Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Mimbar Agama

MTQ Dan Wajah Umat, Sejauh Mana Al-Quran Membumi

Selasa, 15 September 2026 • Fadilah
MTQ Dan Wajah Umat, Sejauh Mana Al-Quran Membumi
Fadilah
Fadilah
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

MTQ Nasional ke-31 di Semarang mempertemukan kita dengan banyak wajah. Ada wajah para qari dan qariah yang khusyuk melantunkan ayat-ayat Allah. Ada wajah para hafiz dan hafizah yang menyimpan kalam-Nya di dalam dada. Ada wajah para pembimbing yang mendampingi dengan penuh kesabaran. Ada wajah official yang membawa amanah daerah. Ada wajah orang tua yang menunggu dengan doa. Dan ada wajah masyarakat yang datang menyaksikan bagaimana Al-Qur’an diperdengarkan dengan suara-suara terbaik anak bangsa.

Di panggung itu, wajah Al-Qur’an tampak begitu indah.

Ayat-ayatnya dilantunkan dengan penuh penghayatan. Tajwid dan makhraj dijaga. Hafalan diuji. Tafsir didalami. Setiap peserta memberikan kemampuan terbaiknya. Kita pun merasa bangga melihat generasi muda Indonesia begitu dekat dengan Al-Qur’an.

Tetapi setelah menyaksikan semua itu, ada sebuah pertanyaan yang perlahan muncul dalam hati:

Bagaimana dengan wajah umat di luar panggung MTQ?

Apakah cahaya Al-Qur’an yang kita saksikan di panggung juga telah tampak dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan ini tentu bukan untuk meragukan kemuliaan MTQ. Bukan pula untuk mengecilkan perjuangan para qari, qariah, hafiz, hafizah dan seluruh insan Al-Qur’an. Justru sebaliknya, pertanyaan ini muncul karena kita berharap MTQ memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar melahirkan para juara.

Sebab Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dibaca dalam perlombaan.

Ia diturunkan untuk manusia. Ia diturunkan untuk membimbing kehidupan. Ia diturunkan untuk membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami dirinya, memperlakukan sesamanya dengan baik, dan menjaga bumi yang menjadi tempat hidupnya.

Kita patut bersyukur. Di negeri ini, Al-Qur’an begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Hampir di setiap rumah kita menemukan mushaf. Anak-anak belajar mengaji sejak usia dini. Masjid dan pesantren terus menghidupkan tradisi membaca dan menghafal Al-Qur’an. Majelis-majelis taklim tumbuh di berbagai tempat. Lembaga pendidikan Al-Qur’an berkembang. Para penghafal Al-Qur’an terus bermunculan. MTQ pun diselenggarakan secara berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional.

Dan kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai kebaikan yang telah tumbuh dari kecintaan umat kepada Al-Qur’an.

Tetapi kita juga harus jujur mengakui bahwa kehadiran Al-Qur’an secara fisik belum selalu berbanding lurus dengan hadirnya nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku.

Mushaf mungkin ada di rumah, tetapi kejujuran belum tentu selalu ada dalam kehidupan.

Ayat tentang persaudaraan mungkin sering dibaca, tetapi perbedaan masih mudah berubah menjadi pertengkaran.

Ayat tentang keadilan mungkin kita hafal, tetapi ketidakadilan masih bisa ditemukan di berbagai ruang kehidupan.

Ayat tentang larangan berbuat kerusakan telah kita dengarkan berkali-kali, tetapi kerusakan lingkungan masih terjadi.

Ayat tentang larangan memakan harta dengan cara batil telah kita baca, tetapi praktik-praktik kecurangan dan penyalahgunaan amanah belum sepenuhnya hilang.

Ayat tentang menjaga lisan telah sering kita dengar, tetapi di zaman media sosial, satu kalimat dapat dengan mudah menjadi fitnah yang menyebar kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.

Persoalannya bukan apakah Al-Qur’an telah hadir di tengah kita. Ia jelas telah hadir. Persoalannya adalah: sejauh mana kehadiran Al-Qur’an telah mengubah kita?

Sebab membumikan Al-Qur’an bukan hanya membuat masyarakat semakin sering membacanya. Membumikan Al-Qur’an berarti membuat nilai-nilainya hidup dalam keseharian.

