Semarang kembali menjadi tempat bertemunya anak-anak terbaik bangsa dalam sebuah perhelatan yang tidak sekadar menghadirkan kompetisi, tetapi juga membawa pesan suci: Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional. Dari berbagai penjuru Indonesia, kafilah datang membawa harapan, semangat dan doa. Para qari-qariah, hafiz-hafizah, mufassir-mufassirah, serta para peserta dari berbagai cabang musabaqah telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk memberikan yang terbaik bagi daerah masing-masing.
MTQ Nasional di Semarang bukanlah sebuah perhelatan yang dipersiapkan dalam waktu singkat. Jauh sebelum panggung didirikan dan lantunan ayat-ayat suci menggema, tuan rumah telah mempersiapkan berbagai hal. Tempat pertandingan, pemondokan, transportasi, kesehatan, keamanan, hingga berbagai kebutuhan para kafilah dipersiapkan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik. Semuanya menunjukkan bahwa MTQ bukan sekadar acara seremonial, tetapi sebuah perhelatan besar yang melibatkan banyak orang, banyak daerah, dan tentu saja banyak harapan.
Dari Lampung, kami pun hadir bersama Kafilah Provinsi Lampung. Seperti provinsi-provinsi lainnya, Lampung datang membawa para putra-putri terbaiknya. Mereka bukan sekadar membawa nama pribadi, tetapi membawa nama daerah, membawa harapan keluarga, guru, pembimbing, dan masyarakat yang mendoakan dari jauh.
Di balik setiap peserta, sesungguhnya ada perjalanan panjang. Ada waktu yang dikorbankan. Ada latihan yang berulang-ulang. Ada ayat yang dibaca berkali-kali hingga benar-benar melekat di hati. Ada guru yang dengan sabar membimbing. Ada orang tua yang terus mendoakan. Ada pula perjuangan untuk mengalahkan rasa lelah, gugup dan bahkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
Semua datang dengan satu harapan: menjadi yang terbaik. Piala tentu menjadi salah satu tujuan. Medali menjadi kebanggaan. Menjadi juara akan membawa kebahagiaan bagi peserta, keluarga dan daerah. Tetapi, apakah sesungguhnya MTQ hanya tentang siapa yang menjadi juara?
Pertanyaan itu tiba-tiba terasa penting ketika kita menyaksikan ribuan orang berkumpul mengelilingi Al-Qur’an. Sebab yang sedang diperlombakan sebenarnya bukanlah Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak pernah kalah dan tidak pernah menang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, petunjuk bagi manusia, cahaya yang menerangi jalan kehidupan.
Yang diperlombakan adalah kemampuan manusia dalam membaca, menghafal, memahami, menafsirkan dan menyampaikan pesan-pesannya. Karena itu, di balik gemerlap MTQ, ada pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan juara. Ada harapan agar Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Di panggung MTQ, ayat-ayat Allah dilantunkan dengan suara yang indah. Tajwid dijaga. Makharijul huruf diperhatikan. Lagu dan irama disusun dengan penuh keindahan. Para hafiz menjaga ayat-ayat itu di dalam dada. Para mufassir berusaha menggali maknanya. Semua memperlihatkan betapa Al-Qur’an memiliki daya hidup yang luar biasa.
Namun, kita hidup di zaman yang berubah sangat cepat. Teknologi berkembang hampir tanpa batas. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Media sosial telah menjadi ruang baru tempat manusia berbicara, berdebat, bahkan saling menghakimi. Kecerdasan buatan mulai memasuki berbagai ruang kehidupan. Dunia semakin terhubung, tetapi manusia kadang justru semakin mudah terpecah.
Kita memiliki semakin banyak informasi, tetapi tidak selalu semakin bijaksana. Kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin mampu menghargai.
Kita semakin maju dalam teknologi, tetapi masih menghadapi persoalan kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, kekerasan, korupsi, hoaks, ujaran kebencian dan berbagai bentuk krisis moral.
Zaman menjadi semakin terang oleh cahaya teknologi, tetapi mengapa hati manusia kadang terasa semakin gelap? Di sinilah Al-Qur’an menemukan relevansinya. Allah berfirman: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang.” (QS. An-Nisa: 174)
Al-Qur’an adalah cahaya. Tetapi cahaya tidak diciptakan untuk sekadar dikagumi. Cahaya hadir untuk menerangi. Karena itu, pertanyaan yang layak kita ajukan dari panggung MTQ Nasional di Semarang bukan hanya: ‘siapa yang akan menjadi juara’?
