Hijrah sering dipahami sebagai perpindahan Rasulullah saw dari Makkah menuju Madinah. Pemahaman itu tentu benar. Namun, makna hijrah sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar perpindahan geografis. Hijrah adalah perpindahan keadaan; sebuah transformasi dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kebencian menuju cinta karena Allah.
Di antara kisah hijrah yang paling menakjubkan dalam sejarah Islam adalah kisah Suraqah bin Malik. Ia bukanlah orang yang sejak awal mencintai Rasulullah saw. Sebaliknya, ia pernah berangkat dengan niat membunuh beliau. Namun justru dalam perjalanan itulah Allah membalikkan hatinya. Ia memulai langkah sebagai musuh, tetapi mengakhirinya sebagai seorang mukmin.
Peristiwa itu terjadi setelah kaum Quraisy gagal melaksanakan rencana besar mereka untuk membunuh Rasulullah saw pada malam hijrah. Rumah Nabi telah dikepung oleh para pemuda pilihan dari berbagai kabilah. Mereka yakin bahwa malam itu akan menjadi akhir dari dakwah Muhammad saw.
Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Dengan perlindungan-Nya, Rasulullah saw berhasil keluar dari kepungan tanpa terlihat oleh seorang pun. Ketika pagi tiba dan kaum Quraisy menyadari bahwa beliau telah lolos, kemarahan mereka memuncak.
Para pembesar Quraisy segera berkumpul di Darun Nadwah dan mengumumkan sebuah sayembara besar. Siapa pun yang berhasil menangkap Muhammad saw, hidup atau mati, akan memperoleh hadiah seratus ekor unta merah bermata hitam, harta paling berharga yang dapat dibayangkan oleh bangsa Arab saat itu.
Berita tersebut menyebar ke seluruh penjuru Makkah. Di antara mereka yang tergiur oleh hadiah itu adalah seorang penunggang kuda dan pelacak ulung bernama Suraqah bin Malik.
Dengan penuh keyakinan, ia mempersiapkan kudanya. Pedang diselipkan di pinggang, tombak digenggam erat, dan anak panah dibawa secukupnya. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan: menemukan Muhammad saw dan membawa pulang hadiah yang dijanjikan.
Kemampuannya sebagai pelacak membuat Suraqah tidak kesulitan menemukan jejak perjalanan Rasulullah saw bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika dari kejauhan ia melihat dua sosok yang sedang menempuh perjalanan di tengah padang pasir, ia merasa kemenangan telah berada di depan mata.
Kuda dipacunya semakin cepat. Debu beterbangan di belakangnya. Pedang siap dihunus. Namun ketika jarak semakin dekat, tiba-tiba kudanya terperosok ke dalam tanah. Kedua kaki depannya tenggelam hingga ke lutut, seolah-olah bumi menahannya. Suraqah pun terjatuh ke atas pasir.
Dengan susah payah ia membebaskan kudanya. Namun keserakahan sering kali membuat manusia sulit mengambil pelajaran. Keinginan mendapatkan seratus ekor unta masih menguasai pikirannya. Ia kembali memacu kudanya dan mencoba mendekati Rasulullah saw.
Akan tetapi, peristiwa yang lebih dahsyat kembali terjadi. Kudanya kembali terperosok, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Saat itulah kesombongan yang selama ini memenuhi dadanya mulai runtuh sedikit demi sedikit. Ia menyadari bahwa ada kekuatan besar yang sedang melindungi Muhammad saw. Tidak mungkin semua itu terjadi tanpa campur tangan Allah.
Dengan suara bergetar, Suraqah meminta pertolongan kepada Rasulullah saw.
Sungguh ironis. Orang yang datang dengan niat membunuh justru memohon perlindungan kepada orang yang hendak dibunuhnya. Namun Rasulullah saw tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Beliau tidak membalas ancaman dengan ancaman dan tidak pula membalas kebencian dengan kebencian.
Sebaliknya, beliau mendoakan keselamatan Suraqah dan membantu membebaskan kudanya.
