Suatu hari, datang seorang perempuan tua menghadap Rasulullah saw. Dengan wajah penuh harap ia berkata, “Wahai Rasulullah, doakan aku agar Allah memasukkanku ke dalam surga.”
Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan kerinduan seorang hamba yang telah menua oleh usia, namun hatinya tetap berharap bertemu dengan rahmat Allah. Ia ingin mendapat kabar gembira langsung dari manusia paling mulia, Nabi Muhammad saw.
Rasulullah saw yang dikenal memiliki sifat lembut dan suka mencairkan suasana, tersenyum lalu berkata, “Wahai ibu, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek tua.”
Mendengar jawaban itu, perempuan tua tersebut terdiam. Wajahnya berubah sedih. Hatinya terasa kecewa. Ia mengira dirinya benar-benar tidak memiliki kesempatan masuk surga hanya karena usianya yang telah renta. Dengan mata berkaca-kaca, ia pun berbalik dan pergi sambil menangis.
Melihat hal itu, Rasulullah saw segera meminta salah seorang sahabat untuk memanggil kembali perempuan tua tersebut. Kemudian Nabi menjelaskan maksud perkataannya.
Beliau menerangkan bahwa di surga nanti tidak ada manusia dalam keadaan tua renta. Semua penghuni surga akan dikembalikan Allah dalam keadaan muda, sehat, indah, dan penuh kebahagiaan. Tidak ada keriput, kelemahan, sakit, ataupun kepayahan.
Lalu Rasulullah saw membacakan firman Allah dalam QS. Al-Waqi‘ah ayat 35–37: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan yang sempurna. Lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan. Yang penuh cinta lagi sebaya umurnya.”
Ayat ini, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Jalalain dan tafsir para ulama lainnya, menggambarkan bahwa penghuni surga diciptakan Allah dalam keadaan terbaik. Mereka tidak lagi menanggung kelemahan usia dunia. Semua berada dalam kondisi muda, kuat, bercahaya, dan membahagiakan.
Mendengar penjelasan Rasulullah saw, perempuan tua itu pun tersenyum bahagia. Kesedihannya berubah menjadi harapan. Ia memahami bahwa candaan Nabi bukan untuk menyakitinya, melainkan untuk menggembirakan hatinya dengan cara yang lembut dan penuh kasih.
Kisah ini menunjukkan betapa indah akhlak Rasulullah saw. Beliau bercanda, tetapi tidak pernah berdusta. Candaan beliau selalu mengandung kebenaran, kelembutan, dan pelajaran.
Tentu ini bukan sekadar cerita ringan yang mengundang senyum. Di balik candaan Rasulullah saw tersebut tersimpan pelajaran besar tentang adab berbicara, etika bercanda, dan bagaimana memperlakukan perasaan orang lain.
Rasulullah saw memang bercanda, tetapi candaan beliau sangat berbeda dengan candaan yang banyak kita temui hari ini. Beliau tidak pernah berdusta, tidak pernah menghina, tidak pernah merendahkan martabat orang lain, dan tidak pernah menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan tertawaan.
Candaan beliau berawal dari kasih sayang dan berakhir dengan kebahagiaan. Sebaliknya, banyak candaan manusia hari ini berawal dari tawa tetapi berakhir dengan luka.
Di era media sosial saat ini, batas antara humor dan penghinaan semakin kabur. Tidak sedikit orang merasa lucu ketika berhasil mempermalukan orang lain di depan publik. Kekurangan fisik seseorang dijadikan bahan konten. Kemiskinan dijadikan bahan ejekan. Kesalahan masa lalu diungkit kembali untuk ditertawakan. Bahkan cacat, penyakit, warna kulit, bentuk tubuh, status sosial, dan keterbatasan seseorang sering kali dijadikan bahan candaan demi mendapatkan “like”, “view”, dan “followers”.
Yang lebih menyedihkan, pelakunya sering berlindung di balik kalimat: “Kan cuma bercanda.” Padahal bagi orang yang menjadi sasaran, itu bukan candaan. Itu adalah luka.
Banyak persahabatan retak karena candaan yang berlebihan. Banyak hubungan keluarga menjadi renggang karena ejekan yang dianggap lucu. Banyak orang kehilangan kepercayaan diri akibat terus-menerus menjadi objek olok-olokan. Bahkan tidak sedikit kasus yang berujung pada permusuhan berkepanjangan, laporan polisi, hingga meja pengadilan karena seseorang merasa kehormatannya direndahkan di ruang publik.
Rasulullah saw mengajarkan standar yang sangat berbeda. Ketika beliau bercanda kepada nenek tua tersebut, tidak ada unsur penghinaan. Tidak ada pelecehan. Tidak ada niat mempermalukan. Justru setelah membuat perempuan itu penasaran dan sedih sesaat, beliau segera menjelaskan maksudnya sehingga berakhir dengan kabar gembira yang membuat hatinya bahagia.
Artinya, ukuran sebuah candaan dalam Islam bukanlah seberapa keras orang tertawa, melainkan seberapa aman hati orang lain dari terluka.
Karena itu, sebelum bercanda, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: “Jika saya berada di posisi orang itu, apakah saya akan merasa senang atau justru tersinggung?”
Sebab tidak semua yang membuat kita tertawa membuat orang lain bahagia. Allah SWT bahkan telah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Sebab sering kali orang yang dihina karena penampilannya ternyata lebih mulia di sisi Allah. Orang yang ditertawakan karena kemiskinannya justru lebih kaya hatinya. Orang yang dijadikan bahan lelucon karena keterbatasannya mungkin memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi di hadapan Allah dibanding mereka yang mengejeknya.
Lebih jauh lagi, media sosial telah membuat candaan memiliki daya rusak yang jauh lebih besar. Dulu ejekan hanya didengar beberapa orang. Sekarang satu unggahan dapat disaksikan ribuan bahkan jutaan orang. Dulu luka mungkin hanya berlangsung sesaat. Sekarang jejak digital bisa bertahan bertahun-tahun.
Karena itu, setiap pengguna media sosial perlu bertanya: “Apakah konten yang saya unggah akan membuat orang lain tersenyum atau justru menangis?” “Apakah komentar yang saya tulis akan menghangatkan hati atau mempermalukan seseorang?”
Sebab bisa jadi satu kalimat yang kita anggap ringan menjadi beban berat bagi orang lain yang sedang berjuang menghadapi masalah hidupnya.
Kisah nenek tua dan Rasulullah saw mengajarkan bahwa humor terbaik bukanlah humor yang menjatuhkan orang lain, melainkan humor yang mengangkat hati mereka. Bukan humor yang memperlebar permusuhan, tetapi yang mempererat persaudaraan. Bukan humor yang membuat seseorang kehilangan harga dirinya, tetapi yang membuatnya merasa dihargai dan dicintai.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang pandai membuat orang tertawa. Yang jauh lebih langka adalah orang yang mampu membuat orang tertawa tanpa menyakiti siapa pun.
Dan Rasulullah saw telah memberikan teladan terbaik tentang itu. Beliau bercanda, tetapi tetap menjaga kebenaran. Beliau bergurau, tetapi tetap memuliakan manusia. Beliau membuat orang tersenyum, tanpa meninggalkan luka sedikit pun di hati mereka.
Itulah humor yang beradab. Itulah candaan yang bernilai ibadah. Dan itulah akhlak Rasulullah saw yang semakin relevan di tengah dunia yang terlalu mudah menertawakan orang lain, tetapi semakin sulit menjaga perasaan sesamanya. (*)
Wallahu’a