Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Daerah

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemenag Lampung Tengah Bekali Mahasiswa dengan Moderasi Beragama

Selasa, 25 Agustus 2026 Humas Lampung Tengah Editor: Aziz
Menuju Indonesia Emas 2045, Kemenag Lampung Tengah Bekali Mahasiswa dengan Moderasi Beragama
Humas Lampung Tengah
Humas Lampung Tengah
Foto: Humas Lampung Tengah

Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Menyiapkan generasi yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman menjadi bagian penting dari agenda menuju Indonesia Emas 2045. Perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi strategis untuk membekali mahasiswa tidak hanya dengan kecakapan akademik, tetapi juga cara pandang keagamaan yang moderat, terbuka, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, H. Maryan Hasan, S.Ag., M.Pd.I., saat menjadi pemateri dalam Kuliah Umum Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah, Selasa (25/8/2026). Kegiatan berlangsung di Aula STIS Darusy Syafa’ah Lampung Tengah, Kota Gajah.

Kuliah umum mengangkat tema “Nilai-Nilai Moderasi Beragama Menyongsong Generasi Emas 2045”. Kegiatan diikuti Ketua STIS Darusy Syafa’ah Lampung Tengah Dr. H. Andi Ali Akbar, M.Ag., jajaran dosen, guru, serta mahasiswa.

Dalam paparannya, Maryan Hasan menempatkan moderasi beragama sebagai salah satu bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan memahami perbedaan sekaligus tetap teguh menjalankan nilai-nilai agama.

“Moderasi beragama bukan berarti mengurangi nilai-nilai ajaran agama, tetapi bagaimana kita memahami dan mengamalkan agama dengan sikap yang seimbang, menghargai perbedaan, serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.

Ia mengatakan mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan. Pengetahuan yang diperoleh di bangku perguruan tinggi, kata dia, harus mampu diterjemahkan menjadi kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Dalam konteks kehidupan Indonesia yang dibangun atas keberagaman agama, budaya, suku, dan latar belakang sosial, mahasiswa dituntut mampu menjadi bagian dari solusi ketika muncul persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan.

Karena itu, Maryan mendorong mahasiswa STIS Darusy Syafa’ah untuk menjadikan nilai-nilai moderasi beragama sebagai bagian dari perilaku sehari-hari. Sikap adil, menghargai perbedaan, menghindari sikap berlebihan, serta mengedepankan dialog menjadi modal penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang unggul secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki karakter, integritas, dan kesadaran kebangsaan. Pendidikan menjadi salah satu instrumen penting untuk menyiapkan generasi tersebut.

“Generasi emas bukan hanya generasi yang pintar, tetapi generasi yang mampu menggunakan ilmunya untuk kebaikan, menjaga kerukunan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Selain menghadirkan Kepala Kemenag Lampung Tengah, kuliah umum tersebut juga menghadirkan Dr. Edi Susilo, M.H.I., Kepala Pusat Kajian dan Layanan Halal UIN Raden Intan Bandar Lampung. Ia menyampaikan materi bertema “Membumikan Ekosistem Produk Halal”.

Materi tersebut memperluas perspektif mahasiswa mengenai pentingnya pengembangan ekosistem halal di Indonesia. Produk halal tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi, industri, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian diperkuat dengan penandatanganan kerja sama antara STIS Darusy Syafa’ah Lampung Tengah dan Pusat Kajian dan Layanan Halal UIN Raden Intan Bandar Lampung. Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas pengembangan wawasan dan ekosistem produk halal di lingkungan perguruan tinggi.

Bagi STIS Darusy Syafa’ah, kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang penguatan kapasitas akademik sekaligus mempertemukan pengetahuan keislaman dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Kuliah umum itu pada akhirnya tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang mempertemukan pendidikan, moderasi beragama, dan penguatan ekosistem halal. Ketiganya menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar mampu membaca tantangan zaman dan mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

Melalui penguatan wawasan tersebut, mahasiswa STIS Darusy Syafa’ah diharapkan tumbuh sebagai generasi yang berilmu, berkarakter, moderat, dan produktif, serta mampu membawa nilai-nilai agama ke dalam kehidupan sosial secara damai dan konstruktif.

Dengan fondasi tersebut, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun melalui kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga melalui generasi yang mampu menjaga persatuan, kerukunan, dan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.