Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Kisah Inspiratif

Kepemimpinan: Antara Senioritas Dan Kapasitas

Jumat, 05 Juni 2026 Fadilah
Kepemimpinan: Antara Senioritas Dan Kapasitas
Fadilah
Fadilah
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

Dalam sejarah perjalanan Islam, ada satu kisah yang tidak hanya menggugah, tetapi juga mengguncang cara pandang kita tentang kepemimpinan: kisah Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, seorang mu’allaf yang baru beberapa bulan masuk Islam, namun telah dipercaya Rasulullah saw memimpin sebuah ekspedisi militer besar.

Peristiwa itu terjadi dalam Perang Dzatu Salasil. Saat itu, ancaman datang dari kelompok sekutu Bani Bali dan Bani Qudha’ah yang berencana menyerang wilayah kaum Muslimin. Rasulullah saw tidak tinggal diam. Beliau segera menyiapkan pasukan sekitar 300 orang untuk menghadapi kekuatan musuh yang jumlahnya mencapai lebih dari seribu.

Namun yang mengejutkan, Rasulullah saw menunjuk Amr bin Ash sebagai panglima perang. Padahal, di dalam barisan itu hadir para sahabat besar: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan tokoh-tokoh senior lainnya yang jauh lebih dahulu masuk Islam dan memiliki pengalaman yang lebih panjang.

Penunjukan ini bukan tanpa gejolak. Di antara para sahabat, muncul pertanyaan, bahkan kegelisahan. Bagaimana mungkin seorang yang baru memeluk Islam diberi amanah sebesar itu?

“Namun Rasulullah saw tidak menjadikan senioritas sebagai satu-satunya ukuran kepemimpinan. Beliau melihat kapasitas yang mungkin belum dilihat oleh yang lain: kecerdasan strategi, ketegasan, keberanian mengambil keputusan, dan ketenangan dalam diri Amr bin Ash.”

Dalam konteks inilah, Rasulullah saw telah menanamkan prinsip yang sangat tegas tentang kepemimpinan dan ketaatan. Beliau bersabda bahwa siapa yang taat kepada pemimpin yang beliau tunjuk, maka sesungguhnya ia telah taat kepada beliau, dan ketaatan kepada beliau adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan barisan, terutama dalam situasi genting seperti peperangan.

Perjalanan menuju medan perang tidak mudah. Musim dingin yang sangat menusuk, perjalanan panjang selama sepuluh hari, serta ancaman musuh yang jauh lebih besar, menjadi ujian berat bagi pasukan kecil ini.

Setibanya di lokasi, keputusan-keputusan Amr bin Ash mulai menimbulkan tanda tanya. Di tengah dinginnya malam, pasukan ingin menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh. Namun Amr melarang keras. Umar bin Khattab ra tidak dapat menahan diri dan mempertanyakan keputusan itu. Namun Abu Bakar ra dengan bijak menenangkan, mengingatkan agar seluruh pasukan tetap taat kepada panglima yang telah ditunjuk Rasulullah saw.

Keputusan kedua lebih mengejutkan lagi. Saat waktu Subuh tiba, Amr bin Ash dalam keadaan junub. Air tersedia, tetapi ia tidak mandi, melainkan bertayamum. Ini kembali menimbulkan protes, karena dianggap meninggalkan kewajiban.

Belum selesai di situ, setelah Allah memberikan kemenangan kepada pasukan kecil ini, Amr justru melarang pasukannya mengejar musuh yang lari. Padahal, secara kebiasaan, saat itulah kesempatan untuk meraih ghanimah terbuka lebar.

Setelah kembali ke Madinah, para sahabat menyampaikan kegelisahan mereka kepada Rasulullah saw. Maka dipanggillah Amr bin Ash untuk dimintai penjelasan.

Rasulullah saw bertanya dengan tenang, “Wahai Amr, benarkah engkau melarang pasukan menyalakan api unggun di malam yang sangat dingin itu?”

Amr menjawab, “Benar, ya Rasulullah. Jika kami menyalakan api, musuh akan mengetahui betapa sedikitnya jumlah kami. Itu akan memberi mereka keberanian untuk menyerang dan menyusun strategi menghancurkan kami.”

Rasulullah saw mengangguk. “Lalu, mengapa engkau tidak mandi padahal dalam keadaan junub?”

Amr menjawab, “Ya Rasulullah, malam itu sangat dingin. Aku khawatir jika aku mandi, aku akan jatuh sakit. Jika panglima sakit, maka pasukan akan kehilangan kendali dan mudah dikalahkan.”

Kemudian Rasulullah saw bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak membiarkan pasukan mengejar musuh?”

Amr menjelaskan, “Jika kami mengejar mereka, pasukan kita akan terpencar. Dengan jumlah yang sedikit, itu sangat berbahaya. Jika musuh mengetahui kelemahan ini, mereka bisa berbalik menyerang dan mengalahkan kita.”

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah saw tidak menegur, tidak pula menyalahkan. Bahkan beliau membenarkan keputusan-keputusan Amr bin Ash. Seakan menegaskan kembali prinsip yang telah beliau ajarkan:

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpinku, maka ia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpinku, maka ia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim

Di sinilah letak pelajaran besarnya. “Kisah ini mengajarkan bahwa dalam Islam, senioritas memang dihormati, tetapi kepemimpinan tidak semata ditentukan oleh siapa yang paling lama atau paling tua. Rasulullah saw menunjukkan bahwa kapasitas, kemampuan membaca keadaan, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan memikul amanah adalah pertimbangan utama dalam memilih pemimpin.”

Kisah ini juga mengajarkan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dalam situasi genting, meskipun keputusan itu belum sepenuhnya dipahami. Sebab seringkali, seorang pemimpin melihat lebih jauh daripada yang dipimpin. Karena itu Rasulullah saw menegaskan bahwa seorang muslim wajib mendengar dan taat kepada pemimpinnya, dalam keadaan suka maupun tidak suka, selama tidak diperintahkan kepada kemaksiatan (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan dalam riwayat lain ditegaskan, bahwa siapa yang menaati pemimpin yang diangkat, maka ia telah menaati Rasulullah saw, dan siapa yang mendurhakainya, maka ia telah mendurhakai beliau (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa ketaatan bukan soal pribadi pemimpin, tetapi soal sistem kepemimpinan yang harus dijaga.

Dan yang tak kalah penting, Amr bin Ash menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah kemampuan membaca situasi, menjaga keselamatan pasukan, dan mengutamakan strategi di atas kepentingan sesaat, termasuk harta rampasan.

Inilah pelajaran abadi: bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah, tetapi oleh kecerdasan, ketenangan, dan ketepatan dalam mengambil keputusan.

“Perang Dzatu Salasil bukan sekadar kisah kemenangan militer. Ia adalah pelajaran besar tentang bagaimana Rasulullah saw membangun kepemimpinan: menghormati senioritas, tetapi tetap menempatkan kapasitas di atas segalanya.” (*)