantung" bagi sebuah madrasah.
"Valid atau invalidnya data institusi sangat bergantung pada ketelitian dan integritas para operator di lapangan dalam mengawal arus informasi pendidikan," ungkapnya.
Miftahus Surur menjelaskan bahwa alur kerja utama seorang operator mencakup empat tahapan krusial, yakni mengolah, memverifikasi, memvalidasi, hingga melaporkan data secara presisi.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam atas dedikasi serta sumbangsih besar para operator dalam memajukan kualitas madrasah, baik status negeri maupun swasta.
Menutup arahannya, Miftahus Surur mengimbau seluruh peserta untuk aktif dan bijak bergerak di media sosial dengan senantiasa memberikan respons serta narasi yang positif.
"Langkah ini dinilai penting untuk membangun citra publik madrasah yang makin profesional, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi," tutupnya.