Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kanwil Kemenag Lampung Dukung Film Ageman, Angkat Pesan Toleransi dan Kerukunan

Rabu, 23 September 2026 • Anggithya
Kanwil Kemenag Lampung Dukung Film Ageman, Angkat Pesan Toleransi dan Kerukunan
Anggithya
Anggithya
Foto: Kevin

Lampung (Humas) --- Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung mendukung kehadiran film Ageman yang mengangkat tema toleransi, kerukunan antarumat beragama, serta pentingnya dialog dalam memahami perbedaan.

Dukungan tersebut disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Lampung Zulkarnain saat menerima audiensi tim BLB Film Production di Aula Pepadun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Rabu (23/9/2026).

Dalam audiensi tersebut, Zulkarnain didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung Yan Maradonna dan Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama (KUB) Solihin. Sementara dari BLB Film Production hadir Sutradara Jasper Lance, Public Relation Devi Yuliani, Asisten Sutradara Riko Dwi Setiawan, Pimpinan Produksi M Fares Angga, pemeran pendamping utama Rudi Irawan yang memerankan Ayah Ratri, serta Pendeta Daniel yang memerankan tokoh agama Kristen.

Zulkarnain mengatakan, pesan toleransi yang diangkat dalam film tersebut relevan dengan semangat moderasi beragama. Menurut dia, keberagaman keyakinan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dikelola dengan sikap saling menghormati.

"Wasatiyah itu berada di tengah. Kita tidak boleh berada pada sikap yang berlebihan. Ketika seseorang merasa paling benar, yang berbahaya adalah ekstrem," kata Zulkarnain.

Ia mengatakan, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk membangun permusuhan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila setiap orang mampu memahami posisi dan peran masing-masing.

Zulkarnain mengibaratkan keberagaman seperti sebuah pertunjukan musik. Menurut dia, harmoni justru lahir dari berbagai alat musik yang memiliki karakter berbeda.

"Ketika ada alat musik petik, alat musik tiup, piano atau keyboard, kemudian semuanya saling memahami dan mengambil peran, maka tercipta harmoni dan keindahan," ujarnya.

Menurut Zulkarnain, analogi tersebut juga menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan pandangan yang beragam.

"Jangan sampai perbedaan menjadikan kita bermusuhan. Bagaimana perbedaan itu justru menjadi semangat dan teladan bagi generasi muda untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan," kata dia.


Film tentang perjalanan memahami perbedaan

Sutradara Ageman, Jasper Lance, mengatakan film tersebut memang dibangun dari gagasan tentang perjumpaan dan dialog sebagai cara memahami perbedaan.

Film ini berkisah tentang Ratri, seorang perempuan yang pada awal cerita cenderung menutup diri dari lingkungan sosial dan hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki keyakinan sama dengannya.

Dalam perjalanan cerita, Ratri bertemu dengan Bianca. Pertemuan tersebut kemudian membawanya pada perjalanan spiritual dengan berdialog bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh adat.

Jasper mengatakan, film tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan intoleransi yang menurutnya dapat muncul ketika seseorang tidak memiliki ruang untuk berinteraksi secara langsung dengan kelompok yang berbeda.

"Permasalahan intoleransi sering terjadi karena kurang duduk bersama dan kurang ngobrol. Kita terkadang hanya mendengar apa yang dikatakan orang lain tanpa berbicara langsung," ujar Jasper.

Menurut dia, perjumpaan secara langsung dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk memahami orang lain secara lebih utuh.

"Ketika kita bisa duduk bersama dan berbicara, kita bisa melihat bahwa ternyata kita mempunyai tujuan yang baik dan tujuan yang sama, meskipun cara kita menjalankan keyakinan berbeda," katanya.

Melalui cerita tersebut, Ageman mencoba menjadikan dialog sebagai bagian dari perjalanan perubahan karakter, bukan sekadar menyampaikan pesan toleransi dalam bentuk pernyataan normatif.

Mengangkat persoalan intoleransi

Pesan tersebut juga diperkuat melalui karakter Ayah Ratri yang diperankan Rudi Irawan.

Dalam film tersebut, Rudi memerankan seorang ayah yang melarang anaknya bergaul terlalu dekat dengan orang yang berbeda keyakinan.

Bagi Rudi, karakter tersebut menjadi tantangan karena berbeda dengan kehidupan pribadinya.

"Sebagai pemeran, saya harus memainkan karakter yang sebenarnya berbeda dengan kehidupan pribadi saya. Justru itu menjadi pengalaman menarik karena kami harus memahami karakter tersebut secara utuh," ujar Rudi.

Melalui karakter tersebut, film mencoba menggambarkan bagaimana sikap eksklusif dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga dan kemudian memengaruhi cara seseorang memandang kelompok lain.

Film Ageman juga membawa unsur budaya lokal Lampung sebagai bagian dari cerita.

Tidak berhenti di layar

Pesan toleransi yang dibawa Ageman direncanakan tidak berhenti pada gala premiere.

Tim BLB Film Production menyiapkan roadshow pemutaran film ke sejumlah sekolah, termasuk SMA dan SMK. Tim produksi juga membuka kemungkinan memperluas pemutaran ke lingkungan madrasah dan pondok pesantren.

"Kami sudah mengajukan surat untuk roadshow. Rencananya film ini akan diputar di sekolah-sekolah. Kami juga berharap dapat menjangkau madrasah dan pondok pesantren," kata Jasper.

Melalui roadshow tersebut, film diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga dapat menjadi pemantik diskusi mengenai toleransi di kalangan pelajar.

Dalam audiensi dengan Kanwil Kemenag Lampung, tim produksi juga meminta dukungan berupa rekomendasi serta dukungan komunikasi untuk memperluas jangkauan pemutaran film.

Selain itu, tim meminta kesediaan Zulkarnain memberikan pernyataan mengenai toleransi dan respons terhadap film setelah menyaksikan karya tersebut secara utuh.

Gala premiere 1 Oktober

Ageman dijadwalkan menggelar gala premiere pada 1 Oktober 2026.

Agenda tersebut akan menjadi bagian awal sebelum film dibawa dalam rangkaian roadshow ke berbagai lingkungan pendidikan.

Zulkarnain menilai karya kreatif seperti film dapat menjadi salah satu medium komunikasi publik untuk menyampaikan pesan kerukunan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Menurut dia, pesan toleransi tidak harus selalu disampaikan melalui forum formal. Pesan tersebut juga dapat dikomunikasikan melalui medium yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Film, kata Zulkarnain, dapat menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan tentang keberagaman, dialog, dan kerukunan dalam bentuk cerita yang lebih mudah diterima publik.

Dengan Ageman, pesan toleransi tidak hanya ditempatkan sebagai jargon, tetapi dihadirkan melalui perjalanan tokoh yang belajar memahami perbedaan lewat perjumpaan dan dialog.