Akhlak mulia itu mengguncang hati Suraqah. Ia belum pernah melihat manusia seperti ini. Orang yang hendak dibunuh justru menolong calon pembunuhnya. Orang yang seharusnya membenci justru menunjukkan kasih sayang.
Maka lahirlah sebuah pertanyaan yang keluar dari hati yang mulai terbuka.
“Wahai Muhammad, ceritakanlah kepadaku tentang Tuhanmu.”
Rasulullah saw pun menjelaskan tentang Allah Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak menyerupai apa pun dan tidak membutuhkan siapa pun.
Allah berfirman:
“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
Dan Allah juga berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Semakin banyak Suraqah mendengar, semakin hilang kebencian yang selama ini memenuhi hatinya.
“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
Dan Allah juga berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Semakin banyak Suraqah mendengar, semakin hilang kebencian yang selama ini memenuhi hatinya.
Seseorang yang dahulu mengejar Nabi demi seratus ekor unta, pada akhirnya memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar: iman, kemuliaan, dan sejarah yang abadi.
Kisah Suraqah sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang pengejaran Nabi pada saat hijrah. Ia adalah kisah tentang bagaimana Allah membolak-balikkan hati manusia dengan cara yang tidak pernah disangka.
Suraqah berangkat dari rumahnya dengan membawa kebencian, tetapi ia pulang dengan hati yang dipenuhi kekaguman dan penghormatan kepada orang yang sebelumnya ingin ia bunuh. Inilah hakikat hidayah. Ia mampu mengubah arah hidup seseorang dalam waktu yang sangat singkat.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa kesombongan sering kali membuat manusia merasa paling kuat dan paling mampu. Suraqah memiliki kemampuan melacak yang luar biasa, kuda yang cepat, dan pengalaman yang cukup untuk menyelesaikan misinya. Namun Allah memperlihatkan bahwa di hadapan kekuasaan-Nya, seluruh kemampuan manusia dapat berhenti dalam sekejap.
Kuda yang gagah itu tidak dikalahkan oleh pasukan, melainkan oleh segenggam tanah yang diperintahkan Allah untuk menahannya. Seolah-olah Allah hendak mengajarkan bahwa tidak ada kemenangan yang lahir dari kesombongan.
Lebih dari itu, kisah ini memperlihatkan keagungan akhlak Rasulullah saw. Beliau tidak memandang Suraqah sebagai musuh yang harus dihancurkan, melainkan sebagai manusia yang masih memiliki kesempatan untuk berubah. Beliau memilih memaafkan, menolong, dan membuka pintu dialog.
Dari sinilah kita belajar bahwa hati manusia sering kali tidak dapat ditaklukkan dengan kekuatan, tetapi dapat diluluhkan dengan kasih sayang.
Kisah ini juga mengingatkan agar kita tidak pernah berputus asa terhadap siapa pun. Bisa jadi orang yang hari ini berada di jalan yang salah, kelak menjadi pejuang kebenaran. Bisa jadi orang yang hari ini memusuhi agama, suatu saat menjadi pembela agama yang paling gigih.
Ketika orang lain hanya melihat seorang pemburu hadiah, Rasulullah saw melihat seorang calon sahabat dan calon pejuang Islam.
Karena itu, hijrah terbesar dalam hidup bukanlah berpindah tempat tinggal, jabatan, atau lingkungan. Hijrah terbesar adalah ketika hati berpindah dari kebencian menuju kasih sayang, dari kesombongan menuju ketundukan, dan dari kegelapan menuju cahaya hidayah Allah.
Kisah Suraqah bin Malik menjadi bukti bahwa tidak ada hati yang terlalu gelap untuk disinari cahaya tersebut. Selama pintu taubat masih terbuka, selama seseorang masih mau mendengar kebenaran, maka jalan menuju hidayah akan selalu tersedia.
Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, semoga hijrah tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi momentum perubahan diri. Sebab hijrah yang sejati bukan hanya perpindahan langkah, melainkan perpindahan hati menuju Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab