Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Mimbar Agama

Ketika Ayat-ayat Tuhan Menyapa Bumi

Kamis, 17 September 2026 • Fadilah
Ketika Ayat-ayat Tuhan Menyapa Bumi
Fadilah
Fadilah
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

Pesan n Indah dari MTQ Nasional ke-31 Semarang

Beberapa hari berada di Semarang, mengikuti rangkaian MTQ Nasional ke-31, membuat saya kembali merenungkan satu hal: begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang kita dengar, begitu banyak suara indah yang melantunkannya, dan begitu banyak manusia yang datang membawa kecintaan kepada Kalamullah.

Di panggung MTQ, ayat-ayat Tuhan terdengar begitu indah.

Tetapi sesungguhnya, ayat-ayat itu tidak hanya ingin terdengar. Ia ingin menyapa bumi.

Semarang memperlihatkan kepada kita bagaimana Al-Qur’an diperdengarkan dengan suara terbaik, dibaca dengan tajwid yang sempurna, dihafal dengan ketekunan, dan dipertandingkan dengan penuh kesungguhan. Tetapi setelah suara itu selesai, setelah lampu panggung dipadamkan, ke mana ayat-ayat itu pergi?

Jawabannya seharusnya: ke dalam kehidupan. Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk didengar telinga, tetapi untuk menyentuh hati dan membimbing perilaku.

Ayat tentang keadilan seharusnya melahirkan manusia yang adil.

Ayat tentang amanah seharusnya melahirkan manusia yang dapat dipercaya.

Ayat tentang kasih sayang seharusnya membuat kita lebih peduli kepada sesama.

Ayat tentang persaudaraan seharusnya membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Dan ketika Al-Qur’an berbicara tentang bumi, tentang larangan membuat kerusakan, seharusnya manusia semakin sadar bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab kepada Allah.

Allah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Bumi yang rusak, lingkungan yang tercemar, hutan yang berkurang, air yang kotor, dan berbagai persoalan ekologis tidak lahir begitu saja. Ada tangan manusia di dalamnya.

Maka Al-Qur’an yang membumi bukan sekadar Al-Qur’an yang banyak dibaca, tetapi Al-Qur’an yang melahirkan kesadaran untuk menjaga bumi.

Begitu pula dalam kehidupan sosial.

Jika Al-Qur’an benar-benar menyapa bumi, maka ia akan terlihat dalam cara kita berbicara, bekerja, berdagang, memimpin, mendidik anak, menggunakan media sosial, dan memperlakukan orang lain.

Hingga ahirnya kita sampai pada pertanyaan : Jika Al-Qur’an benar-benar telah membumi, apa yang berubah dalam kehidupan kita?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana.

Sebab ukuran keberhasilan interaksi kita dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada seberapa indah kita membacanya. Ia juga tidak berhenti pada seberapa banyak yang kita hafal.

Ukuran itu akan terlihat ketika Al-Qur’an mulai membentuk diri kita.

Lisan menjadi lebih terjaga. Hati menjadi lebih bersih. Perbuatan menjadi lebih jujur. Jabatan menjadi lebih amanah. Hubungan sosial menjadi lebih santun. Dan kehidupan menjadi lebih bermanfaat.

Barangkali inilah pesan indah yang bisa kita bawa pulang dari Semarang.

MTQ boleh menjadi tempat kita memperdengarkan ayat-ayat Tuhan. Tetapi kehidupan harus menjadi tempat kita membuktikan pesan-pesannya.

Karena panggung MTQ pada akhirnya akan selesai. Para qari dan qariah akan kembali. Para hafiz dan hafizah akan pulang. Para official dan pembina akan kembali kepada tugas masing-masing.

Tetapi ayat-ayat yang kita dengar tidak boleh berhenti sebagai kenangan.

Ia harus ikut pulang. Masuk ke rumah kita. Masuk ke tempat kerja kita. Masuk ke sekolah dan pesantren. Masuk ke pasar dan ruang pelayanan. Masuk ke media sosial.

Dan yang paling penting, masuk ke dalam hati dan perilaku kita.

Sebab ayat-ayat Tuhan tidak hanya ingin kita lantunkan. Ia ingin menyapa kita, mengubah kita, dan melalui kita menyapa kehidupan.

Semoga MTQ Nasional ke-31 Semarang bukan hanya meninggalkan para juara dan piala, tetapi juga meninggalkan manusia-manusia yang semakin dekat dengan Al-Qur’an dan kehidupan yang semakin terang oleh nilai-nilainya.

Dari panggung menuju kehidupan.

Dari lantunan menuju pengamalan.

Dari ayat menuju perubahan.

Itulah ketika ayat-ayat Tuhan benar-benar menyapa bumi. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.