Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kemenag Lampung Dukung Penuh “Education for Protection & Well Being”, Wujudkan Madrasah Ramah Anak

Jumat, 23 Agustus 2024 Anggithya
Kemenag Lampung Dukung Penuh “Education for Protection & Well Being”, Wujudkan Madrasah Ramah Anak
Anggithya
Anggithya

Lampung (Humas) --- Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) Provinsi Lampung yang dipimpin oleh Ketua Pelaksana Lembaga Dana Atmaja (LDA) Maryoto didampingi Pimpinan program LDA Purna Adi Swasana, Koordinator Agustinus Subagyo, dan PIC EPW Zulvina Afrianti menyelenggarakan Audiensi ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Jum’at (23/8) di Ruang Kerja Kepala Bidang Pendidikan Madrasah kantor setempat.

Kedatangan mereka disambut hangat Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Lampung Ahmad Rifa’i didampingi Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Edi Sulistiono.

Dalam kesempatan ini, Maryoto menyampaikan bahwa YPSK merupakan Lembaga pelayanan kemanusiaan, social-ekonomi, dan kelestarian alam sejak 58 Tahun yang lalu dimana program yang kami implementasikan merujuk pada program-program pemerintah dan bekerjasama dengan ChildFund International di Indonesia dalam hal pemenuhan hak dan Perlindungan Anak.

“ChildFund International di Provinsi Lampung memiliki program Education for Protection & Well Being dan telah dilaksanakan di tiga Kabupaten yaitu Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Pringsewu,” katanya.

Ia menjelaskan berdasarkan data SIMFONI PPA di Provinsi Lampung periode 2024 mencatat jumlah kasus kekerasan yang terjadi sebanyak 267 kasus. Rate anak korban kekerasan per 10.000 anak di Provinsi Lampung berjumlah 317 korban. Dengan kasus kekerasan pada jenjang sekolah dasar yaitu sebesar 4,5%.

“Data SIMFONI PPA Kabupaten Lampung Timur mencatat terdapat 36 kasus pada Tahun 2024. Kasus kekerasan berupa kekerasan fisik, psikis (bullying), seksual, dan sosial (eksploitasi anak dan penelantaran anak). Dampak kekerasan : gangguan emosi, menurunnya kepercayaan diri, merusak perkembangan otak dan system syaraf, melakukan tindakan negative, bahkan meningkatkan resiko kematian,” ujarnya.

Education for Protection & Well Being, menurut Maryoto, merupakan program pengasuhan yang menargetkan anak-anak usia 6-12 tahun, guru dan pengasuh, dan sekolah/keluarga untuk meningkatkan praktik pengajaran, pengasuhkan yang positif dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan demi memutus rantau kekerasan dan meningkatkan hasil pendidikan bagi anak-anak.

 “Tujuan dari  program ini yaitu meningkatkan praktik pengajaran, pengasuhan yang positif dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan sebagai upaya memutus rantai kekerasan, dan meningkatkan hasil pendidikan bagi anak-anak serta menciptakan lingkungan hidup yang aman baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat,” tuturnya.

“Adapun target sasaran kegiatan ini adalah anak laki-laki dan perempuan, pendidik, orang tua, pengasuh utama, dan kerja sama sekolah dan masyarakat,” terangnya.

“Oleh karena itu, Saya berharap kepada Kepala Bidang Pendidikan bisa memberikan usulan dan rekomendasi Madrasah Ibtidaiyah (MI) untuk menjadi Pilot Project Program Sekolah Bebas Kekerasan di Kabupaten Lampung Timur sebagai wilayah dampingan YPSK,” harapannya.


Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Ahmad Rifa’i, menyambut baik audiensi yang dilakukan oleh Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK). 

“Kami sangat mengapresiasi audiensi yang dilakukan oleh Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK). Program 'Education for Protection & Well Being' yang telah dijalankan oleh YPSK di beberapa kabupaten merupakan inisiatif yang sangat penting dan relevan dalam menghadapi tantangan kekerasan terhadap anak yang masih terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di sekolah,” ujar Ahmad Rifa’i.

Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa program "Sekolah Bebas Kekerasan" sangat selaras dengan visi Kanwil Kemenag Provinsi Lampung dalam mewujudkan Madrasah Ramah Anak. "Madrasah Ramah Anak merupakan konsep yang telah kami terapkan untuk memastikan bahwa setiap anak di madrasah mendapatkan perlindungan maksimal, baik dari segi fisik, mental, maupun sosial. Program ini juga sejalan dengan inisiatif Penghijauan Madrasah yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat, hijau, dan mendukung kesejahteraan anak-anak," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut. "Kami siap memberikan dukungan penuh, termasuk merekomendasikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Lampung Timur sebagai pilot project dari Program Sekolah Bebas Kekerasan. Kami berharap kerjasama ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan madrasah yang benar-benar ramah anak, bebas dari kekerasan, dan berwawasan lingkungan," tambah Ahmad Rifa’i.

Tidak hanya itu, Ahmad Rifa’i juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dan pengasuh utama dalam pendidikan. Menurutnya, dalam konteks Madrasah Ramah Anak, keterlibatan orang tua sangatlah penting untuk memutus rantai kekerasan dan memperkuat nilai-nilai positif yang diajarkan di madrasah.

“Kami juga melihat bahwa program yang berfokus pada peningkatan keterlibatan orang tua dan pengasuh utama dalam pendidikan sangatlah penting. Ini tidak hanya membantu memutus rantai kekerasan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai positif yang diajarkan di madrasah, serta mendukung perkembangan karakter anak-anak,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Kanwil Kemenag Provinsi Lampung juga telah mencanangkan Penghijauan yang bertujuan untuk memperindah lingkungan sekolah, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan anak-anak. "Penghijauan bukan hanya soal estetika atau kesehatan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter anak-anak yang peduli terhadap lingkungan sejak dini," katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar kolaborasi antara program YPSK dan inisiatif Madrasah Ramah Anak serta Penghijauan Madrasah dapat menciptakan madrasah yang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat perlindungan dan pengembangan diri yang optimal bagi anak-anak. “Dengan dukungan dari berbagai pihak, kita dapat bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus bangsa,” pungkas Ahmad Rifa’i.(Anggithya/Abdul Aziz)