Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Penguatan tata kelola dan peningkatan kualitas layanan keagamaan menjadi fokus proyek perubahan yang diusung Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, H. Maryan Hasan, S.Ag., M.Pd.I., dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026. Melalui inovasi bertajuk SIMPUL Lampung, Maryan mendorong integrasi layanan dan penguatan kolaborasi lintas sektor guna menghadirkan pelayanan keagamaan yang lebih cepat, efektif, dan berkualitas.
Pelatihan yang berlangsung pada 4 Agustus hingga 4 Desember 2026 tersebut menjadi sarana pengembangan kompetensi kepemimpinan sekaligus penyusunan inovasi strategis untuk meningkatkan efektivitas tata kelola pemerintahan dan kualitas pelayanan publik. Rangkaian pembelajaran dilaksanakan secara daring, sedangkan tahapan ujian dijadwalkan berlangsung secara luring pada akhir pelatihan.
Melalui SIMPUL Lampung, Maryan Hasan mengembangkan konsep pelayanan keagamaan berbasis pendekatan Whole of Government, yakni penguatan koordinasi dan kolaborasi antarunit kerja serta pemangku kepentingan untuk menghadirkan pelayanan yang lebih terpadu dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Proyek perubahan tersebut bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu integrasi, kecepatan, dan kualitas. Integrasi diarahkan untuk menyelaraskan berbagai layanan dan sumber daya dalam satu sistem pelayanan. Sementara itu, aspek kecepatan menitikberatkan pada penyederhanaan proses, sedangkan kualitas diwujudkan melalui pelayanan yang profesional, responsif, transparan, dan akuntabel.
Maryan Hasan menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam PKN Tingkat II merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi tuntutan pelayanan publik yang terus berkembang.
“PKN Tingkat II ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas kepemimpinan. Apa yang dipelajari diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas, khususnya dalam meningkatkan kualitas layanan keagamaan dan menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Maryan, transformasi pelayanan keagamaan memerlukan pembenahan yang menyeluruh, mulai dari penguatan koordinasi kelembagaan hingga peningkatan kemudahan akses bagi masyarakat. Karena itu, inovasi pelayanan harus dirancang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat dan berkelanjutan.
“Penguatan layanan tidak hanya berbicara mengenai kecepatan, tetapi juga bagaimana layanan tersebut terintegrasi, mudah diakses, tepat sasaran, dan tetap mengedepankan kualitas serta kepuasan masyarakat,” tambahnya.
Penerapan pendekatan Whole of Government dalam proyek SIMPUL Lampung diharapkan dapat mengurangi sekat koordinasi antarunit kerja, memperkuat sinergi lintas sektor, serta mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efektif. Dengan demikian, penyelenggaraan layanan keagamaan dapat berjalan secara terpadu tanpa mengabaikan standar dan akuntabilitas pelayanan.
Selain menghasilkan gagasan inovasi, keikutsertaan dalam PKN Tingkat II juga menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan strategis, memperkuat kemampuan manajerial, serta mengembangkan kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan.
Proyek perubahan SIMPUL Lampung diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan dalam pelatihan kepemimpinan, tetapi dapat dikembangkan menjadi model penguatan layanan keagamaan yang berkelanjutan. Melalui koordinasi kelembagaan yang lebih terpadu dan tata kelola yang akuntabel, Kemenag Lampung Tengah berupaya meningkatkan kemudahan akses serta mutu pelayanan bagi masyarakat.
Humas Lampung Tengah