Search

Kisah Inspiratif

"Malaikat Belum Datang, Bapak Sudah Azan" 

Foto: H. M. Ali


Oleh: H. M. Ali
(Ketua Pokjaluh Provinsi Lampung)

Suatu hari, dalam perjalanan tugas penyuluhan, ada peristiwa kecil yang terjadi di salah satu masjid, seorang jamaah tua mengumandangkan azan;  Selang kalimat pertama bergema " “Allahuakbar Allahuakbar...”, pas menjelang pukul 02.45 dinihari. 

Saya sempat bingung walau akhirnya saya netralisir... "ah mungkin jam dirumah mati" , bangun sambil memanggil nama anak untuk segera menyusul ke masjid. Sesampai di masjid saya lihat wajah asing sebenarnya (karena jarang terlihat di masjid),  agak heran mendekat sambil bertanya" siapa yang azan?, seingatku bapak itu... sambil berlalu, shalat tahaiyatul masjid langsung shalat fajar. 

Selesai shalat terlihat beberapa anak kecil mulai terlihat lemas menahan kantuknya, sedang disudut masjid seperti ada diskusi serius "malaikat saja belum datang, bapak sudah azan"  seru seorang bapak dengan nada seloroh agak berat. Bapak tua muadzin nengok sambil senyum, "saya azan bukan sekali dua kali , ketika azan ku tepat waktu jamaah sedikit tapi ketika azanku salah waktu malah jamaah bertambah" suasana jadi hening, kalimat nya lembut tapi memang menarik pemikiran bahkan mengajak kita bercermin.

Suasana mendadak hening. Kalimat itu tidak menyudutkan, tetapi menampar kesadaran. Yang hadir bukan merasa dipermalukan, melainkan merasa diajak bercermin.

Saya menangkap satu pelajaran penting dari peristiwa ini. Dalam kehidupan beragama, kita sering lebih sigap saat ingin mengoreksi kesalahan daripada memenuhi panggilan kebaikan. Kita cepat hadir untuk menyalahkan, namun lambat ketika diajak menunaikan kewajiban.

Padahal azan bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah panggilan iman, undangan menuju kebenaran. Ketika panggilan itu diabaikan, lalu kesalahan kecil justru dibesar-besarkan, barangkali yang perlu diperbaiki bukan hanya jam, tetapi cara kita memaknai ibadah.

Sebagai penyuluh agama Islam, peristiwa sederhana ini mengajarkan saya bahwa dakwah tidak selalu harus keras atau panjang. Kadang ia cukup hadir lewat kalimat jujur, disampaikan dengan tenang, dan tepat menyentuh hati.

Hidup harus terus bergulir dengan seimbang. Kita dituntut memahami kewajiban sebagai hamba Allah, sekaligus menjaga adab sebagai sesama manusia. Meluruskan kesalahan itu perlu, namun memenuhi panggilan kebaikan jauh lebih utama.

Dan dari azan yang dianggap terlalu cepat itu, saya belajar:

“kebenaran sering datang tepat waktu, hanya saja kita yang sering terlambat memenuhi panggilannya”.


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil