Bandar Lampung, Kemenag (Humas) --- Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, Erwinto, menerima audiensi jajaran pengurus Bank Sampah Nusantara Nahdlatul Ulama (BSN NU) PWNU Provinsi Lampung di ruang kerjanya, Selasa (5/5/2026). Audiensi tersebut membahas penguatan kelembagaan, pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat, serta sinergi program lingkungan dengan nilai keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Rombongan pengurus dipimpin Ketua LPBI NU Lampung H. Okta Rijaya bersama Direktur BSN NU Murni Rizal, Hizbuddin Burmeli, serta jajaran pengurus lainnya. Kehadiran mereka membawa semangat kolaborasi dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan melalui wadah Bank Sampah Nusantara Nahdlatul Ulama.
Dalam kesempatan tersebut, Okta Rijaya menyampaikan bahwa pembentukan BSN NU merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran organisasi keagamaan dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, bank sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga instrumen pemberdayaan umat yang dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus menanamkan kesadaran ekologis.
Ia menjelaskan, struktur kepengurusan BSN NU PWNU Provinsi Lampung telah disusun sebagai bentuk kesiapan organisasi dalam menjalankan program secara terukur dan profesional. Dengan dukungan berbagai pihak, pihaknya berharap bank sampah ini dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung, Erwinto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan komitmen pengurus NU dalam menghadirkan program yang menyentuh langsung kebutuhan umat. Ia menilai, isu lingkungan dan pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan pendekatan kolaboratif, termasuk melalui peran lembaga keagamaan.
"Program seperti ini sangat baik karena tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga membangun kesadaran sosial, pendidikan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ini sejalan dengan semangat Kementerian Agama dalam menghadirkan kemaslahatan umat," ujar Erwinto.
Ia berharap BSN NU dapat berkembang menjadi gerakan nyata yang mampu melibatkan masyarakat secara luas, khususnya dalam membangun budaya hidup bersih, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menurutnya, keberhasilan program semacam ini sangat ditentukan oleh konsistensi pengelolaan, edukasi berkelanjutan, dan sinergi lintas sektor.
Audiensi berlangsung hangat dan produktif, sekaligus menjadi langkah awal memperkuat komunikasi kelembagaan antara Kementerian Agama dan pengurus BSN NU dalam mendukung pembangunan sosial-keagamaan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.