Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kakanwil Zulkarnain Gaungkan Wasathiyah di Forum Transformasi Ideologi Densus 88

Kamis, 03 September 2026 Anggithya Editor: Anggithya
Kakanwil Zulkarnain Gaungkan Wasathiyah di Forum Transformasi Ideologi Densus 88
Anggithya
Anggithya
Foto: Aziz

Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung Zulkarnain mengajak masyarakat memperkuat wasathiyah sebagai cara menjalankan kehidupan beragama secara seimbang di tengah keberagaman Indonesia. Sikap moderat, menurut dia, penting untuk menjaga persatuan dan menjadikan agama sebagai sumber kedamaian bagi kehidupan bersama. Pesan itu disampaikan Zulkarnain dalam kegiatan “Transformasi Ideologi Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” yang diselenggarakan Densus 88 Antiteror Polri Satgas Wilayah Lampung di Hotel Horison Bandar Lampung, Kamis (3/9/2026).

Zulkarnain mengatakan, Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin. Karena itu, nilai-nilai keislaman semestinya tercermin dalam perilaku yang memberikan kemaslahatan, menjaga kedamaian, dan menghormati sesama.

Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tidak mudah menghakimi perbedaan, serta menjauhkan diri dari kekerasan.

“Indonesia ini rumah kita bersama,” kata Zulkarnain.

Menurut dia, menjaga Indonesia sebagai rumah bersama membutuhkan cara pandang keagamaan yang seimbang. Dalam Islam, prinsip tersebut dikenal dengan wasathiyah.

“Wasathiyah itu adalah pertengahan, tidak berlebihan dan tidak terkurang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberagamaan yang berlebihan dapat mendorong munculnya sikap eksklusif dan anggapan bahwa hanya kelompok sendiri yang paling benar. Sikap semacam itu berpotensi menciptakan jarak dengan kelompok lain.

Sebaliknya, keberagamaan yang terlalu longgar juga dapat membuat seseorang kehilangan pijakan terhadap nilai-nilai agama. Karena itu, wasathiyah diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara keteguhan menjalankan ajaran agama dan kemampuan hidup berdampingan dengan orang lain.


Zulkarnain menegaskan, moderasi beragama bukan berarti mengurangi ajaran agama ataupun mencampuradukkan keyakinan. Moderasi berkaitan dengan cara memahami dan menjalankan ajaran agama secara proporsional dalam kehidupan masyarakat yang beragam.

Prinsip tersebut, kata dia, sejalan dengan konsep Islam sebagai rahmatan lil alamin. Keberagamaan hendaknya menghadirkan rasa aman dan manfaat bagi kehidupan bersama, bukan menjadi sumber ketakutan, permusuhan, atau perpecahan.

Ia mengingatkan, perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Indonesia tumbuh sebagai bangsa dengan keragaman suku, bahasa, budaya, serta latar belakang keagamaan.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk saling mengenal. Dari proses tersebut diharapkan tumbuh sikap saling menghargai sekaligus berkurangnya prasangka terhadap kelompok yang berbeda.

Perbedaan, lanjut Zulkarnain, tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyakiti. Kehidupan beragama juga harus dijauhkan dari pemaksaan dan kekerasan.

Dengan cara pandang tersebut, wasathiyah tidak hanya menjadi prinsip dalam menjalankan agama, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan sosial dan persatuan bangsa.

Zulkarnain juga mengajak masyarakat menempatkan nilai-nilai agama sebagai kekuatan yang mempererat kehidupan kebangsaan. Persaudaraan, kepedulian, dan penghormatan terhadap perbedaan diperlukan agar keberagaman tetap menjadi kekuatan Indonesia.

Menjaga Indonesia sebagai rumah bersama, menurut dia, membutuhkan kesediaan untuk menerima perbedaan tanpa kehilangan komitmen terhadap persatuan.

Kasatgaswil Lampung Stialanri K. Setinggar menekankan pentingnya menjaga kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyampaikan, Garda Satya NKRI telah terlibat dalam sejumlah kegiatan kebangsaan, termasuk kegiatan dalam rangka memperingati 17 Agustus di tingkat provinsi maupun daerah.

“Kami berharap Garda Satya NKRI ini dapat terus seperti ini, tetap sesuai dengan namanya,” ujar Setinggar.

Tampak hadir dalam kegiatan ini Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Lampung, Organisasi Kemasyarakatan Islam, jajaran Densus 88, Garda Satya NKRI, dan tamu undangan lainnya.