Al-Qur’an harus terlihat dalam cara seseorang berbicara. Terlihat dalam cara seseorang mencari rezeki. Terlihat dalam cara seorang pemimpin menggunakan kekuasaan.

Terlihat dalam cara seorang pedagang memperlakukan pembeli. Terlihat dalam cara seorang guru mendidik murid. Terlihat dalam cara seorang anak memperlakukan orang tuanya.

Terlihat dalam cara orang kaya memperlakukan orang miskin. Terlihat dalam cara kita memperlakukan orang yang berbeda pilihan, berbeda pandangan, bahkan berbeda latar belakang dengan kita.

Dan Al-Qur’an juga harus terlihat dalam cara manusia memperlakukan alam. Sebab bumi bukan sekadar tempat untuk mengambil keuntungan. Ia adalah amanah.

Hari ini kita menyaksikan berbagai persoalan lingkungan: hutan yang rusak, sungai yang tercemar, sampah yang semakin sulit dikendalikan, udara yang semakin buruk di berbagai tempat, serta berbagai bencana ekologis yang mengingatkan manusia bahwa alam memiliki batas.

Al-Qur’an mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini seharusnya tidak hanya indah ketika dilantunkan. Ia harus menjadi kesadaran.

Begitu pula ketika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, keadilan, kasih sayang, persaudaraan dan amanah. Semua itu bukan sekadar materi kajian. Ia harus menjadi karakter.

Maka, ukuran membuminya Al-Qur’an sesungguhnya bukan hanya dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi juga dari seberapa kuat nilai Al-Qur’an membentuk perilaku masyarakat.

Di sinilah MTQ memiliki tantangan yang besar. Selama ini kita telah sangat baik dalam mengembangkan tradisi tilawah. Kita telah melahirkan qari dan qariah. Kita telah memperbanyak para penghafal. Kita telah mengembangkan berbagai cabang musabaqah. Kita telah memberikan ruang yang luas bagi generasi muda untuk mencintai Al-Qur’an.

Itu semua harus terus dilanjutkan. Tetapi mungkin kini kita membutuhkan langkah berikutnya: dari memasyarakatkan bacaan Al-Qur’an menuju memasyarakatkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Dari tilawah menuju tadabbur. Dari tadabbur menuju penghayatan. Dari penghayatan menuju pengamalan. Dan dari pengamalan individu menuju perubahan sosial.

Sebab sebuah masyarakat Qur’ani tidak dibangun hanya oleh banyaknya mushaf yang tersimpan di rumah-rumah. Ia dibangun oleh manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh paling nyata.

Ketika Sayyidah Aisyah r.a. ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”

Betapa luar biasa jawaban itu. Al-Qur’an dalam diri Rasulullah saw. bukan hanya bacaan. Ia menjadi akhlak. Ia menjadi sikap. Ia menjadi cara berpikir. Ia menjadi cara memperlakukan manusia. Ia menjadi cara menghadapi musuh, menyayangi keluarga, menolong yang lemah, memimpin masyarakat dan menjalani kehidupan.

Inilah yang barangkali perlu terus kita renungkan di tengah kemeriahan MTQ.

Kita tidak hanya ingin masyarakat yang pandai membaca Al-Qur’an, tetapi masyarakat yang terbaca oleh Al-Qur’an. Maksudnya, ketika seseorang melihat seorang Muslim, ia menemukan kejujuran.

Ketika bertemu dengannya, ia menemukan keramahan. Ketika bekerja dengannya, ia menemukan amanah. Ketika berbeda dengannya, ia menemukan kedewasaan. Ketika berada di dekatnya, ia merasa aman.

Itulah ketika Al-Qur’an mulai tampak pada wajah umat. Sebab akhlak adalah wajah yang paling nyata dari nilai-nilai yang kita yakini.

Hari ini kita berada dalam zaman yang menghadirkan tantangan baru. Anak-anak dan generasi muda tumbuh di tengah arus informasi yang sangat deras. Mereka berhadapan dengan berbagai nilai yang datang dari berbagai arah. Apa yang baik dan buruk dapat hadir di layar yang sama. Keteladanan dapat ditemukan, tetapi begitu pula keburukan.

Di ruang digital, manusia bahkan dapat berbicara tanpa melihat wajah orang yang menjadi sasaran perkataannya. Akibatnya, batas antara kritik dan penghinaan, antara informasi dan fitnah, antara kebebasan dan kebablasan menjadi semakin tipis.

