Search

Opini

Pendidikan Karakter sebagai Living Values: Praktik Holistik di Madrasah Aliyah Negeri 1 Way Kanan Lampung

Foto: Ahmad Zazili, S.Pd., M.Pd.I.


Oleh : Ahmad Zazili, S.Pd., M.Pd.I. 
(Kepala MAN 1 Way Kanan)

Pendidikan karakter di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Way Kanan Lampung merepresentasikan praktik pendidikan yang tidak lagi memosisikan karakter sebagai pelengkap kurikulum, melainkan sebagai poros utama pembentukan kepribadian peserta didik. Implementasi pendidikan karakter melalui model holistik yang melibatkan seluruh ekosistem sekolah—guru, tenaga kependidikan, siswa, serta komunitas—menunjukkan pemahaman bahwa pembentukan karakter merupakan proses sosial-kultural yang berkelanjutan, bukan sekadar transfer nilai normatif di ruang kelas. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pendidikan karakter kontemporer yang menekankan keterpaduan antara pembelajaran formal, kultur institusi, dan pengalaman sosial peserta didik.

Secara konseptual, kekuatan utama pendidikan karakter di MAN 1 Way Kanan terletak padadesain implementasinya yang berlapis dan sistemik, yakni berbasis kelas, kultur sekolah, dankomunitas. Pada tataran kelas, guru berperan sebagai agen moral yang tidak hanya mengajarkanpengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai demokrasi, tanggung jawab, dan refleksi etis melaluipembelajaran interaktif. Pada tataran kultur sekolah, nilai karakter dihidupkan melalui pembiasaan, keteladanan, serta penghargaan terhadap prestasi dan perilaku positif siswa. Sementara itu, keterlibatan komunitas memperluas ruang internalisasi nilai dengan menghadirkankonteks sosial nyata, sehingga pendidikan karakter tidak terisolasi dari dinamika kehidupan masyarakat.

Dari perspektif ilmiah, praktik ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif ketika nilai-nilai moral dihadirkan secara konsisten dalam berbagai ruang belajar—baik formal maupun informal. Faktor pendukung seperti kompetensi guru, ketersediaan sumber belajar, serta kurikulum yang responsif menjadi elemen kunci dalam memastikan keberlanjutan dan kualitas implementasi. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh intensi normatif, tetapi juga oleh kapasitas institusional dan profesionalisme pendidik dalam menerjemahkan nilai menjadi praktik pedagogis yang bermakna. 

Praktik pendidikan karakter di MAN 1 Way Kanan terletak pada integrasi karakter sebagai living values yang diinternalisasikan melalui ekosistem sekolah secara utuh, bukan melalui program terpisah atau seremonial. Pendidikan karakter dipraktikkan sebagai proses transformasi kultural, di mana nilai moral dihidupi dalam relasi sosial, pengambilan keputusan, dan interaksi sehari-hari warga sekolah. Pendekatan ini melampaui model pendidikan karakter yang bersifat deklaratif dan menawarkan alternatif berbasis pengalaman nyata (experiential character education) yang lebih adaptif terhadap tantangan moral generasi muda di era kontemporer.

Dengan demikian, pendidikan karakter di MAN 1 Way Kanan Lampung tidak hanya berorientasi pada pembentukan individu yang berakhlak mulia dan berintegritas, tetapi juga pada penciptaan lingkungan pendidikan yang mampu menumbuhkan kecakapan hidup, tanggung jawab sosial, dan kesadaran etis secara berkelanjutan. Model ini berpotensi menjadi rujukan praktik baik (best practice) bagi satuan pendidikan lain, khususnya madrasah, dalam mengembangkan pendidikan karakter yang kontekstual, sistemik, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Editor: Abdul Aziz


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil