Tanggamus Kemenag (Humas) -- Ketua
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tanggamus, Ismail, S.Pd.I.,
M.Pd.I., menjadi salah satu peserta dalam Webinar Internasional bertajuk “Let’s
Contributing to Peace Together Part 1”. Acara ini mengangkat
tema yang relevan dengan posisi strategis Indonesia di kancah global, yakni “Indonesia
as The World Destination for Religious Harmony: Strategies and Effort”,
dan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (tanggal
sesuai).
Webinar ini menghadirkan para pakar dan akademisi internasional yang berfokus pada isu-isu toleransi dan harmoni beragama. Dengan penuh antusias, Ismail menyatakan bahwa keikutsertaannya adalah langkah nyata untuk mendukung dan memperkaya wawasan FKUB Tanggamus dalam membangun kerukunan umat beragama. “Diskusi ini memberikan banyak inspirasi baru untuk menjaga toleransi dan kedamaian di tengah masyarakat yang multikultural,” ungkapnya.
Sebagai negara dengan keberagaman
agama yang sangat kaya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi
destinasi studi tentang toleransi dan harmoni beragama. Hal ini dibahas secara
mendalam dalam webinar, dengan fokus pada strategi inovatif yang dapat
diterapkan untuk mewujudkan visi tersebut. Ismail menilai tema ini sejalan
dengan misi FKUB di Tanggamus, yang terus berupaya menjaga hubungan baik
antarumat beragama di daerah.
“Saya merasa sangat terinspirasi
oleh ide-ide yang dibagikan dalam diskusi ini. Kami di FKUB Tanggamus akan
mencoba menerapkan pendekatan-pendekatan baru untuk memperkuat toleransi dan
membangun kolaborasi yang lebih baik antar komunitas keagamaan,” kata Ismail.
Baginya, harmoni tidak hanya penting di tingkat lokal, tetapi juga menjadi
tanggung jawab global yang memerlukan kerja sama semua pihak.
Momentum webinar ini juga menjadi
ajang bagi Ismail untuk berdiskusi dengan peserta lain dari berbagai negara.
Pengalaman dan sudut pandang yang berbeda membuat suasana diskusi semakin
dinamis dan kaya wawasan. Menurutnya, perhatian dunia terhadap Indonesia
sebagai model harmoni beragama adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
Dalam kesimpulannya, Ismail berharap bahwa Indonesia, khususnya FKUB Tanggamus, bisa menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai toleransi yang tidak hanya memberikan manfaat lokal, tetapi juga berkontribusi pada perdamaian dunia. “Kami berkomitmen untuk menjadikan harmoni beragama sebagai pondasi kokoh dalam kehidupan masyarakat. Ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga tanggung jawab besar,” pungkasnya. (Frans/Mela Basyar)