Ada pertanyaan yang lebih jauh dan lebih dalam: Akankah dari panggung MTQ ini lahir cahaya yang menerangi kehidupan…? Akankah lantunan ayat yang kita dengarkan hari ini menjelma menjadi kejujuran dalam kehidupan sehari-hari…? Akankah ayat-ayat tentang persaudaraan mampu mengurangi kebencian dan permusuhan…? Akankah ayat-ayat tentang keadilan mampu menghadirkan perilaku yang adil…?
Akankah ayat-ayat tentang menjaga bumi membuat manusia lebih peduli terhadap lingkungan…? Akankah ayat-ayat tentang kasih sayang menjadikan masyarakat lebih peduli kepada fakir miskin, anak yatim, orang lemah dan mereka yang membutuhkan…? Dan akankah ayat-ayat yang kita lantunkan dengan suara indah juga terdengar dalam perilaku kita…?
Sebab boleh jadi tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan lagi bagaimana membuat masyarakat mengenal Al-Qur’an. Al-Qur’an telah hadir di hampir setiap rumah. Mushaf ada di masjid, sekolah, kantor, pesantren dan lembaga pendidikan. Anak-anak belajar membaca Al-Qur’an sejak usia dini. Para penghafal Al-Qur’an terus bertambah.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana ‘menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan’.
Membaca Al-Qur’an adalah kemuliaan. Menghafalnya adalah kemuliaan. Melantunkannya dengan indah adalah kemuliaan. Tetapi ada kemuliaan yang lebih besar ketika ayat-ayat yang kita baca itu perlahan membentuk akhlak dan perilaku.
Al-Qur’an tidak hanya ingin terdengar di telinga. Ia ingin hidup di dalam hati, lalu terpancar melalui perbuatan.
Maka MTQ sesungguhnya memiliki tugas yang jauh lebih besar daripada melahirkan para juara. MTQ harus menjadi salah satu pintu untuk ‘memasyarakatkan Al-Qur’an dan meng-Al-Qur’an-kan kehidupan masyarakat’—membawa nilai-nilai Qur’ani ke dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, kebudayaan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di panggung MTQ, kita menyaksikan anak-anak bangsa berlomba membaca ayat-ayat Tuhan. Semoga setelah mereka turun dari panggung, cahaya itu tidak ikut padam.
Semoga ia dibawa pulang ke Lampung, ke Jawa, ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan seluruh penjuru negeri.
Dibawa ke rumah-rumah. Dibawa ke sekolah-sekolah. Dibawa ke kantor-kantor. Dibawa ke tengah masyarakat. Bahkan dibawa ke ruang-ruang digital yang setiap hari dipenuhi berbagai suara.
Sebab Indonesia hari ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an. Indonesia juga membutuhkan manusia yang ‘berperilaku Qur’ani’: jujur ketika memegang amanah, adil ketika memiliki kekuasaan, santun ketika berbeda pendapat, peduli ketika melihat penderitaan, sederhana ketika memperoleh kemuliaan, dan menjaga bumi ketika memiliki kemampuan untuk mengeksploitasinya.
Semarang hari ini menjadi saksi. Para peserta datang membawa suara terbaiknya. Para official datang membawa tanggung jawab. Para pembimbing membawa ikhtiar. Masyarakat membawa doa.
Dan kita semua membawa harapan yang sama: semoga dari panggung MTQ Nasional ini tidak hanya lahir para juara, tetapi juga lahir semangat baru untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an.
Sebab pada akhirnya, ‘MTQ boleh selesai, panggung boleh dibongkar, piala boleh dibawa pulang, dan lampu-lampu perlombaan boleh dipadamkan. Tetapi cahaya Al-Qur’an harus tetap bersinar.’ Ia harus menerangi hati. Menerangi keluarga. Menerangi masyarakat. Menerangi bangsa.
Dan semoga, dari cahaya itulah, lahir peradaban yang lebih beriman, berakhlak, damai, adil dan manusiawi. ‘Itulah cahaya yang sesungguhnya kita harapkan lahir dari panggung MTQ’. (*)
Wallahu’alam