Di mata manusia, penampilan sering kali menjadi ukuran pertama. Wajah yang rupawan, tubuh yang tegap, harta yang melimpah, dan kedudukan yang tinggi dianggap sebagai modal utama untuk memperoleh penghormatan dan cinta. Namun, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak pernah diukur dari rupa dan kekayaannya, melainkan dari iman dan ketakwaannya. Kisah Julaibib ra adalah bukti nyata bahwa Allah mampu mengangkat seseorang yang dipandang rendah oleh manusia menjadi penghuni surga yang dimuliakan.
Julaibib adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. Ia bukan lelaki yang dikenal karena ketampanan atau kekayaannya. Tubuhnya pendek, wajahnya tidak menarik, kulitnya gelap, dan ia tidak berasal dari keluarga terpandang. Hampir tidak ada perempuan yang berharap dipersunting olehnya. Jika manusia menilai dengan mata, Julaibib mungkin tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.
Namun Rasulullah saw melihat apa yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan manusia. Beliau melihat hati yang dipenuhi keimanan, kesetiaan yang tulus, serta kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Julaibib selalu berada di barisan kaum muslimin, mengikuti perjuangan Rasulullah dalam suka maupun duka.
Suatu hari Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Wahai Julaibib, apakah engkau belum menikah?” Julaibib menjawab dengan rendah hati, “Siapakah yang mau menikah denganku, wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw kemudian mendatangi salah seorang sahabat Anshar untuk melamar putrinya bagi Julaibib.
Mendengar lamaran itu, sang ayah merasa terkejut. Ia berharap putrinya dipinang oleh lelaki yang tampan, terpandang, dan berkecukupan. Ia berkata, “Kami akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan ibunya.”
Sang ibu pun tidak kalah terkejut. Baginya, Julaibib bukanlah sosok yang pantas menjadi menantu. Percakapan itu didengar oleh putri mereka. Dengan penuh keimanan ia berkata,
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah saw? Jika beliau telah meridhainya untukku, maka nikahkanlah aku dengannya. Demi Allah, Rasulullah tidak akan menyia-nyiakan pilihannya.”
Ucapan itu seakan membuka mata kedua orang tuanya. Mereka pun menerima lamaran Rasulullah saw, lalu menikahkan putri mereka dengan Julaibib.
Rumah tangga itu tidak dibangun karena ketampanan, bukan pula karena kekayaan, melainkan karena iman dan ketaatan kepada Allah serta Rasul-Nya.
Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Belum sempat mereka menikmati indahnya kehidupan sebagai pasangan suami istri, panggilan jihad telah berkumandang. Rasulullah saw mengajak kaum muslimin menghadapi musuh.
Julaibib tidak berkata, “Aku baru saja menikah.” Ia tidak menjadikan cinta sebagai alasan untuk meninggalkan panggilan Allah. Ia sadar bahwa cinta kepada pasangan adalah anugerah, tetapi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus berada di atas segalanya.
Dengan penuh keyakinan ia berangkat bersama pasukan kaum muslimin. Pertempuran pun terjadi dengan sengit.
Setelah perang usai, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menyebutkan beberapa nama.
Rasulullah saw kembali bersabda, “Tetapi aku kehilangan Julaibib.” Beliau kemudian mencari sendiri sahabat yang dicintainya itu. Tidak lama kemudian, Julaibib ditemukan telah gugur sebagai syahid. Di sekelilingnya terdapat beberapa orang musuh yang berhasil ia tumbangkan sebelum akhirnya ia sendiri syahid.
Melihat keadaan itu, Rasulullah saw berdiri di dekat jasadnya. Dengan penuh kasih sayang beliau mengangkat tubuh Julaibib dan bersabda, “Ia telah membunuh tujuh orang, kemudian mereka membunuhnya. Dia bagian dariku dan aku bagian darinya.” (HR. Muslim). Beliau mengulang kalimat itu beberapa kali.
Kemudian Rasulullah saw sendiri yang mengurus jenazahnya. Tidak ada kemuliaan yang lebih agung bagi seorang sahabat selain mendapatkan penghormatan langsung dari manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi.
Julaibib mungkin tidak dikenal karena wajahnya. Ia tidak dikenang karena hartanya. Namun namanya tetap hidup hingga hari ini karena iman, pengorbanan, dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kisah ini mengajarkan bahwa cinta yang sejati bukanlah cinta yang menjauhkan seseorang dari ketaatan, tetapi cinta yang justru mengantarkannya menuju surga. Pernikahan bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk saling menguatkan dalam kebaikan. Julaibib baru saja merasakan kebahagiaan sebagai seorang suami ketika panggilan jihad datang. Ia tidak menunda kewajiban demi mengejar kenikmatan dunia. Ia memilih memenuhi panggilan Allah, dan Allah menggantinya dengan kemuliaan yang kekal.
Di zaman sekarang, ukuran memilih pasangan sering kali ditentukan oleh penampilan, kekayaan, jabatan, atau popularitas. Media sosial bahkan memperkuat kecenderungan itu. Padahal, semua itu dapat pudar seiring waktu. Yang akan tetap bertahan adalah akhlak, iman, dan ketakwaan. Kisah Julaibib mengingatkan kita agar tidak menjadikan rupa sebagai ukuran utama, sebab boleh jadi seseorang yang dipandang biasa oleh manusia justru sangat mulia di sisi Allah.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi mulia. Tidak ada seorang pun yang terhalang meraih derajat tinggi hanya karena kekurangan fisik, status sosial, atau keadaan ekonomi. Allah tidak memandang bentuk tubuh dan wajah, tetapi memandang hati dan amal seseorang.
Lebih dari itu, Julaibib memperlihatkan kepada kita arti pengorbanan yang sesungguhnya. Ia tidak memiliki banyak harta untuk disedekahkan, tidak pula jabatan yang membuatnya dikenang. Yang ia miliki hanyalah iman, keberanian, dan kesetiaan kepada Rasulullah saw. Itulah bekal yang mengantarkannya kepada kemuliaan. Maka jangan pernah berkecil hati dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Selama hati tetap terpaut kepada Allah, tidak ada penghalang untuk meraih surga.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya pandai mencintai sesama manusia, tetapi juga mampu menjadikan cinta itu sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Sebab cinta yang dibangun di atas iman tidak akan berakhir di dunia, melainkan akan mengantarkan pemiliknya menuju surga yang abadi. (*)
Wallahu’alam