Metro, Kemenag Lampung (Humas) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, menegaskan bahwa kerukunan umat beragama tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan memahami perbedaan dan menjaga hati agar tidak dikuasai prasangka. Pesan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja dan pengarahan ASN di Kantor Kementerian Agama Kota Metro.
Dalam sambutannya, Zulkarnain mengingatkan bahwa konflik sosial kerap bermula dari sikap saling mencurigai dan menilai orang lain tanpa dasar. Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang prasangka buruk karena sebagian prasangka merupakan dosa.
“Kerukunan harus dimulai dari menjaga hati dan lisan. Jangan sampai perbedaan justru melahirkan saling menyakiti,” ujarnya.
Zulkarnain menegaskan bahwa seluruh agama mengajarkan nilai kasih, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia menyebut ajaran kasih dalam agama Kristen, prinsip metta dalam Buddha, serta kebajikan universal dalam Khonghucu sebagai fondasi bersama bagi kehidupan yang damai.
Menurut dia, persoalan muncul ketika ajaran agama dipahami secara sempit dan emosional. Padahal, perbedaan pandangan keagamaan, termasuk dalam praktik ibadah, seharusnya disikapi dengan saling menghormati, bukan saling menyalahkan atau menyesatkan.
Ia juga mencontohkan teladan Nabi Muhammad SAW yang berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi. Peristiwa tersebut, kata Zulkarnain, menunjukkan bahwa kemanusiaan melampaui sekat agama, suku, dan bangsa.
Selain kerukunan antarumat beragama, Zulkarnain menyoroti keterkaitan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menilai berbagai bencana alam seperti banjir dan longsor merupakan peringatan atas rusaknya keseimbangan alam akibat ulah manusia. Karena itu, ia mendorong penguatan ekoteologi melalui gerakan penghijauan, termasuk program penanaman satu juta pohon yang diinisiasi Kementerian Agama.
“Merawat alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Metro Abdul Haris melaporkan bahwa secara umum kondisi pelayanan keagamaan di Kota Metro berjalan dengan baik. Stabilitas kerukunan umat beragama terjaga, serta sinergi antara Kemenag, pemerintah daerah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan berlangsung harmonis.
Ia menyampaikan bahwa Kemenag Kota Metro terus memfokuskan program pada peningkatan mutu pendidikan madrasah, penguatan layanan pendidikan agama dan keagamaan, pengarusutamaan moderasi beragama, serta transformasi digital layanan publik.
“Sejumlah prestasi juga berhasil diraih sepanjang 2025, mulai dari Juara 1 Nasional Lomba Video Kreatif Guru PAI, prestasi MTQ tingkat nasional dan provinsi, Penghargaan Penyuluh, hingga raihan medali emas dan perak Olimpiade Madrasah Indonesia tingkat nasional,” ungkapnya. (Mela Basyar)