Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Dialog Kerukunan Umat Buddha, Plt Kakanwil Erwinto: Persatuan dalam Kebhinekaan adalah Anugerah Bangsa

Rabu, 16 April 2025 Melawati Basyar
Dialog Kerukunan Umat Buddha, Plt Kakanwil Erwinto: Persatuan dalam Kebhinekaan adalah Anugerah Bangsa
Melawati Basyar
Melawati Basyar

Lampung, Kanwil Kemenag (Humas) --- Kerukunan umat beragama menjadi fondasi utama dalam merawat keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Erwinto, dalam pembukaan kegiatan Dialog Kerukunan Umat Buddha se-Provinsi Lampung, Rabu (16/4/2025), di Aula Saibatin Bandar Lampung.

Kegiatan yang mengusung tema "Berkumpul Bersama adalah Berkah Mulia" ini dihadiri Pembimas Buddha Sariyono dan diikuti 70 peserta dari unsur majelis, lembaga keagamaan, serta tokoh masyarakat Buddha se-Provinsi Lampung. Dialog ini juga menghadirkan narasumber dari Sekretariat Wilayah SANGHA Agung Indonesia Provinsi Lampung dan praktisi kerukunan umat beragama.

Dalam sambutannya, Erwinto menekankan bahwa Indonesia sebagai negara besar memiliki kekayaan suku, bangsa, dan agama yang harus dijaga dalam bingkai persatuan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan, mengingat banyak pihak yang berupaya memecah belah melalui isu SARA, termasuk di media sosial.

“Kalau kita lihat, negara ini begitu besar. Dari Papua hingga Aceh, bisa memakan waktu sembilan jam penerbangan. Di satu sisi, bangsa Arab satu suku, satu bangsa, tapi terpecah menjadi banyak negara. Indonesia justru sebaliknya—bersuku-suku, berbangsa-bangsa, namun tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Erwinto.

Ia mengajak seluruh umat beragama, khususnya umat Buddha dalam kesempatan ini, untuk menjaga relasi harmonis baik secara internal maupun eksternal. “Kita perlu memperkuat kerukunan antarumat beragama, antarumat seagama, serta antara umat dengan pemerintah. Tiga pilar ini adalah nilai utama dalam konsep moderasi beragama,” lanjutnya.

Erwinto juga menyinggung pentingnya dialog internal umat Buddha, mengingat adanya beragam majelis dan organisasi di dalamnya. Menurutnya, perbedaan itu adalah keniscayaan yang harus dijembatani dengan komunikasi dan sikap saling memahami.

“Kita berharap menjelang Waisak tahun ini, umat Buddha di Lampung dapat mengisinya dengan kegiatan-kegiatan kebajikan, tanpa melihat latar belakang kelompok atau majelis. Pemerintah hadir untuk melindungi keyakinan setiap pemeluk agama, namun yang paling penting, keyakinan itu tidak boleh dipaksakan atau mengganggu keyakinan pihak lain,” ujar Erwinto.

Dialog ditutup dengan ajakan untuk memperkuat moderasi beragama demi Indonesia yang damai dan rukun. “Semoga dari ruang ini lahir komitmen bersama menjaga kedamaian, menyambut Waisak dengan hati yang terang dan pikiran yang jernih,” tutup Erwinto.

Berdasarkan laporan ketua panitia kegiatan Selamet Riyadi, disampaikan bahwa dasar pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada sejumlah regulasi, antara lain Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 2015 tentang pembentukan Forum Koordinasi Penanganan Masalah Kerukunan Umat Beragama dan Keputusan Dirjen Bimas Buddha Nomor 146 Tahun 2022 tentang petunjuk teknis dialog kerukunan internal umat beragama.

Menurutnya kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keharmonisan, mempererat kebersamaan, serta merumuskan kesepahaman umat Buddha menjelang Hari Raya Waisak 2569 BE Tahun 2025. Selain itu, forum ini diharapkan dapat menjadi ruang pemecahan persoalan aktual yang muncul di tengah keberagaman umat Buddha di Lampung. (Mela Basyar/baihaqi)