Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Daerah

Angkat Ekoteologi sebagai Inovasi, Kemenag Way Kanan Gelar Dialog Kerukunan dan Moderasi Beragama

Rabu, 21 Oktober 2026 • Humas Way Kanan •Editor: Anggithya
Angkat Ekoteologi sebagai Inovasi, Kemenag Way Kanan Gelar Dialog Kerukunan dan Moderasi Beragama
Humas Way Kanan
Humas Way Kanan
Foto: Humas Kemenag Way Kanan

Way Kanan, Kemenag (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan melakukan Dialog Kerukunan dan Moderasi Beragama bertema “Ekoteologi sebagai Inovasi Kerukunan Umat Beragama”, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama sekaligus mendorong kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan hidup.

‎

Kegiatan tersebut menghadirkan Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah; Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain; Kepala Kantor Kemenag Way Kanan, Masir Ibrahim; serta Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Way Kanan, Syahrul Muharomi beserta anggota.

‎Kepala Kantor Kemenag Way Kanan, Masir Ibrahim, menyampaikan bahwa penguatan kerukunan umat beragama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang agama.

‎“Kerukunan umat beragama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menjaga hubungan baik antarpemeluk agama. Melalui ekoteologi, kita memiliki ruang untuk bekerja sama merawat lingkungan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperkuat moderasi beragama demi kehidupan masyarakat yang harmonis,” ujar Masir Ibrahim.

‎Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, menegaskan bahwa ekoteologi menjadi pendekatan penting untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam. Ia berharap pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui berbagai program nyata yang melibatkan satuan kerja Kementerian Agama dan masyarakat.

‎“Ekoteologi menjadi salah satu pendekatan penting dalam menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam. Saya berharap kegiatan ini melahirkan langkah nyata yang memperkuat kerukunan, meningkatkan kepedulian lingkungan, serta menjadi praktik baik pelaksanaan program prioritas Kementerian Agama di daerah,” ungkap Zulkarnain.

‎Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah, turut menekankan pentingnya kerja sama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kerukunan sekaligus melestarikan lingkungan. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat toleransi serta membangun kepedulian terhadap alam secara berkelanjutan.

‎“Kerukunan dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah daerah mendukung upaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk membangun kepedulian, memperkuat toleransi, dan menjaga alam demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang,” tutur Ayu Asalasiyah.

‎Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Way Kanan, Syahrul Muharomi, menyoroti pentingnya dialog dan kerja sama lintas agama dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Menurutnya, kegiatan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama, termasuk pelestarian lingkungan, dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarumat beragama.

‎“Kerukunan tumbuh ketika masyarakat saling menghormati, membuka ruang dialog, dan bekerja sama dalam hal-hal yang membawa kebaikan bersama. Pelestarian lingkungan dapat menjadi salah satu sarana untuk mempererat hubungan lintas agama karena menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama tanpa memandang perbedaan keyakinan,” ujar Syahrul Muharomi.

‎Dialog Kerukunan dan Moderasi Beragama ini mengangkat ekoteologi sebagai pendekatan yang menghubungkan ajaran dan nilai-nilai agama dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan hidup. Melalui pendekatan tersebut, kerukunan tidak hanya diwujudkan dalam hubungan harmonis antarpemeluk agama, tetapi juga melalui kepedulian bersama terhadap alam.

‎Melalui kegiatan ini, Kemenag Way Kanan berharap dialog lintas agama dapat terus dikembangkan menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan kegiatan nyata, baik dalam penguatan moderasi beragama maupun pelestarian lingkungan hidup.

‎Dengan demikian, ekoteologi diharapkan menjadi salah satu pendekatan untuk merawat kerukunan, memperkuat toleransi, dan menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama. (Humas)