Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Daerah

Melaspas Merajan, Penyuluh Hindu Lampung Tengah Hidupkan Nilai Spiritual dan Kebersamaan Umat

Jumat, 28 Agustus 2026 Humas Lampung Tengah Editor: Aziz
Melaspas Merajan, Penyuluh Hindu Lampung Tengah Hidupkan Nilai Spiritual dan Kebersamaan Umat
Humas Lampung Tengah
Humas Lampung Tengah
Foto: Ria

Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Sebuah Merajan keluarga bukan sekadar bangunan tempat persembahyangan. Bagi umat Hindu, ruang suci tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjadi ruang bagi keluarga untuk menghormati leluhur dan meneruskan nilai-nilai keagamaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pemahaman tersebut mengemuka dalam Upacara Melaspas Merajan Keluarga salah satu umat Hindu di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Jum'at (28/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, yang sekaligus memberikan Dharma Wacana kepada umat yang hadir.

Upacara Melaspas merupakan bagian dari tradisi keagamaan Hindu yang memiliki makna penyucian dan penyelarasan tempat suci secara sekala dan niskala. Prosesi tersebut menjadi tahapan penting sebelum Merajan digunakan kembali sebagai tempat persembahyangan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya serta sebagai tempat menghaturkan bhakti kepada para leluhur.

Bagi umat, pelaksanaan Melaspas tidak berhenti pada aspek ritual. Di dalamnya terdapat pesan tentang bagaimana ruang suci keluarga dijaga, dirawat, dan dimaknai sebagai bagian dari kehidupan spiritual sehari-hari.

Dalam Dharma Wacananya, I Ketut Ginada menjelaskan bahwa Melaspas merupakan momentum untuk menghadirkan kembali kesucian dan keharmonisan tempat suci sehingga dapat difungsikan secara baik untuk kegiatan persembahyangan.

Ia juga mengajak umat memahami keberadaan Merajan Keluarga secara lebih luas. Merajan tidak hanya dipandang sebagai tempat sembahyang, tetapi menjadi ruang spiritual bagi keluarga untuk membangun hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menghormati leluhur, sekaligus menjaga kesinambungan nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga.

Makna tersebut memiliki manfaat penting bagi kehidupan umat. Ketika Merajan dipahami sebagai ruang pembinaan spiritual keluarga, keberadaannya dapat menjadi sarana menumbuhkan sraddha dan bhakti, membentuk kebiasaan beragama sejak lingkungan keluarga, serta memperkuat hubungan antargenerasi.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan kehidupan masyarakat. Keluarga tidak hanya membutuhkan ruang untuk menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga membutuhkan sarana untuk mewariskan nilai, etika, penghormatan kepada leluhur, dan tanggung jawab menjalankan dharma kepada generasi berikutnya.

Pelaksanaan upacara juga memperlihatkan kuatnya semangat menyama braya. Umat Hindu di Bandar Jaya Timur dan sekitarnya bergotong royong membantu berbagai kebutuhan selama prosesi berlangsung. Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan beragama tidak hanya dibangun melalui hubungan spiritual, tetapi juga melalui kepedulian dan solidaritas di antara sesama umat.

Bagi Penyuluh Agama Hindu, kehadiran dalam kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus menjadi ruang untuk menjalankan fungsi pembinaan. Penyuluhan tidak hanya dilakukan melalui forum formal, tetapi juga hadir di tengah kehidupan umat untuk memberikan pemahaman keagamaan yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, umat diharapkan semakin memahami nilai dan fungsi Merajan Keluarga serta mampu menjadikannya sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan spiritual keluarga. Pada saat yang sama, semangat gotong royong dalam pelaksanaan Melaspas diharapkan terus dirawat sebagai kekuatan sosial yang mempererat persaudaraan umat Hindu.

Pada akhirnya, Melaspas bukan hanya tentang menyucikan sebuah tempat. Ia juga menjadi momentum untuk menata kembali hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, keluarga, dan lingkungan sosialnya sebuah nilai yang membuat tradisi keagamaan tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat.