Foto: Animasi
Oleh: Pandu Eka Saputra
Penyuluh Agama Islam Metro Timur
Sabtu, 3 Januari 2026, Kementerian Agama Kota Metro melaksanakan upacara peringatan Hari Amal
Bakti (HAB) ke-80 yang dipusatkan di MAN 1 Metro Kampus 2. Upacara berlangsung khidmat dan diikuti
oleh jajaran pegawai, pendidik, serta unsur madrasah di lingkungan Kementerian Agama Kota Metro.
Peringatan HAB ke-80 ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pengabdian dan pelayanan
kepada umat.
Usai pelaksanaan upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lomba menghias tumpeng yang
bertempat di Kantor Kementerian Agama Kota Metro. Pada kesempatan yang sama, panitia juga
mengumumkan para pemenang dari berbagai perlombaan yang telah dilaksanakan sebelumnya,
sekaligus membagikan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan kreativitas para peserta.
Dalam kegiatan tersebut hadir pula pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memperkenalkan
produk-produknya sekaligus memberikan hadiah hiburan berupa dua unit sepeda, sebuah mesin cuci,
sebuah lemari es, serta beberapa hadiah lainnya seperti mug, tumbler, dan payung. Saya termasuk
salah satu peserta yang mendapatkan nomor undian, yaitu 1447. Di sela-sela pengumuman pemenang
lomba, panitia secara bertahap mengambil nomor undian untuk menentukan penerima hadiah.
Saat itu, tentu saja kami semua—termasuk saya—memendam harapan mendapatkan hadiah besar.
Ketika hadiah kecil yang akan diundi, dalam hati saya berkata, “Semoga nomor saya tidak terpilih.”
Namun ketika hadiah besar yang disebutkan, doa pun berubah penuh harap, “Semoga nomor saya
yang terpilih.”
Satu per satu hadiah undian dibagikan. Dua unit sepeda, sebuah mesin cuci, dan beberapa hadiah kecil
telah berpindah tangan, namun belum satu pun berada di tangan saya. Saya tetap menunggu hingga
akhir dengan harapan besar. Hingga akhirnya tersisa satu hadiah utama, yaitu lemari es. Panitia mulai
mengambil nomor undian, namun sebelum nomor tersebut dibacakan, pihak BSI kembali menambahkan
empat buah tumbler sebagai hadiah tambahan. Ketika nomor undian diumumkan, ternyata yang keluar
adalah nomor saya: 1447.
Alih-alih merasa senang dan bersyukur, justru muncul rasa kecewa di dalam hati. Saya membatin,
seandainya tidak ada tumbahan tumbler, mungkin lemari es yang saya dapatkan, bukan tumbler. Meski
demikian, saya tetap melangkah ke depan untuk menerima hadiah tersebut. Beberapa saat setelah itu,
saya tersadar dan beristighfar. Tumbler tetaplah hadiah, tetap nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Di
antara banyaknya peserta yang hadir, hanya sebagian kecil yang pulang membawa hadiah, dan saya
termasuk di dalamnya.
Dari peristiwa sederhana ini, saya belajar bahwa boleh jadi selama ini kita keliru memahami nikmat dan
hakikat syukur. Dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu‘aim Al-Ashbahani,
terdapat percakapan menarik antara Ibrahim bin Adham dan muridnya, Syaqiq Al-Balkhi. Kurang lebih
dialog itu sebagai berikut:
Ibrahim bin Adham bertanya,
“Wahai Syaqiq, apa prinsip hidupmu?”
Syaqiq menjawab,
“Wahai guruku, prinsipku adalah jika aku diberi nikmat aku bersyukur, dan jika tidak diberi nikmat aku
bersabar.”
Ibrahim bin Adham berkata,
“Anjing-anjing di kota Balkh juga seperti itu. Jika diberi nikmat, mereka berterima kasih; jika tidak,
mereka hanya bersabar.”
Syaqiq pun bertanya kembali,
“Lalu bagaimana prinsip hidupmu, wahai guruku?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Jika aku diberi nikmat, aku akan itsar (mendahulukan orang lain). Dan jika aku tidak diberi nikmat, aku
tetap bersyukur.”
Sering kali kita tidak bersyukur kepada Allah bukan karena tidak mendapatkan nikmat, melainkan
karena nikmat yang Allah berikan tidak sesuai dengan keinginan kita, atau tidak sebesar nikmat yang
diterima orang lain. Padahal kesehatan adalah nikmat, waktu luang adalah nikmat, anggota tubuh yang
lengkap adalah nikmat, dan masih banyak lagi nikmat Allah yang tidak mampu kita hitung.
Maka lihatlah apa yang kita miliki, bukan semata apa yang kita inginkan. Lihatlah apa yang tersisa,
bukan hanya apa yang hilang. Pandanglah ke dalam diri kita sendiri, niscaya kita akan menemukan
begitu banyak nikmat Allah yang seharusnya kita syukuri.
Editor: Abdul Aziz

