Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Daerah

Pokjawas Lampung Tancap Gas Implementasi KBC, Madrasah Piloting Nasional Diperkuat Lewat Bimtek

Selasa, 30 Juni 2026 Humas Lampung Tengah Editor: Aziz
Pokjawas Lampung Tancap Gas Implementasi KBC, Madrasah Piloting Nasional Diperkuat Lewat Bimtek
Humas Lampung Tengah
Humas Lampung Tengah
Foto: Ria

Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Upaya memperkuat transformasi pendidikan madrasah berbasis karakter terus menjadi perhatian strategis Kementerian Agama dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menempatkan nilai kemanusiaan, akhlak, dan budaya kasih sayang sebagai fondasi utama pembelajaran. Dalam semangat tersebut, Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Provinsi Lampung menggelar Bimbingan Teknis Praktik Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Madrasah Percontohan (Piloting) Indonesia Tahun Ajaran 2025/2026, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan strategis tingkat provinsi tersebut menghadirkan Hj. Siti Romadiyah, S.Pd., M.Pd.I., Pengawas Madrasah Kabupaten Lampung Tengah, sebagai Ketua Panitia Pelaksana. Pelaksanaan bimtek menjadi bagian penting dalam mengonsolidasikan arah implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai paradigma pendidikan baru yang menekankan pembentukan karakter, penguatan nilai spiritual, serta budaya pembelajaran yang humanis di lingkungan madrasah.

Bimtek ini dirancang sebagai ruang penguatan kapasitas bagi satuan pendidikan madrasah untuk memahami secara utuh arah kebijakan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, mulai dari pemetaan strategi pelaksanaan di tingkat madrasah, pengembangan praktik-praktik baik pembelajaran, hingga penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai instrumen penguatan implementasi program secara berkelanjutan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Dr. H. Zulkarnain, S.Ag., M.Hum, yang dalam arahannya menegaskan bahwa pendidikan madrasah hari ini dituntut tidak hanya melahirkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter generasi yang memiliki empati, integritas, serta kesadaran moral yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

Menurutnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta merupakan langkah progresif Kementerian Agama dalam membangun paradigma pendidikan yang lebih humanis. Ia menekankan bahwa madrasah harus menjadi ruang tumbuh yang sehat bagi peserta didik, tempat di mana ilmu pengetahuan berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak, budaya saling menghormati, serta lahirnya lingkungan pendidikan yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penuh penghargaan terhadap martabat manusia.

"Madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa. Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu semata, tetapi harus mampu membangun karakter, menghadirkan kasih sayang dalam proses belajar, menanamkan akhlak mulia, serta membentuk pribadi yang memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Inilah esensi utama Kurikulum Berbasis Cinta yang harus kita sukseskan bersama," tegas Dr. H. Zulkarnain.

Pada sesi penguatan program, Ketua Tim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia, Ros Wildan, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional menuntut lahirnya sistem pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, melainkan juga mampu membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh melalui internalisasi nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Menurutnya, madrasah harus mampu mengambil peran lebih besar dalam melahirkan generasi yang tidak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati sosial, kecerdasan emosional, serta karakter yang kokoh dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang semakin kompleks.

Sementara itu, Ketua Tim Kurikulum Kemenag Provinsi Lampung, H. Alamsyah, memberikan penguatan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta harus dipahami sebagai paradigma baru pendidikan yang menempatkan nilai cinta sebagai fondasi utama dalam membangun budaya madrasah.

Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dibangun melalui penguatan enam nilai utama kehidupan, yakni cinta kepada Allah SWT sebagai fondasi spiritual, cinta kepada Rasulullah SAW sebagai teladan akhlak, cinta kepada ilmu sebagai spirit pembelajaran sepanjang hayat, cinta kepada alam sebagai bentuk tanggung jawab menjaga lingkungan, cinta kepada tanah air sebagai penguatan komitmen kebangsaan, serta cinta kepada diri sendiri sebagai upaya membangun kesadaran akan potensi, kesehatan mental, dan tanggung jawab pribadi.

Menurut H. Alamsyah, keenam nilai tersebut harus menjadi ruh pendidikan madrasah agar mampu melahirkan generasi yang unggul secara akademik, matang secara emosional, kuat secara spiritual, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Turut hadir sebagai narasumber Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, H. Herry Setiawan, S.Sos.I., M.Pd, Ketua Pokjawas Madrasah Provinsi Lampung Dr. H. Rokhman, M.Si, serta narasumber nasional dari Provinsi Jawa Timur.
Materi inti dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh dua narasumber nasional dari Provinsi Jawa Timur yang menjadi bagian dari madrasah piloting nasional, yakni H. Syaifullah, M.A., Kepala Madrasah Ibtidaiyah Ash Shomadiyah Tuban, Jawa Timur, serta Haryudi, M.A., Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Keduanya membagikan praktik-praktik terbaik implementasi Kurikulum Berbasis Cinta berdasarkan pengalaman lapangan dalam pengembangan budaya madrasah yang berorientasi pada kasih sayang, disiplin, pembentukan karakter, serta penguatan nilai-nilai akhlakul karimah.

Sebagai Ketua Panitia, Hj. Siti Romadiyah menegaskan bahwa Bimbingan Teknis ini tidak sekadar menjadi forum transfer pengetahuan, melainkan momentum bersama untuk membangun paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

Menurutnya, madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang kuat, memiliki empati sosial, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, serta mampu menghadirkan lingkungan belajar yang sehat dan penuh penghormatan terhadap sesama.

"Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai upaya menghadirkan pendidikan yang lebih menyentuh dimensi kemanusiaan. Madrasah tidak cukup hanya mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu membangun budaya belajar yang menanamkan kasih sayang, kedisiplinan, akhlak mulia, serta karakter yang kuat sebagai bekal generasi masa depan bangsa," ujar Hj. Siti Romadiyah.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan komitmennya dalam mendorong lahirnya transformasi pendidikan madrasah yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menjadi fondasi penting dalam membentuk madrasah yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga mampu melahirkan generasi berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi membangun peradaban bangsa yang lebih bermartabat.