Way Kanan, KUA Gunung Labuhan (Humas) - - Suara lantang membacakan ayat Al-Qur’an berselingan dengan isak tangis kecil di sudut ruangan. Itulah pemandangan haru yang terjadi di Majelis Ta’lim Nurul Huda, Kampung Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung.Jumat, 30 Januari 2026.
Suasana khidmat tersebut tercipta saat Siti Juleha, Penyuluh
Agama Islam dari Kantor Urusan Agama
(KUA) Kecamatan Gunung Labuhan, memberikan bimbingan dan penyuluhan rutin
kepada para jamaah.
Meski disibukkan dengan tugas pokoknya di KUA, Siti Juleha
tetap berkomitmen memberikan bimbingan dan penyuluhan ke majelis-majelis
ta’lim. Di Majelis Nurul Huda, ia dengan sabar menyampaikan materi. Namun,
perhatiannya sesekali terbagi ke arah putri kecilnya yang belum genap berusia 3
tahun, yang ikut dibawa ke tempat pengajian dan tak kuasa menahan kantuk atau
rasa tak nyaman, hingga akhirnya menangis pelan.
Tangisan sang buah hati sempat menyita perhatian jamaah,
tetapi tidak menghentikan semangat Juleha. Dengan tenang, ia terkadang melirik
atau memberikan isyarat lembut, sebelum kembali fokus memberikan pencerahan
kepada puluhan ibu-ibu yang hadir. Sang anak, meski menangis, menjadi saksi
langsung perjuangan ibunya yang tak kenal lelah membagi waktu antara panggilan
hati sebagai penyuluh agama dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Dikonfirmasi Humas KUA Kecamatan Gunung Labuhan. Siti Juleha
membenarkan kondisi tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan
perasaan yang campur aduk, tapi tidak menyurutkan semangatnya.
“Iya, tadi memang anak saya menangis. Sedih? Pasti. Sebagai ibu, hati mana yang tega mendengar tangisan anak sendiri,” ujar Juleha sambil mendekap putrinya yang telah tenang. “Tapi, ada tanggung jawab lain yang juga harus saya jalani. Ini adalah panggilan hati dan tugas saya sebagai penyuluh agama untuk hadir dan membimbing masyarakat.”Ujar Nong sapaan akrab siti Juleha.
Juleha mengaku kerap membawa anaknya saat harus turun ke
lapangan karena keterbatasan pengasuh.
“Ini pilihan yang tidak mudah. Saya berusaha maksimal agar
kedua peran ini bisa berjalan. Alhamdulillah, jamaah sangat pengertian. Semoga
dedikasi kecil ini bisa menjadi contoh, terutama bagi ibu-ibu muda, bahwa
mencari ilmu dan berdakwah tetap bisa dilakukan meski dengan segala
keterbatasan,” tambahnya penuh keyakinan.
Salah satu jamaah, Siti (50) menyampaikan kekagumannya pada
perjuangan Juleha. Ia menilai kejadian hari ini justru memberikan pelajaran
hidup yang lebih dalam daripada materi pengajian.
“Tadi kami semua mendengar tangisan anaknya. Tapi kami juga
melihat Bu Juleha begitu kuat dan profesional. Dia tidak panik, hanya sesekali
menenangkan dari jauh, lalu lanjut mengajar. Ini luar biasa,” ujar Siti
dikonfirmasi terpisah.
“Bagi kami, ini bukan gangguan, tapi justru jadi penyemangat
dan pengingat. Kami melihat langsung pengorbanan seorang ibu sekaligus seorang
dai. Beliau mengajarkan kesabaran, multitasking, dan dedikasi tanpa kata
menyerah. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusannya dan membalas semua
kebaikannya,” pungkas Siti, mewakili
rasa hormat jamaah yang hadir.
Kejadian ini menyiratkan gambaran nyata perjuangan banyak
perempuan pekerja, khususnya di bidang dakwah, yang berusaha menjalankan peran
ganda dengan sepenuh hati. Dedikasi Siti Juleha menjadi inspirasi tentang
ketangguhan, kesabaran, dan komitmen dalam menyebarkan ilmu agama, di mana
setiap tetes keringat dan air mata memiliki nilai ibadah yang tak ternilai. (Humas)
Penulis : Yanto/Oksi/Asep
Editor : Anggithya