Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Nilai-nilai Pancasila tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan yang dihafalkan, tetapi perlu hadir dalam sikap, perilaku, dan cara generasi muda menjalani kehidupan sehari-hari. Pesan itu menjadi salah satu penekanan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, H. Maryan Hasan, S.Ag., M.Pd.I., saat menjadi Pembina Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di lingkungan LP Ma’arif NU Seputih Banyak, Kamis (1/10/2026).
Upacara yang berlangsung di halaman LP Ma’arif NU Seputih Banyak tersebut diikuti Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Lampung Tengah, dewan guru, serta peserta didik MTs dan MA di lingkungan LP Ma’arif NU Seputih Banyak.
LP Ma’arif NU Seputih Banyak menaungi sejumlah satuan pendidikan, yakni MTs Ma’arif 11, MA Ma’arif 03, SMP Ma’arif 9, SMA Ma’arif 1 Seputih Banyak, serta SD NU Seputih Banyak. Kehadiran jajaran Kemenag dalam peringatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan nilai kebangsaan dan karakter peserta didik di lingkungan madrasah.
Dalam amanatnya, Maryan Hasan mengajak para peserta upacara menjadikan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk kembali memahami kedudukan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Maryan.
Ia menilai tema Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026, “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” memiliki relevansi kuat dengan kehidupan bangsa Indonesia yang dibangun di atas keberagaman.
Indonesia, menurutnya, memiliki kekayaan dalam bentuk perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang masyarakat. Keberagaman tersebut bukan alasan untuk membangun jarak, melainkan modal sosial yang dapat menjadi kekuatan apabila dirawat dengan sikap saling menghormati dan semangat persatuan.
“Berbeda-beda adalah kenyataan, bersatu adalah kekuatan,” ujarnya.
Kepada para pelajar, Maryan menekankan bahwa pengamalan Pancasila dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan di madrasah, keluarga, maupun masyarakat.
Sila pertama, kata Maryan, dapat diwujudkan dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus menghormati pemeluk agama lain. Sementara nilai kemanusiaan dapat diterapkan melalui sikap saling menghargai dan menolak segala bentuk perundungan atau bullying.
“Jangan sampai perbedaan menjadi alasan untuk saling merendahkan. Justru dari perbedaan itu kita belajar menghargai dan memahami satu sama lain,” pesannya.
Maryan juga memberikan perhatian terhadap kehidupan pelajar di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Menurutnya, kemajuan digital harus diimbangi dengan kecakapan dalam menyaring informasi dan kedewasaan dalam berkomunikasi.
Para pelajar diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Ujaran kebencian, penghinaan, serta konten yang berpotensi memecah persaudaraan juga harus dihindari.
Lebih jauh, Maryan mengingatkan bahwa pendidikan memiliki posisi penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, disiplin, toleransi, dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
“Jadilah pelajar madrasah yang berakhlak, berprestasi, disiplin, toleran, dan cinta tanah air. Belajarlah dengan sungguh-sungguh karena masa depan bangsa berada di tangan generasi muda,” katanya.
Ia menegaskan bahwa prestasi pelajar tidak semata-mata menjadi kebanggaan pribadi maupun keluarga. Setiap capaian yang lahir dari proses belajar dan kerja keras juga merupakan bagian dari kontribusi generasi muda dalam mempersiapkan masa depan Indonesia.
Karena itu, momentum Hari Kesaktian Pancasila di lingkungan madrasah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Peringatan tersebut perlu menjadi pengingat bersama untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan toleransi, membangun karakter, serta menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.
Bagi Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, penguatan nilai kebangsaan di lingkungan pendidikan juga sejalan dengan upaya membentuk generasi yang memiliki fondasi keagamaan sekaligus kesadaran kebangsaan. Keduanya menjadi bekal penting bagi peserta didik untuk tumbuh sebagai generasi yang mampu menjaga persatuan di tengah perubahan zaman.
Upacara kemudian ditutup dengan pesan kepada seluruh peserta untuk terus belajar, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan mengamalkan Pancasila mulai dari lingkungan madrasah, keluarga, hingga masyarakat.
Humas Lampung Tengah