Bandar Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, Erwinto, menegaskan komunikasi menjadi fondasi penting dalam merawat kerukunan, memperkuat kepercayaan, dan mencegah kesalahpahaman di tengah keberagaman masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat membuka Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama dan Moderasi Beragama Katolik di Asilo Hermelink, Gedung Meneng, Bandar Lampung, Rabu (23/9/2026).
"Komunikasi yang baik membangun saling pengertian, memperkuat kepercayaan, dan mencegah kesalahpahaman. Ketika komunikasi terjaga, kerukunan akan tumbuh dan menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, serta nyaman bagi seluruh masyarakat," kata Erwinto.
Menurutnya, kerukunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Karena itu, sikap saling menghormati, memahami perbedaan, dan membangun kerja sama perlu terus diperkuat dalam kehidupan sehari-hari.
Erwinto juga mengaitkan kerukunan dengan Asta Protas Kementerian Agama 2025-2029, khususnya penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan serta ekoteologi.
Ia mengatakan, pengamalan nilai agama tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi harus tercermin dalam hubungan dengan sesama dan kepedulian terhadap lingkungan.
"Kasih kepada Tuhan harus tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama dan menjaga lingkungan. Nilai agama harus hadir dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan," ujarnya.
Ia mengajak peserta menerjemahkan nilai keagamaan melalui tindakan konkret, baik dalam menjaga persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial, maupun merawat kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, Felik Himawan, dalam laporannya mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Hubungan Antar Agama Kepercayaan (HAK) dan Kerawam Keuskupan Tanjung Karang.
Dialog bertema "Peran Rasul Awam dari Altar ke Pasar" itu diikuti tokoh dan aktivis umat Katolik dari berbagai paroki.
Felik menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan memperkuat wawasan dan kapasitas peserta agar mampu menjalankan peran pelayanan tidak hanya di lingkungan gereja, tetapi juga di tengah masyarakat.
Menurutnya, semangat "Dari Altar ke Pasar" menegaskan bahwa nilai iman perlu diwujudkan melalui keterlibatan sosial, pelayanan, serta kontribusi nyata dalam menjaga kerukunan.
Dialog dilanjutkan dengan materi pelayanan umat dan penguatan moderasi beragama dalam konteks iman Katolik. Penyelenggara berharap kegiatan ini memperkuat komunikasi, kerja sama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan di tengah masyarakat Kota Bandar Lampung.