Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Kisah Inspiratif

Merdeka Di Era Digital, Jangan Jadi Budak Algoritma

Sabtu, 15 Agustus 2026 Fadilah
Merdeka Di Era Digital, Jangan Jadi Budak Algoritma
Fadilah
Fadilah
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

Lampung, Kanwil Kemenag (Humas)--Setiap bulan Agustus, kita kembali diingatkan pada arti sebuah kata yang sangat mahal harganya: ‘kemerdekaan’.

Merah Putih berkibar di mana-mana. Lagu-lagu perjuangan terdengar. Kita mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya agar bangsa ini terbebas dari penjajahan.

Dulu, penjajahan memiliki wajah yang jelas. Ada tentara, senjata, kekuasaan dan perampasan. Para pejuang mengangkat senjata untuk merebut kembali kemerdekaan.

Kini Indonesia telah merdeka. Kita bebas menentukan pilihan, bebas belajar, bekerja, berpendapat dan menjalani kehidupan.

Tetapi zaman telah berubah. Penjajahan dalam bentuk lama memang telah berakhir. Namun, di tengah kemajuan teknologi, muncul tantangan baru yang sering kali tidak kita sadari. Ia tidak datang membawa senjata. Tidak pula memaksa dengan kekerasan. Ia hadir melalui sebuah benda yang hampir selalu berada dalam genggaman kita: ‘telepon pintar’.

Dengan benda kecil itu, kita dapat melakukan hampir apa saja. Mencari ilmu, bekerja, berdagang, berkomunikasi, berdakwah, mencari hiburan dan memperoleh berita. Teknologi telah membuat hidup menjadi jauh lebih mudah.

Tetapi di balik kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: Apakah kita benar-benar mengendalikan teknologi, atau justru mulai dikendalikan olehnya?

Kita membuka telepon hanya untuk melihat satu pesan. Kemudian muncul sebuah video. Kita menontonnya. Setelah itu muncul video berikutnya. Kita melihat komentar, membuka berita, berpindah ke unggahan lain, lalu tanpa terasa waktu berlalu begitu saja.

Awalnya kita yang memilih. Tetapi semakin lama, apa yang kita lihat di layar seolah-olah sudah dipilihkan untuk kita.

Ada sistem yang terus mempelajari apa yang kita sukai, apa yang kita tonton, apa yang membuat kita berhenti, bahkan apa yang membuat kita terus bertahan di depan layar. Inilah yang disebut algoritma.

Ia tidak datang untuk menakut-nakuti kita. Bahkan sering kali ia justru memberikan apa yang kita senangi.

Tetapi di sinilah bahayanya. Apa yang kita sukai belum tentu apa yang kita butuhkan. Konten yang membuat kita marah bisa membuat kita terus menonton. Berita yang mengejutkan membuat kita penasaran. Perdebatan membuat kita ingin ikut berkomentar. Sesuatu yang viral membuat kita merasa harus mengetahuinya.

Akhirnya, perhatian kita terus ditarik dari satu hal ke hal lainnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, belajar, membaca, beribadah, berbicara dengan keluarga atau beristirahat, perlahan habis tanpa kita sadari.

Yang lebih berbahaya, bukan hanya waktu yang hilang. Pikiran dan emosi kita pun bisa ikut terbentuk.

Kita mudah marah karena sebuah unggahan. Mudah membenci seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Mudah percaya hanya karena sebuah informasi sudah dibagikan ribuan kali.

Mudah menganggap pendapat sendiri paling benar karena setiap hari kita hanya melihat orang-orang yang berpikiran sama.

Kita akhirnya hidup dalam sebuah ruang digital yang terasa nyaman, tetapi sebenarnya sangat sempit.

Di sinilah kita perlu kembali bertanya tentang arti kemerdekaan. Bukankah merdeka berarti mampu menentukan arah hidup kita sendiri? Kalau waktu kita tidak lagi kita kendalikan, apakah kita benar-benar merdeka? Kalau emosi kita mudah dipancing oleh sebuah unggahan, apakah kita benar-benar merdeka? Kalau pikiran kita hanya mengikuti apa yang sedang viral, apakah kita benar-benar merdeka?

Dan kalau kita tidak mampu meletakkan telepon meski tahu bahwa kita sudah terlalu lama menggunakannya, jangan-jangan kita sedang kehilangan sebagian dari kemerdekaan diri kita.

Karena itu, merdeka di era digital bukan berarti menjauhi teknologi. Justru sebaliknya, kita harus mampu memanfaatkannya untuk sesuatu yang lebih besar: belajar, bekerja, berkarya, memperluas silaturahmi, menyebarkan kebaikan dan membangun peradaban.

Teknologi harus menjadi alat bagi manusia, bukan manusia yang menjadi alat bagi teknologi. Islam sendiri mengajarkan kita untuk tidak mudah menerima setiap informasi. Allah berfirman: “Maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Pesan ini menjadi semakin penting di zaman ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksanya.

Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak disukai itu baik. Tidak semua yang muncul di layar harus kita ikuti. Dan tidak semua yang membuat kita marah harus kita sebarkan. Maka, mungkin inilah salah satu bentuk perjuangan kemerdekaan kita hari ini: belajar menguasai diri di tengah derasnya arus digital.

Kita perlu merdeka dalam menggunakan waktu. Merdeka dalam memilih informasi. Merdeka dalam mengendalikan emosi. Dan merdeka dalam menentukan apa yang layak masuk ke dalam pikiran dan hati kita.

Dulu para pahlawan berjuang membebaskan negeri ini dari penjajahan. Hari ini perjuangan kita memang berbeda. Kita tidak lagi berperang dengan senjata, tetapi menghadapi kebodohan, hoaks, kecanduan, kebencian, fanatisme dan berbagai hal yang dapat membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri.

Karena itu, di tengah kibaran Merah Putih dan gegap gempita peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar merdeka? (*)