Lampung (Humas) --- Krisis nilai dan pergeseran budaya yang terjadi di era digital menuntut gereja untuk tidak hanya hadir sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pelopor moral di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, Enneri Gultom, dalam Sidang Raya ke-4 Sinode Gereja Kristen Tritunggal (GKT) Lampung, Jumat (25/7/2025) di Hotel Akar, Bandar Lampung.
“Di tengah derasnya arus digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan orientasi hidup yang semakin individualistik serta materialistis, gereja tidak boleh kehilangan jati dirinya. Gereja harus tampil sebagai pelopor moral dan penjaga nilai-nilai kebenaran,” ujar Enneri Gultom di hadapan para peserta sidang sinode.
Sidang Raya ini mengangkat tema “Bijak Dalam Kebaikan, Hidup Kudus Sesuai Firman-Nya Bagi Kemuliaan Allah”, merujuk pada Roma 16:19, Mazmur 78:6–7, dan 1 Korintus 10:31. Tema tersebut dianggap relevan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh godaan.
Menurut Enneri, gereja harus mampu bersikap adaptif, tetapi tidak kompromistis. “Gereja harus peka terhadap perubahan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kekudusan dan kebaikan yang bersumber dari Firman Tuhan,” katanya.
Enneri menekankan bahwa Kementerian Agama akan terus mendorong terciptanya kehidupan gereja yang kondusif, dinamis, dan kontekstual. Dalam konteks otonomi daerah dan perubahan pola pikir masyarakat, gereja dituntut untuk lebih terbuka dan mampu bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan denominasi lainnya.
“Sinergi sangat penting. Gereja harus mampu menjadi bagian dari solusi, baik dalam persoalan sosial, budaya, maupun pendidikan moral generasi muda,” ujarnya.
Sidang Raya ke-4 ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, seperti Badan Pekerja Majelis Sinode GKT Lampung periode 2022–2025, para pendeta, pimpinan jemaat, pengurus YPKM Trinitas, serta perwakilan PGIW dan PGTI Wilayah Lampung.
Melalui sidang ini, Enneri Gultom berharap GKT Lampung dapat merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperkuat kepengurusan, memperluas dampak sosial gereja, dan menjawab tantangan zaman secara tepat.
“Sidang ini bukan hanya forum diskusi, tapi titik tolak untuk gereja bertumbuh lebih dewasa, baik dalam iman maupun dalam peran sosial. Gereja harus menjadi pelita di tengah dunia yang sedang kehilangan arah moral,” tegasnya.
"Dengan semangat hidup kudus dan bijak dalam kebaikan, Sidang Raya Sinode GKT Lampung diharapkan mampu memperkuat posisi gereja sebagai penjaga nilai, penyalur kasih, dan pembawa damai di tengah masyarakat yang semakin plural dan kompleks," tandasnya.
Dalam sesi ibadah, Pdt. Steven Tan menyampaikan bahwa arah dan keputusan gereja harus senantiasa mengacu pada Firman Tuhan. Ia menekankan pentingnya integritas, kesalehan, dan motivasi yang murni demi kemuliaan Allah.
“Kebijakan gereja harus membangun, bukan hanya mengatur. Kita harus melibatkan Roh Kudus dalam setiap diskusi dan mengambil keputusan yang tidak sekadar administratif, tetapi transformatif,” ujar Steven.
Ia juga mengajak seluruh pelayan Tuhan untuk tidak takut mengevaluasi tradisi-tradisi lama yang tidak lagi relevan dengan Firman, serta mengembangkan kepemimpinan gereja yang mampu menjawab kebutuhan zaman.(Anggithya/Abdul Aziz)