Di tengah situasi seperti itu, Al-Qur’an harus hadir sebagai kompas.

Bukan hanya di mimbar. Bukan hanya di masjid. Bukan hanya di panggung MTQ. Tetapi juga di dalam telepon genggam kita.

Di ruang komentar. Di grup percakapan. Di media sosial. Di ruang kerja. Di ruang keluarga. Di seluruh ruang kehidupan.

Sebab Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, bukan hanya petunjuk bagi manusia ketika berada di masjid.

Dan ketika kita berbicara tentang memasyarakatkan dan membumikan Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sebuah perjalanan yang panjang.

Membumikan Al-Qur’an berarti menjadikan nilai wahyu sebagai napas kehidupan.

Ketika kejujuran menjadi budaya, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Ketika keadilan menjadi prinsip, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Ketika orang kuat melindungi yang lemah, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Ketika orang berbeda tetap mampu hidup dalam persaudaraan, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Ketika manusia menjaga alam dan tidak merusaknya, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Ketika ilmu melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan, di sana ada cahaya Al-Qur’an.

Dan ketika kekuasaan dipandang sebagai amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri, di sana pun cahaya Al-Qur’an sedang bekerja.

Maka mungkin sudah saatnya kita memperluas makna MTQ.

MTQ tidak boleh hanya dipahami sebagai Musabaqah Tilawatil Qur’an, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat kecintaan, pemahaman dan pengamalan terhadap Al-Qur’an.

Juara tetap penting. Prestasi tetap penting. Piala tetap membanggakan. Tetapi semua itu harus menjadi jalan menuju tujuan yang lebih besar.

Sebab setelah panggung MTQ selesai, masyarakat tetap membutuhkan kejujuran. Negara tetap membutuhkan manusia-manusia amanah. Keluarga tetap membutuhkan akhlak. Generasi muda tetap membutuhkan keteladanan. Alam tetap membutuhkan manusia yang menjaganya.

Dan semua itu adalah ruang tempat Al-Qur’an seharusnya hadir.

Mungkin karena itu, dari Semarang kita tidak cukup hanya bertanya: Siapa yang menjadi juara MTQ Nasional ke-35?

Kita juga perlu bertanya: Apa yang akan berubah dalam kehidupan kita setelah MTQ ini selesai?

Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih dekat dengan Al-Qur’an? Apakah keluarga kita akan menjadi lebih Qur’ani?

Apakah masyarakat kita akan menjadi lebih jujur, adil dan penuh kasih? Apakah generasi muda kita akan menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk di tengah derasnya perubahan zaman?

Dan yang paling penting: Apakah wajah umat setelah MTQ akan semakin memantulkan cahaya Al-Qur’an?

Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban yang bisa diberikan hari ini.

Tetapi pertanyaan itu harus tetap hidup. Sebab MTQ boleh selesai, tetapi pekerjaan membumikan Al-Qur’an tidak pernah selesai.

Panggung boleh ditinggalkan. Para peserta boleh kembali ke daerah masing-masing. Lampu-lampu perlombaan boleh dipadamkan. Tetapi cahaya yang kita dengarkan dari ayat-ayat Allah hari ini harus terus dibawa pulang.

Dibawa ke rumah. Dibawa ke sekolah. Dibawa ke tempat kerja. Dibawa ke tengah masyarakat. Dibawa ke ruang digital. Dibawa dalam kehidupan berbangsa.

Hingga suatu hari nanti, ketika orang melihat wajah umat Islam, mereka tidak hanya mengenali kita sebagai umat yang pandai melantunkan Al-Qur’an, tetapi juga sebagai umat yang akhlaknya mencerminkan Al-Qur’an, perilakunya menebarkan rahmat, kehidupannya menghadirkan keadilan, dan keberadaannya membawa kebaikan bagi manusia serta alam.

Karena pada akhirnya, Al-Qur’an dikatakan membumi bukan ketika ia hanya banyak dibaca, tetapi ketika nilai-nilainya hidup.

Dan barangkali, itulah kemenangan terbesar yang jauh melampaui sebuah piala:

ketika cahaya Al-Qur’an tidak hanya terdengar dari panggung MTQ, tetapi benar-benar terlihat pada wajah umat dan kehidupan masyarakat.