Foto: Sa’adatul Hasanah, S. Pd., M, Pd
Oleh: Sa’adatul Hasanah, S. Pd., M, Pd
Guru kimia di MAN 2 Bandar Lampung
“Huphh… entah sudah berapa kali aku membeli test pack ini, setiap kali telat datang bulan, harapan baru muncul dalam diriku, menanti kabar bahagia yang selalu tertunda. Namun, saat kucoba test pack itu, hasilnya tetap nihil. Yah, aku adalah satu dari sekian banyak istri yang mendambakan kehamilan, menginginkan kehadiran si buah hati. Setahun sudah berlalu sejak aku menikah, dan setiap kali ditanya, “Sudah isi belum?”, pertanyaan itu bagaikan anak panah yang menusuk hati. Dengan senyum tipis, kuberpikir positif, “Aamiin, semoga segera ya.”
Aku sering mengkhayal di depan cermin, mematut diri seolah sedang mengandung, membayangkan perutku membesar dengan penuh cinta dan harapan. Namun, kenyataan tak seindah impian. Suatu ketika, suami dan aku memutuskan untuk berikhtiar lebih serius dengan berkonsultasi ke dokter kandungan. Kami mencoba berbagai ramuan, mulai dari toge, kurma muda, hingga campuran herbal yang aromanya kadang membuat kepalaku pusing. Namun, segala usaha itu seakan belum membuahkan hasil yang diinginkan.
Setelah tahun kedua pernikahan, aku pun mengambil langkah lebih jauh. Aku harus menjalani HSG atau Histerosalpingografi, pemeriksaan sinar-X yang menggunakan cairan kontras untuk mendiagnosis kondisi rahim dan saluran telur. Dengan rasa takut dan cemas, aku menjalani prosedur ini. Dokter memasukkan tabung tipis melalui vagina dan leher rahim. Rasa sakit yang ringan dan ketidaknyamanan terasa saat alat itu masuk. Untungnya, suami selalu di sisiku, memberiku semangat untuk bersabar menghadapi semua ini.
Hasil pemeriksaan keluar, dokter memvonisku dengan kabar tak mengenakkan, ada sumbatan pada tuba falopi sebelah kiri. Namun, dia mencoba menguatkan, menyatakan bahwa semoga setelah HSG, cairan yang disemprotkan dapat sedikit membuka sumbatan tersebut. Di dalam hatiku, perasaan campur aduk, mengingat ada kendala dalam tubuhku ini. Tapi, aku berusaha berhusnudzon kepada Allah, meyakini bahwa akan ada jalan keluar.
Hari-hariku berjalan seperti biasa, meskipun hatiku terus bergejolak. Aku tetap menjalani aktivitas sebagai guru kimia di madrasah negeri di sebuah kabupaten di Lampung. Yang berjarak 30 km dari rumahku, dengan kondisi jalan yang luar biasa parah saat itu. Disaat perjalanan ke madrasah menggunakan angkutan umum, terasa sekali goncangan selama perjalanan 1,5 jam akibat banyaknya jalan berlubang. Dengan kondisi ini aku tetap berikhtiar dengan mengonsumsi herbal dari HPAI yang disarankan teman dan berpositif thinking semoga walaupun kondisi perjalanan ke Madrasah yang tidak kondusif tidak memengaruhi kondisi rahimku.
Tahun berikutnya, Ibu mertua mulai resah melihat aku tak kunjung hamil. Suatu ketika, ada seloroh mertuaku yang membuatku tersentak, ”Kik inggom mak dapok ngandung, kik kajongni ulun Lappung biasani titibggalko (Kalau istri tidak bisa hamil, kalau suaminya orang Lampung biasanya akan ditinggalkan)”. Kata-kata itu menghujam dalam hatiku, membuatku menangis sesungukan, dan aku menghubungi mamaku, memohon ridhonya, meminta ampun atas segala kesalahan yang mungkin menghambat impianku memiliki anak.
Sebagai langkah ikhtiar berikutnya, aku menjalani urut tradisional di kampung suami di Kotaagung. Di sana, ada “Tamong” yang dikenal bisa membantu untuk ikhtiar hamil. Dengan semangat membara, meskipun perjalanan memakan waktu hampir tiga jam menggunakan motor, kami pun berangkat. Sesampainya di sana, rasa sakit mengoyak perutku saat diurut. Jeritan meluncur tanpa bisa kucegah, karena begitu sakitnya yang kurasa, sampai tidak sadar aku memegang erat tangan suami. Mendengar teriakanku, Tamong berujar, “Tahan gawoh Pai, kanah ka waktu ngeliakhirkhko, sakikni lebih sakik lagi (Tahan saja, nanti saat melahirkan, sakitnya akan lebih hebat lagi)”
Ya Rabb, aku ikhlas jika ini adalah salah satu jalan untuk anugerah anak. Proses terapi ini kulalui selama tiga bulan berturut-turut, harus bolak-balik ke kampung setelah menstruasi. Ada trauma, namun semangatku tak padam, aku berharap keajaiban akan datang.
Sejenak, aku mencoba melupakan obsesi hamil. Bulan Ramadhan tahun 2013, aku melihat pengumuman seleksi beasiswa S2 di Kemenag. Dengan izin suami dan ibuku, aku mengikuti seleksi berkas dan tes tertulis langsung ke Semarang. Sambil menunggu hasil, aku pun mengajak suami untuk ikut seleksi beasiswa S2 juga di Kemendikbud tempatnya bekerja.
Hari yang dinanti pun tiba, namaku terdaftar sebagai penerima beasiswa S2 di Universitas Negeri Semarang! Alhamdulillah, tak lama berselang, suamiku juga dinyatakan diterima di Universitas Negeri Yogyakarta. Kebahagiaan melimpah, kami berkomitmen untuk bertemu dua minggu sekali, meskipun kami harus terpisah untuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun bersama.
Perkuliahan awal sangat melelahkan. Di tengah penyesuaian kultur dan beban tugas yang menumpuk, tiba-tiba aku merasakan hal yang tak biasa. Pusing, letih, dan ada rasa anyang-anyangan. Bulan sebelumnya, aku sempat sakit dan muntah, tapi kali ini berbeda. Teman kost yang sudah berkeluarga mengingatkanku, “Coba cek, mungkin kamu hamil.” Pagi itu, dengan hati berdebar, aku menggunakan test pack yang tersisa.
Ketika dua garis muncul, yang satu samar, kebahagiaan meluap dalam diriku. Allahu Akbar! Di kamar kost, air mata bahagia menetes, aku segera menghubungi suami di Yogyakarta, menyampaikan kabar bahagia ini. Allah mengabulkan doa kami di tengah perjuangan studi kami di Pulau Jawa. Untuk memastikan, ibu kost mengajakku kontrol ke dokter kandungan. Meskipun suami tak bisa menemaniku, pengalaman pertama mengecek kehamilan membuatku deg-degan. Hasil pemeriksaan USG, Dokter mengonfirmasi adanya kantung kehamilan, diprediksi berusia lima minggu, Alhamdulillah. Kehamilan ini kujalani sambil menyelesaikan tugas kuliah dan menghadapi rutinitas yang tak mudah, seperti perjalanan mendaki gunung untuk kuliah di dua kampus berbeda.
Setiap hari, aku berusaha menguatkan diri, meski harus berpisah dengan suami. Morning sickness yang kualami hingga lima bulan, membuatku hampir tak bisa makan. Sekadar melihat tulisan di warteg saja bisa membuatku muntah. Ditambah kehamilan ini diawal perkuliahan S2 ku yang menuntut tugas-tugas yang harus kuselesaikan dengan baik. Namun, aku tetap berusaha, meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati semua ini, yakin akan pertolongan Allah bagi penuntut Ilmu terlebih aku dalam kondisi hamil.
Bulan demi bulan berlalu, alhamdulillah aku memasuki trisemester terakhir kehamilan. Mendekati waktu persalinan semakin dekat aku dan suami memutuskan untuk melahirkan di semarang. Dengan pertimbangan masih aktif perkuliahan agar tidak menganggu studi dan menghemat biaya untuk menunda kepulangan ke Lampung. Alhamdulillah, Mamaku bersedia menemaniku di Semarang menjelang kelahiran. Salah satu bentuk kesyukuran pertolongan Allah, mama bisa menemani disaat kebingungan dan kegalauan di momen pertama melahirkan.
Di bulan Ramadhan tahun 2014, saat itu telah libur semester. Aku merasakan sakit di pinggang dan bercak darah keluar. Memang saat itu sudah lewat 2 hari dari HPL, mungkin ini adalah tanda-tanda melahirkan. Dengan bantuan teman kost dan mama, aku segera ke RS Muhammadiyah Roemani Semarang. Saat itu suami, masih di Yogyakarta karena ada perkuliahan. Di Rumah Sakit dicek ternyata masih pembukaan satu, tetapi rasa sakit yang menggerogoti tak tertahankan. Namun, di esok harinya ternyata tidak mengalami kenaikan pembukaan, akhirnya atas izin suami Dokter memberikan induksi dengan obat, agar memacu pembukaan. Alhamdulillah gelombang cinta semakin kuat yang kurasa, dan byar... ada air ketuban yang pecah. Dengan segera perawat memindahkankanku di ruang persalinan.
Tepat saat kumandang adzan di hari Jumat barokah, lahirlah bayi cantik, putih, berambut lebat. Tangisannya memenuhi ruangan, dan saat itu, rasa sakitku seolah sirna seketika. Dengan kesabaran dan perjalanan panjang Allah menganugerahiku Putri Cantik yang diberi nama Zhafira Khayla Ramadhani. Tak sampai disitu, ketika aku sedang menunggu prosesi wisuda di semarang Allah karuniakan kembali kehamilan kedua. Masya Allah, kami berdua pulang ke Lampung saat itu membawa gelar magister dan bayi kecil serta kehamilan kedua yang ada di perutku. Aku pun kembali mengabdikan diri ke Madrasah tercinta, sebagai wujud syukur atas amanah yang telah diberikan.
Buah perjuangan dan kesabaran menjadi seorang ibu telah berbuah manis dan kini aku telah dikaruniai empat buah hati: Zhafira (12 tahun), Zafran (10 tahun), Zaiba (6 tahun), dan Zaidan (3 tahun). Yakinlah dibalik ujian kesabaran ada hikmah tersembunyi dari Allah dan rahasia-Nya terbaik.
Semoga karunia keturunan yang Allah anugerahkan menjadi qurrota’ayun, membanggakan bangsa, agama, dan keluarga. Alhamdulillah, keajaiban yang kuimpikan selama ini akhirnya terwujud!
Editor: Abdul Aziz

