Oleh H.A.Jalaluddin (Kepala Kemenag Mesuji)
Bencana erupsi kerap ditempatkan sebagai kemurkaan alam yang merusak. Padahal, melalui kacamata Eko-Teologi, peremajaan gunung api adalah bagian dari tatanan presisi yang menuntut manusia untuk berpikir positif, bersahabat dengan alam, dan mengedepankan mitigasi yang nyata.
Setiap kali gunung berapi memuntahkan abu vulkanik dan melontarkan material pijar ke udara sebagaimana erupsi Anak Gunung Krakatau yang baru saja terjadi narasi yang mendominasi ruang publik hampir selalu seragam: bumi sedang murka, atau alam sedang menimpakan bencana.
Hujan abu yang bertiup melintasi Selat Sunda hingga menjangkau pemukiman warga sejauh puluhan hingga ratusan kilometer di Pesisir Lampung dan Banten membuat kita terbiasa memandang erupsi sebagai petaka yang merusak peradaban.
Namun, jika kita berani menanggalkan kacamata antroposentrisme cara pandang sempit yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta kita akan menyadari satu kebenaran yang jujur dan indah: gunung api tidak sedang merusak apa pun. Ia sedang bernapas dan menjalankan tugas mulianya meremajakan bumi.
Erupsi sebagai Tatanan Presisi (Sunnatullah)
Secara geologis maupun spiritual, erupsi adalah cara alam mendaur ulang hara mineral dari perut bumi ke permukaan. Tanpa siklus vulkanisme selama jutaan tahun, Nusantara tidak akan pernah memiliki tanah yang begitu subur.
Ini bukanlah anomali, melainkan Sunnatullah tatanan maha sempurna yang telah dirancang oleh Sang Maha Pencipta. Allah SWT berfirman : “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu...” (QS. An-Nahl: 15)
Gunung hadir sebagai regulator penyeimbang kehidupan di bumi, bukan instrumen pemusnah.
Pesan langit menjadi kian benderang ketika abu vulkanik melayang jauh hingga ratusan kilometer menerpa pemukiman yang merasa "aman" dari kawah. Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan fungsi angin (Ar-Rih) sebagai pengangkut material alam: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya...” (QS. Al-A'raf: 57)
Debu halus yang sampai ke teras rumah warga yang jauh bukanlah wujud amarah alam. Ia adalah cermin spiritual yang menyadarkan bahwa tidak ada satu pun manusia yang terisolasi dari ekosistem bumi. Semesta ini terhubung secara utuh.
Landasan Eko-Teologi: Iman dan Lingkungan
Di sinilah letak relevansi mendasar dari Eko-Teologi konsep kesadaran lingkungan berbasis keagamaan yang kini gencar dicanangkan oleh Kementerian Agama RI. Eko-teologi mengajarkan bahwa kelestarian alam dan keselamatan manusia berada dalam satu napas keimanan.
Mengagungkan Allah tidak hanya dilakukan di atas sajadah, tetapi juga melalui cara kita berinteraksi secara positif dengan alam dan memperlakukan tatanan-Nya secara bijaksana.
Sebagai konsekuensi logis dari keimanan dan pola pikir yang positif, manusia dituntut untuk merespons gejala alam ini melalui ikhtiar keselamatan yang konkret. Ketika abu vulkanik menyelimuti lingkungan, wujud kepasrahan kepada Allah (tawakal) diimplementasikan secara nyata melalui tindakan perlindungan diri dan proteksi lingkungan hidup.
Langkah ini dimulai dari disiplin menjaga diri menggunakan masker standar dan kacamata pelindung guna membentengi saluran pernapasan serta penglihatan dari bahaya silika abu vulkanik. Kedisiplinan tersebut disempurnakan dengan kesadaran untuk membatasi aktivitas di ruang terbuka semaksimal mungkin selama hujan abu berlangsung.
Pada saat yang sama, perlindungan diperluas hingga ke ranah domestik dengan menutup rapat pintu, jendela, serta fasilitas penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi material abu, disertai ikhtiar rutin membersihkan atap serta pekarangan rumah dari penumpukan debu.
Fikih Keselamatan Jiwa (Hifzhun Nafs)
Rangkaian tindakan protektif tersebut bukanlah sekadar instruksi medis atau imbauan teknis belaka, melainkan manifestasi nyata dari fikih keselamatan jiwa (Hifzhun Nafs). Rasulullah SAW secara tegas mengajarkan kita untuk mengambil langkah pencegahan bahaya sebagaimana sabdanya: "Tidak boleh berbuat mudarat (bahaya) dan tidak boleh pula membalas mudarat.” (HR. Ibn Majah)
Menjaga diri dan lingkungan saat erupsi terjadi adalah wujud penghormatan manusia terhadap hukum-hukum fisik yang telah Allah tetapkan di alam raya.
Pada akhirnya, erupsi mengajak kita memperbarui ikatan dengan Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Melalui pencerahan Eko-Teologi, kita diajak memahami bahwa bumi tidak sedang bermusuhan dengan kita.
Ketika manusia mau belajar, berpikir positif, dan berinteraksi secara bersahabat dengan alam melalui ikhtiar yang benar, peristiwa peremajaan gunung api akan senantiasa dipahami sebagai tanda kebesaran-Nyasebuah siklus kehidupan yang mendewasakan cara kita bermukim, berikhtiar, dan bertakwa di atas bumi ini.