Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Kisah Inspiratif

Ketika Nikmat Tak Lagi Menghadirkan Bahagia

Jumat, 04 September 2026 Fadilah
Ketika Nikmat Tak Lagi Menghadirkan Bahagia
Fadilah
Fadilah
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nikmat diartikan sebagai sesuatu yang enak, lezat, memberi rasa puas dan senang. Nikmat juga dimaknai sebagai pemberian atau karunia. Maka secara utuh, kita bisa memahami bahwa nikmat adalah segala bentuk anugerah dari Allah—baik yang bersifat materi maupun non-materi—yang menghadirkan rasa nyaman, kepuasan, dan kebahagiaan dalam hidup manusia.

Namun nikmat tidak berhenti pada sekadar “diberikan”. Ia memiliki satu syarat agar tetap terasa: disyukuri. Ketika nikmat dijaga dengan rasa syukur, ia tidak hanya bertahan, tetapi juga menghadirkan kepuasan yang lebih dalam dan berkelanjutan. Allah mengisyaratkan bahwa karunia-Nya akan terus diberikan hingga membuat hamba-Nya merasa cukup dan ridha: “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuha: 5).

Pertanyaannya, seberapa sering kita benar-benar menyadari bahwa setiap saat kita sedang menerima nikmat dari Allah? Atau seberapa sering kita justru tidak merasakan kebahagiaan, meskipun nikmat itu jelas-jelas ada dalam hidup kita…?

Jawabannya bisa beragam. Namun satu hal yang sering terjadi adalah cara pandang kita yang sempit terhadap makna nikmat itu sendiri.

Kita sering menganggap bahwa nikmat hanya berupa materi: uang, harta, rumah, kendaraan, jabatan, dan segala sesuatu yang terlihat. Ketika kita mendapatkan itu, kita merasa bahagia. Namun ketika tidak, kita merasa kurang. Akibatnya, kebahagiaan kita menjadi sangat tergantung pada sesuatu yang terbatas.

Cara pandang seperti ini perlahan membuat kita lupa pada hakikat nikmat yang sesungguhnya. Kita menjadi kurang peka terhadap nikmat yang tidak terlihat, bahkan seringkali lebih besar nilainya. Lebih jauh lagi, kita bisa terjatuh pada sikap tidak bersyukur, bahkan tanpa sadar mengingkari nikmat Allah yang begitu luas.

Padahal Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi juga peringatan agar kita tidak salah dalam memaknai hidup. Bahwa kehilangan rasa syukur bukan hanya menghilangkan kebahagiaan, tetapi juga bisa mendatangkan konsekuensi yang lebih berat.

Jika kita mau jujur, sebenarnya nikmat Allah jauh lebih luas dari sekadar materi. Kita diberi kesehatan, yang memungkinkan kita bergerak, bekerja, dan beribadah. Kita diberi waktu, yang menjadi ruang untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada-Nya. Kita diberi ketenangan sesaat, kesempatan hidup, keluarga, bahkan kemampuan untuk berpikir dan merasakan.

Namun justru nikmat-nikmat inilah yang sering kita abaikan. Rasulullah saw telah mengingatkan: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Hadis ini begitu dalam maknanya. Kita sering baru menyadari pentingnya kesehatan ketika sakit datang. Kita baru menghargai waktu ketika ia telah berlalu. Selama keduanya masih ada, kita menganggapnya biasa. Padahal di situlah letak nikmat yang luar biasa.

Kelalaian terhadap nikmat non-materi inilah yang sering membuat hidup terasa kosong, meskipun secara materi terlihat cukup. Kita memiliki banyak hal, tetapi tidak benar-benar merasakannya. Kita menerima nikmat, tetapi tidak menghadirkan kebahagiaan.

Maka di sinilah kita perlu meluruskan kembali arah hidup. Nikmat seharusnya tidak menjauhkan kita dari Allah, tetapi justru mendekatkan. Nikmat bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk disadari, disyukuri, dan dijadikan jalan untuk semakin mengenal Pemberinya.

Ketika nikmat membawa kita lebih dekat kepada Allah, di situlah ia berubah menjadi nikmat yang sejati—yang tidak hanya membahagiakan secara lahir, tetapi juga menenangkan batin.

Dan pada akhirnya, nikmat yang paling besar bukanlah apa yang kita miliki, tetapi dengan siapa kita dekat. Allah menggambarkan orang-orang yang benar-benar mendapatkan karunia besar itu: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Nya), maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69).

Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat tertinggi bukan sekadar harta atau kenyamanan hidup, tetapi kedekatan dengan Allah dan kebersamaan dengan orang-orang yang diridhai-Nya.

Maka ketika kita merasa nikmat tidak lagi menghadirkan bahagia, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan jumlah nikmatnya—tetapi cara kita memandang dan mensyukurinya. Karena bisa jadi, bukan nikmat itu yang kurang, tetapi hati kita yang belum cukup dekat dengan Tuhan.