Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kakanwil Kemenag Lampung: Tiga Pilar Deep Learning Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Madrasah

Sabtu, 25 Juli 2026 Anggithya
Kakanwil Kemenag Lampung: Tiga Pilar Deep Learning Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Madrasah
Anggithya
Anggithya
Foto: Aziz

Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Lampung, Zulkarnain, menegaskan bahwa penerapan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Pendekatan ini dibangun di atas tiga pilar utama, yakni Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran), Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna), dan Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan).

Hal tersebut disampaikan Zulkarnain saat membuka kegiatan Bedah Capaian Pembelajaran (CP) dan Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Berbasis Cinta yang diselenggarakan Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) Provinsi Lampung di Aula MTs Negeri 2 Bandar Lampung, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Zulkarnain, pembelajaran saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi harus mampu membentuk karakter, mengembangkan potensi, dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

"Pembelajaran tidak cukup hanya membuat anak pintar secara akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana pembelajaran mampu membentuk karakter dan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan," ujarnya.

Ia menjelaskan, pilar pertama yakni Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran) menekankan pentingnya membangun kesadaran peserta didik terhadap proses belajar. Guru didorong membuka wawasan siswa dengan menjelaskan manfaat setiap materi bagi kehidupan mereka di masa depan sehingga pembelajaran tidak sekadar menjadi rutinitas di ruang kelas.

"Jangan hanya mengajarkan materi. Anak-anak harus memahami mengapa mereka mempelajari pelajaran itu dan bagaimana manfaatnya ketika mereka terjun ke masyarakat maupun dunia kerja," kata Zulkarnain.

Sementara itu, Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna) mengarahkan guru menghubungkan materi dengan kehidupan nyata peserta didik. Dengan demikian, siswa tidak sekadar menghafal konsep, tetapi memahami tujuan, nilai, serta penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Zulkarnain, pendekatan tersebut akan membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, serta membangun karakter yang kuat.

Adapun Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan) menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, positif, dan menyenangkan. Guru didorong menggunakan metode pembelajaran yang kreatif sehingga peserta didik lebih aktif, berani menyampaikan ide, dan menikmati proses belajar.

"Setiap anak memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Karena itu guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sehingga semua anak dapat berkembang sesuai bakat dan minatnya," ujarnya.

Zulkarnain menambahkan, penerapan ketiga pilar tersebut sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang lebih luas kepada guru untuk berinovasi dalam pembelajaran. Namun, kebebasan tersebut tetap harus mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) agar mutu pendidikan memiliki standar yang jelas.

Menurutnya, CP menjadi pedoman bagi guru dalam merancang proses pembelajaran sehingga inovasi yang dilakukan tetap terarah dan menghasilkan kualitas pendidikan yang merata di setiap madrasah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk akhlak, empati, kepedulian, serta sikap saling menghargai.

"Kita ingin madrasah melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, memiliki akhlak yang baik, dan mampu hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat kepada sesama," katanya.

Zulkarnain juga mengapresiasi kegiatan yang digelar KKMTs Provinsi Lampung sebagai ruang kolaborasi bagi kepala madrasah dan guru untuk berbagi praktik baik, menyamakan persepsi, serta menyusun strategi peningkatan mutu pembelajaran.

"Guru yang memahami capaian pembelajaran dengan baik akan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di madrasah," tuturnya.

Sementara itu, Ketua KKMTs Provinsi Lampung, Nasron, melaporkan bahwa kegiatan Bedah Capaian Pembelajaran dan Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Berbasis Cinta diikuti sebanyak 82 peserta, terdiri atas 27 kepala MTs, 27 wakil kepala madrasah, dan 28 guru dari berbagai Madrasah Tsanawiyah di Provinsi Lampung.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kompetensi kepala madrasah dan guru dalam memahami analisis capaian pembelajaran serta mengimplementasikan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) pada Tahun Ajaran 2026/2027, sehingga kualitas pendidikan madrasah di Lampung semakin meningkat. (Humas)