Bandarlampung, Tradisi yang baik dan berkembang di masyarakat serta perlu dirawat terus menerus adalah tradisi bertakziyah. Biasanya dilakukan di malam pertama seseorang meninggal sampai dengan malam ketujuh.
Setidaknya ada 3 tujuan dan hikmah yang bisa dipetik dari tradisi takziyah. Hal ini dijelaskan Kepala Kemenag Bandarlampung H Makmur saat menyampaikan tausiyah tahlil malam ketujuh Almarhumah Ibu Rosidah yang merupakan Mertua dari Kakanwil Kemenag Lampung Puji Raharjo, Selasa (30/5/2023) malam.
Pertama, hikmah takziyah menurutnya adalah mendoakan almarhum atau almarhumah yang meninggal dunia. Menurutnya, semakin banyak orang mendoakan, maka peluang untuk diterima oleh Allah semakin besar.
"Penting mendoakan bersama karena kita tidak tahu dari siapa doa akan diterima. Mari saling mendoakan," ajaknya.
Kedua, takziyah bisa menghibur keluarga yang ditinggal. Menghibur ini diwujudkan dalam bentuk kehadiran sebagai bentuk perhatian dan belasungkawa. Ditambah lagi dengan bacaan-bacaan kalimat thayyibah seperti Yasin dan doa.
"Jangan larut-larut dalam kesedihan, maka takziyah bisa menguranginya" katanya.
Balasan bagi yang bertakziyah juga tidak kalah utamanya karena ia memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Barang siapa yang memberi kebahagiaan pada orang lain maka akan dibalas pahala yang besar dari Allah.
Ketiga, takziyah bisa mengingatkan kita akan kematian. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini karena semua pasti akan menemui ajalnya. Mengutip Al-Quran surat Al-A’raf: 34, ia menjelaskan bahwa tidak ada yang tahu kapan waktu akan meninggal dunia.
"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun," katanya.
Almarhumah Ibu Rosyidah wafat pada 23 Mei 2023 di Kabupaten Lampung Utara. Takziyah malam ketujuh di kediaman Kanwil Kemenag Lampung ini dihadiri oleh Keluarga Besar Kementerian Agama Lampung dan kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung. (Muhammad Faizin).

