Lampung, Kemenag (Humas) Ada satu pertanyaan yang kadang diam-diam muncul dalam diri kita: apa sebenarnya yang kurang dari hidup ini? Bukankah banyak yang sudah kita miliki? Harta yang cukup, rumah untuk berteduh, keluarga yang menemani, bahkan mungkin kedudukan yang dihormati. Namun anehnya, di tengah semua itu, hati masih saja gelisah. Ketenangan terasa jauh, seolah ada ruang kosong yang tidak pernah terisi.
Jika kita jujur, barangkali masalahnya bukan karena kita tidak memiliki, tetapi karena kita terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain. Mata kita sibuk membandingkan. Melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih indah, lebih berhasil, lebih sempurna. Tanpa kita sadari, setiap kali kita melihat ke luar dengan cara seperti itu, kita sedang mengurangi rasa syukur terhadap apa yang sudah ada di dalam genggaman kita.
Padahal, bisa jadi apa yang kita miliki hari ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain. Bahkan tidak jarang, apa yang kita anggap biasa saja justru adalah nikmat besar yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Namun karena kita terus melihat ke atas, nikmat itu terasa kecil. Karena kita terus membandingkan, kita merasa kurang.
Di sinilah awal kegelisahan itu tumbuh. Ketika hati mulai lupa pada miliknya sendiri, rasa syukur perlahan menjauh. Dan ketika syukur menjauh, ketenangan hidup pun ikut menghilang. Yang muncul justru perasaan iri, perasaan yang diam-diam menggerogoti hati, menyakitkan diri sendiri, tanpa memberi manfaat sedikit pun.
Iri itu unik. Ia tidak mengurangi nikmat orang lain, tapi justru menghabiskan kebahagiaan kita sendiri.
Lebih jauh lagi, ketika kita terbiasa melihat kehidupan orang lain, standar keberhasilan hidup kita pun ikut berubah. Kita tidak lagi mengukur hidup dengan apa yang Allah berikan kepada kita, tetapi dengan apa yang dimiliki orang lain. Akibatnya, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Kita terus berlari, terus membandingkan, terus merasa tertinggal. Lelah, tetapi tidak pernah sampai.
Padahal orang-orang bijak sering mengingatkan: hidup ini bukan perlombaan yang harus ada pemenangnya. Hidup adalah perjalanan yang unik, yang Allah desain berbeda untuk setiap hamba-Nya. Jalan kita tidak sama, ujian kita tidak sama, bahkan takdir kita pun tidak sama.
Maka ketika kita memaksakan diri untuk menyamakan hidup dengan orang lain, di situlah kita mulai kehilangan arah.
Tidak sedikit orang yang akhirnya jatuh dalam keputusasaan hanya karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. Merasa gagal, merasa tertinggal, bahkan merasa hidupnya tidak berarti. Padahal Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini seakan menjadi penawar bagi hati yang lelah. Bahwa seburuk apa pun keadaan kita, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup. Yang sering tertutup justru cara pandang kita sendiri yang terlalu sibuk melihat ke luar.
Karena itu Rasulullah saw memberikan panduan yang sangat sederhana, tetapi dalam maknanya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).
Hadis ini bukan melarang kita melihat keberhasilan orang lain. Tetapi mengajarkan kita cara menjaga hati agar tetap sehat. Agar kita tidak kehilangan rasa cukup. Agar kita tidak menjadi buta terhadap nikmat yang sudah kita miliki.
Sebab jika mata terus melihat dan membandingkan milik orang lain, hati akan kehilangan rasa cukup. Kita merasa kurang bukan karena tidak ada, tetapi karena yang kita lihat selalu lebih indah di tempat orang lain. Akhirnya, kita tidak menikmati hidup kita sendiri.
Maka mungkin yang perlu kita lakukan bukan menutup mata, tetapi mengarahkan pandangan. Belajar melihat ke dalam. Merawat apa yang sudah Allah titipkan. Mensyukuri yang ada, sebelum sibuk mengejar yang belum tentu menjadi milik kita.
Karena bisa jadi, selama ini kita tidak kekurangan nikmat—kita hanya kurang menghargai apa yang sudah ada. Dan di situlah awal dari kegelisahan itu bermula.
Jika kita ingin hidup lebih tenang, maka salah satu langkahnya adalah sederhana: alihkah pandangan mata, dari sibuk melihat milik orang lain, menjadi fokus merawat nikmat yang ada dalam kehidupan kita sendiri. Agar kita tidak menjadi orang yang memiliki banyak kebaikan, tetapi justru buta terhadapnya. (*)