Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kakanwil Zulkarnain: Guru dan Siswa Harus Adaptif di Era AI

Senin, 28 September 2026 • Anggithya
Kakanwil Zulkarnain: Guru dan Siswa Harus Adaptif di Era AI
Anggithya
Anggithya
Foto: Kevin

Lampung (Humas) — Guru dan siswa dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemajuan teknologi tidak perlu dihindari, tetapi harus dikuasai dan digunakan secara bijak, produktif, serta tetap berpijak pada karakter dan nilai agama.

“Jangan sampai AI yang menguasai siswa. Siswalah yang harus menguasai AI. AI boleh semakin cerdas, tetapi manusia yang menggunakannya harus semakin bijaksana,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung Zulkarnain saat menjadi narasumber Podcast Dialog Spesial Lampung Post Update di Kantor Lampung Post, Bandar Lampung, Senin (28/9/2026).

Dialog yang dipandu jurnalis senior Lampung Post Abdul Gafur itu merupakan rangkaian HUT ke-52 Lampung Post bertema “Membangun Literasi, Melintas Generasi”. Dialog membahas strategi Kementerian Agama membangun literasi digital sejak dini di tengah perkembangan AI serta ancaman hoaks, perundungan siber, judi online, dan konten negatif.

Menurut Zulkarnain, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan atau keterpaksaan, melainkan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Teknologi telah mengubah cara orang belajar, memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga mengakses pelayanan publik.

Kondisi tersebut membuat lembaga pendidikan tidak dapat menjauhkan siswa dari teknologi. Tantangannya adalah membekali mereka dengan kemampuan menyaring informasi dan menggunakan teknologi untuk hal-hal produktif.

“Teknologi memberikan akses yang cepat, tetapi agama memberikan arah yang tepat,” ujarnya.

Zulkarnain mengatakan literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat, membaca, atau mencari informasi. Literasi juga menyangkut kemampuan berpikir kritis, melakukan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi, serta memahami etika dalam berinteraksi di ruang digital.

Karakter, menurut dia, menjadi filter penting ketika anak berhadapan dengan derasnya informasi. Fondasi tersebut diperlukan agar kemudahan teknologi tidak menyeret anak pada hoaks, perundungan, judi online, maupun penyalahgunaan AI.

Karena itu, Zulkarnain tidak melihat pelarangan teknologi sebagai jawaban utama. Guru dan orang tua justru perlu hadir mendampingi anak, menjelaskan manfaat dan risikonya dengan pendekatan yang sesuai usia dan kemampuan berpikir mereka.

Pendekatan itu sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Pendidikan, menurut Zulkarnain, tidak semestinya dibangun melalui ancaman dan larangan semata. Anak perlu diberikan alasan, keteladanan, dan pemahaman agar mampu mengambil keputusan secara sadar.

Pembelajaran juga perlu dikembangkan melalui pendekatan mindful, meaningful, dan joyful learning. Peserta didik tidak hanya mengetahui apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, tetapi memahami alasan dan makna di baliknya.


Guru Juga Harus Terus Belajar

Perubahan teknologi tidak hanya menuntut siswa beradaptasi. Zulkarnain mengingatkan guru untuk terus meningkatkan kompetensi karena peserta didik kini dapat memperoleh pengetahuan dari AI dan berbagai platform digital dalam waktu sangat cepat.

Guru, menurut dia, tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang selama ini dimiliki. Sebelum mengajar, pendidik harus terus belajar dan mengikuti perkembangan agar tetap mampu membimbing peserta didiknya.

Madrasah dan pesantren pun tidak boleh alergi terhadap teknologi. Penguasaan AI, robotik, dan kecakapan digital dapat dikembangkan sesuai minat dan bakat peserta didik tanpa meninggalkan pendidikan agama dan akhlak.

Jika kemampuan tersebut belum tersedia di lingkungan sekolah, Zulkarnain mendorong keterlibatan tenaga ahli atau pelatih dari luar untuk membantu mengembangkan potensi siswa.

Peserta didik juga tidak cukup menjadi konsumen internet dan media sosial. Mereka perlu didorong menjadi kreator yang mampu menghasilkan karya, menyebarkan konten positif, dan memanfaatkan teknologi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Di lingkungan pesantren, digitalisasi turut mempermudah akses terhadap kitab dan berbagai literatur keagamaan. Namun, Zulkarnain mengingatkan kemudahan memperoleh informasi tetap harus disertai kemampuan memeriksa sumber dan otoritas keilmuannya.

Bagi Zulkarnain, tantangan pendidikan bukan memilih antara teknologi dan agama. Keduanya harus berjalan beriringan. Kemampuan digital diperlukan untuk menghadapi perkembangan zaman, sedangkan agama dan karakter menjadi pedoman dalam menentukan arah penggunaannya.

“Setiap anak memiliki keistimewaan. Tugas pendidikan adalah menemukan dan mengembangkan potensi itu,” kata Zulkarnain.