Lampung (Humas) --- Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Jumadi, menjadi narasumber dalam program Mimbar Agama Hindu yang disiarkan oleh RRI Bandar Lampung pada Minggu, 16 Maret 2025. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema Manawa Seva, Madawa Seva Menuju Indonesia Emas 2045, dengan menekankan makna Tahun Baru Saka sebagai momentum kebangkitan spiritual, persatuan, dan toleransi.
Dalam paparannya, Jumadi menjelaskan bahwa sejarah Tahun Baru Saka berakar pada dinamika sosial yang terjadi di India pada awal abad Masehi. Konflik berkepanjangan antar suku, seperti Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana, dan Malaya, menyebabkan instabilitas dalam kehidupan beragama. Keadaan ini berubah ketika Raja Kaniskha I dari Suku Saka berhasil menyatukan berbagai suku tersebut dan menata ulang kehidupan sosial, termasuk dalam aspek keagamaan.
“Penetapan tahun 78 Masehi sebagai awal Kalender Saka oleh Raja Kaniskha I menjadi tonggak penting dalam sejarah. Sejak saat itu, perayaan pergantian tahun dilaksanakan dengan ritual Nyepi yang menekankan introspeksi diri dan keseimbangan hidup,” ujar Jumadi.
Ia menambahkan bahwa peringatan Tahun Baru Saka yang dilestarikan di Indonesia melalui rangkaian Hari Suci Nyepi mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi. Prosesi Nyepi diawali dengan Upacara Melasti yang bertujuan menyucikan bhuana alit (diri manusia) dan bhuana agung (alam semesta) melalui air suci. Kemudian, dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesanga yang dilakukan di perempatan desa sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan makhluk lainnya.
“Hari Nyepi sendiri ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan). Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada umat Hindu untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kualitas spiritual,” jelasnya.
Jumadi juga menekankan bahwa setelah Nyepi, umat Hindu melaksanakan Ngembak Geni sebagai momen untuk kembali beraktivitas dengan semangat baru. Dalam prosesi ini, umat Hindu melakukan Dharma Santi, yaitu saling bermaafan dan mempererat hubungan sosial dalam bingkai harmoni dan kedamaian.
Lebih lanjut, Jumadi menghubungkan pelaksanaan Hari Suci Nyepi dengan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Menurutnya, implementasi nilai-nilai ini sangat relevan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang harmonis dan sejahtera.
Menutup sesi, Jumadi membagikan sebuah kisah inspiratif tentang seorang anak yang merasa kecewa melihat perilaku jamaah di pura. Namun, melalui nasihat bijak sang ayah, anak tersebut menyadari bahwa fokus utama dalam beribadah adalah pada diri sendiri, bukan pada perilaku orang lain. “Inti dari cerita ini adalah bahwa dalam beragama, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang dapat mengalihkan fokus kita dari Sang Hyang Widhi,” pungkasnya.
Acara Mimbar Agama Hindu ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan inspirasi bagi umat Hindu dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat komitmen menuju Indonesia Emas 2045 yang penuh dengan toleransi dan kebersamaan.(Anggithya)