Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-39 Pondok Pesantren Wali Songo Sukajadi yang dirangkaikan dengan Haul Akbar ke-17 Almaghfurlah K.H. Maulana Imam Syuhada menjadi momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat pendidikan keislaman, dakwah, dan pembinaan karakter umat. Kegiatan tersebut digelar melalui Pengajian Akbar di lingkungan Pondok Pesantren Wali Songo, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Minggu malam (18/1/2026).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah diwakili oleh Staf Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Supangat, S.H., didampingi Kepala KUA Kecamatan Bumi Ratu Nuban. Kehadiran perwakilan Kementerian Agama menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlangsungan dan penguatan pesantren sebagai mitra strategis pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak, moderat, dan berwawasan kebangsaan.
Pengajian Akbar ini dihadiri Pelaksana Tugas Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, S.E., M.Sos., Wali Kota Metro, H. Bambang Iman Santoso, S.Sos., M.Pd.I., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para tokoh agama, kiai, Gus dan Ning, wali santri, serta masyarakat sekitar.
Dalam Mauidhatul Hasanah, Hj. Elmi Mufidah Muzakki Syah, S.Pd.I., menekankan pentingnya menumbuhkan cinta kepada ulama sebagai sumber keberkahan ilmu dan keteladanan. Ia menyampaikan bahwa kecintaan kepada ulama bukan sekadar penghormatan personal, tetapi juga wujud menjaga mata rantai keilmuan dan nilai-nilai perjuangan Islam agar tetap hidup dan relevan di tengah dinamika zaman.
Sementara itu, K.H. Umar Syaifuddin, S.Pd., S.E., M.M., yang sekaligus memimpin pembacaan manaqib dan doa bersama. Dalam tausiyahnya, ia mengulas secara komprehensif kiprah Almaghfurlah K.H. Maulana Imam Syuhada sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo. Menurutnya, dedikasi almarhum dalam membangun pesantren tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal keagamaan, tetapi juga pembentukan akhlak, kemandirian santri, serta pengabdian kepada masyarakat.
K.H. Umar juga menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh K.H. Maulana Imam Syuhada relevan dengan semangat moderasi beragama, toleransi, dan persatuan umat, sebagaimana yang terus didorong oleh Kementerian Agama. Pesantren, lanjutnya, harus tetap menjadi ruang pembelajaran Islam yang ramah, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi kehidupan sosial.
Secara keseluruhan, kegiatan Pengajian Akbar ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga sarana penguatan nilai-nilai spiritual, historis, dan kebangsaan. Peringatan Harlah dan Haul tersebut diharapkan mampu memperkokoh peran Pondok Pesantren Wali Songo sebagai pusat kaderisasi ulama dan agen transformasi sosial di Kabupaten Lampung Tengah.
Pengajian Akbar ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar pesantren terus diberi keberkahan, istiqamah dalam dakwah, serta mampu menjawab tantangan umat dan bangsa di masa mendatang. (Ria)