Way Kanan, Kemenag (Humas) - - Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Provinsi Lampung, M. Ali, menjadi narasumber dalam program “Mutiara Pagi” RRI Stasiun Produksi Way Kanan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025. Mengangkat tema “Refleksi Hari Santri: Kehidupan dan Tanggung Jawab Agama di Pundak Kita”, dialog berlangsung selama 45 menit dan disiarkan langsung mulai pukul 05.15 hingga 06.00 WIB.
Dalam
dialog tersebut, M. Ali menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar seremoni
tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat kesadaran spiritual dan tanggung
jawab sosial umat, khususnya para santri dan penyuluh agama. Ia mengajak
seluruh elemen masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan di tengah
dinamika sosial yang terus berkembang.
"Menjadi
santri bukan hanya status, tetapi kesadaran untuk menjaga cahaya agama tetap
hidup dalam kehidupan. Tanggung jawab keagamaan kini ada di pundak kita semua,
baik di pesantren maupun di ruang sosial dan kebangsaan," tegasnya.
M.
Ali juga memaparkan refleksi Hari Santri dari tiga sudut pandang: spiritual,
sosial, dan nasional. Secara spiritual, santri dinilai sebagai penjaga nilai
ibadah dan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Secara sosial,
ilmu yang dimiliki santri harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sedangkan secara nasional, santri adalah bagian dari sejarah perjuangan
kemerdekaan yang harus terus menjaga bangsa dengan ilmu, akhlak, dan
keteladanan.
“Santri
masa kini harus hadir sebagai agen perubahan yang meneduhkan, bukan menghakimi;
mengajak, bukan mengejek. Sebab dakwah yang menyentuh adalah dakwah yang
membawa kesejukan,” lanjutnya.
Menutup
dialog, M. Ali menyampaikan bahwa semangat santri kini melekat pada para
penyuluh agama yang tersebar hingga ke pelosok negeri. Menurutnya, penyuluh
agama adalah santri masa kini yang mengemban misi dakwah, menjaga persaudaraan
dalam kebinekaan, dan menanamkan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.
Program “Mutiara Pagi” RRI SP Way Kanan sendiri menjadi ruang inspiratif yang konsisten menghadirkan tokoh-tokoh keagamaan dan sosial untuk menyuarakan nilai-nilai kebaikan. Kehadiran Ketua Pokjaluh Lampung kali ini menjadi penegas bahwa semangat santri harus terus dihidupkan, terutama oleh para penyuluh agama di Bumi Lampung. (Humas)
Editor : Fadilah