Bangun Rejo, KUA (Humas) — Memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti bertumbuh dan menikmati kehidupan. Justru pada fase ini, kemampuan menjaga ketenangan hati, menerima perubahan fisik, serta tetap memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bangun Rejo dalam pembinaan di Sekolah Lansia Kusuma Wijaya, Kecamatan Bangun Rejo (22/09/2026).
Pembinaan tersebut dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bangun Rejo bersama lintas sektor, di antaranya Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), PKK, dan unsur kesehatan. Kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya memberikan pembinaan yang lebih menyeluruh kepada para lansia, tidak hanya dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga ketahanan mental, spiritual, dan kehidupan sosial.
Dari KUA Kecamatan Bangun Rejo, pembinaan diberikan melalui materi keagamaan yang menjadi bekal bagi para peserta dalam menjalani masa lanjut usia dengan lebih tenang dan bermakna. Materi bertema “Terapi Syukur” disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bangun Rejo, Hj. Sri Suharni, S.Ag., M.Pd., yang sekaligus bertindak sebagai koordinator dan pemateri.
Dalam penyampaiannya, Sri Suharni mengajak para lansia melihat usia lanjut bukan semata-mata sebagai fase ketika tubuh mengalami berbagai keterbatasan, melainkan sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mensyukuri perjalanan kehidupan yang telah dilalui.
Ia menggambarkan syukur dan sabar sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya, kata dia, menjadi bekal penting untuk menjaga kebahagiaan ketika seseorang menghadapi perubahan dan keterbatasan yang datang seiring bertambahnya usia.
“Syukur dan sabar bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Bagaikan burung untuk bisa terbang harus mempunyai dua sayap. Begitu juga kita, untuk bisa bahagia harus selalu bersyukur dan bersabar,” tuturnya.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan perubahan fisik yang secara alami dialami seseorang ketika memasuki usia lanjut. Rambut yang memutih, gigi yang mulai tanggal, hingga lutut yang tidak lagi sekuat dahulu tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan semangat menjalani kehidupan.
Menurutnya, ada hal-hal yang seharusnya tidak ikut menua meskipun usia terus bertambah. Ia mengajak para lansia mempertahankan tiga hal yang tetap dapat dilakukan dalam kondisi apa pun, yakni hati yang terus berdzikir, tangan yang tetap ringan memberi, serta doa yang tidak pernah berhenti untuk anak dan cucu.
“Tiga hal yang tidak pernah tua: hati yang tak pernah tua untuk berdzikir, tangan yang tak pernah tua untuk memberi, dan doa yang tak pernah tua untuk anak cucu,” katanya.
Pembinaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendampingan bagi lansia membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Kesehatan fisik perlu berjalan bersama dengan penguatan spiritual, dukungan keluarga, serta kesempatan bagi lansia untuk tetap berperan di tengah masyarakat.
Melalui Sekolah Lansia Kusuma Wijaya, pembinaan lintas sektor diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi menjadi ruang bagi para lansia untuk terus belajar, berinteraksi, menjaga kesehatan, dan menjalani masa tua dengan lebih optimistis. Di tengah perubahan fisik yang tidak dapat dihindari, ketenangan hati, rasa syukur, dan kepedulian kepada sesama menjadi bekal untuk menjaga kehidupan tetap bermakna.
Humas Lampung Tengah