Foto: Ilustrasi
Oleh : Joniska Wawan Saputra
(Guru Bahas Arab MAN 1 Way Kanan)
Pendidikan modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya
persoalan sosial-emosional peserta didik di era globalisasi. Kondisi ini menuntut perubahan
orientasi pendidikan yang tidak lagi terbatas pada pencapaian akademik, tetapi juga mencakup
pembentukan karakter dan nilai moral. Dalam konteks tersebut, kurikulum berbasis cinta—
yang menekankan kasih sayang, empati, penghargaan terhadap keberagaman, serta relasi
interpersonal yang sehat—muncul sebagai inovasi pedagogis yang relevan. Pendekatan ini
sejalan dengan paradigma pendidikan humanistik yang memandang peserta didik sebagai
subjek aktif dengan kebutuhan kognitif, emosional, sosial, dan moral yang terintegrasi. Dengan
demikian, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari hasil belajar, tetapi juga dari kualitas
relasi dan iklim emosional dalam proses pembelajaran.
Secara teoretis, kurikulum berbasis cinta berakar pada pendidikan humanistik yang
dikembangkan oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers. Maslow menegaskan bahwa
pemenuhan kebutuhan emosional seperti rasa aman, cinta, dan penghargaan merupakan
prasyarat bagi aktualisasi diri peserta didik. Sementara itu, Rogers menekankan pentingnya
hubungan autentik antara guru dan siswa yang dilandasi empati, penerimaan tanpa syarat, dan
keaslian sikap. Kajian kontemporer memperkuat relevansi teori ini dengan menunjukkan
bahwa keterlibatan emosi dan interaksi positif di kelas berkontribusi signifikan terhadap
perkembangan empati, tanggung jawab moral, serta kemampuan pengambilan keputusan etis
siswa. Oleh karena itu, pendidikan berbasis cinta memiliki dasar ilmiah yang kuat dan tidak
sekadar bersifat normatif.
Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Way Kanan menunjukkan bagaimana
pendekatan humanistik dapat dioperasionalkan secara kontekstual di lingkungan madrasah.
Nilai kasih sayang dan empati diintegrasikan melalui pembelajaran humanistik di kelas,
program mentoring dan bimbingan karakter, serta kegiatan ekstrakurikuler berbasis kepedulian
sosial. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator
perkembangan emosional dan moral siswa. Kebaruan (novelty) dari praktik ini terletak pada
upaya menjadikan nilai cinta sebagai fondasi yang menjiwai seluruh aktivitas akademik dan
non-akademik, bukan sebagai mata pelajaran terpisah.
Meski demikian, penerapan kurikulum berbasis cinta menghadapi sejumlah tantangan.
Keterbatasan pelatihan guru dalam pendidikan karakter dan humanistik menjadi kendala
utama, mengingat pendekatan ini menuntut kompetensi pedagogis dan emosional yang tinggi.
Selain itu, resistensi awal siswa terhadap pembelajaran yang lebih reflektif dan partisipatif
menunjukkan adanya transisi dari paradigma konvensional menuju pendekatan humanistik.
Hambatan struktural seperti keterbatasan waktu, fasilitas, serta dukungan administratif juga
berpotensi menghambat keberlanjutan program. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan
kurikulum berbasis cinta sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan sistem
pendukung institusional.
Meskipun menghadapi kendala, dampak penerapan kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Way
Kanan menunjukkan kecenderungan positif, seperti meningkatnya empati, kepedulian sosial,
kedisiplinan internal, serta kualitas hubungan interpersonal siswa. Lingkungan belajar yang
aman secara emosional terbukti mendorong motivasi belajar, kepercayaan diri, dan keterlibatan
akademik. Sejalan dengan literatur pendidikan karakter, iklim sekolah yang suportif dan
humanis tidak hanya memperkuat perkembangan moral, tetapi juga berdampak positif pada
capaian akademik. Dengan demikian, kurikulum berbasis cinta layak dipandang sebagai model
alternatif dan komplementer bagi pengembangan pendidikan madrasah di Indonesia, sepanjang
didukung oleh pelatihan guru berkelanjutan, evaluasi sistematis, dan kebijakan pendidikan
yang adaptif.
Editor: Abdul Aziz

