Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

KUA

Ketika Tangis Balita Menyertai Dakwah: Dedikasi Seorang Penyuluh Agama di Tengah Peran Ganda Sebagai Ibu

Sabtu, 31 Januari 2026 Humas Way Kanan
Ketika Tangis Balita Menyertai Dakwah: Dedikasi Seorang Penyuluh Agama di Tengah Peran Ganda Sebagai Ibu
Humas Way Kanan
Humas Way Kanan

Way Kanan, KUA Gunung Labuhan (Humas) - - Suara lantang membacakan ayat Al-Qur’an berselingan dengan isak tangis kecil di sudut ruangan. Itulah pemandangan haru yang terjadi di Majelis Ta’lim Nurul Huda, Kampung Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung.Jumat, 30 Januari 2026.

Suasana khidmat tersebut tercipta saat Siti Juleha, Penyuluh Agama Islam  dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gunung Labuhan, memberikan bimbingan dan penyuluhan rutin kepada para jamaah.

Meski disibukkan dengan tugas pokoknya di KUA, Siti Juleha tetap berkomitmen memberikan bimbingan dan penyuluhan ke majelis-majelis ta’lim. Di Majelis Nurul Huda, ia dengan sabar menyampaikan materi. Namun, perhatiannya sesekali terbagi ke arah putri kecilnya yang belum genap berusia 3 tahun, yang ikut dibawa ke tempat pengajian dan tak kuasa menahan kantuk atau rasa tak nyaman, hingga akhirnya menangis pelan.

Tangisan sang buah hati sempat menyita perhatian jamaah, tetapi tidak menghentikan semangat Juleha. Dengan tenang, ia terkadang melirik atau memberikan isyarat lembut, sebelum kembali fokus memberikan pencerahan kepada puluhan ibu-ibu yang hadir. Sang anak, meski menangis, menjadi saksi langsung perjuangan ibunya yang tak kenal lelah membagi waktu antara panggilan hati sebagai penyuluh agama dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Dikonfirmasi Humas KUA Kecamatan Gunung Labuhan. Siti Juleha membenarkan kondisi tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan perasaan yang campur aduk, tapi tidak menyurutkan semangatnya.

“Iya, tadi memang anak saya menangis. Sedih? Pasti. Sebagai ibu, hati mana yang tega mendengar tangisan anak sendiri,” ujar Juleha sambil mendekap putrinya yang telah tenang. “Tapi, ada tanggung jawab lain yang juga harus saya jalani. Ini adalah panggilan hati dan tugas saya sebagai penyuluh agama untuk hadir dan membimbing masyarakat.”Ujar Nong sapaan akrab siti Juleha.

Juleha mengaku kerap membawa anaknya saat harus turun ke lapangan karena keterbatasan pengasuh.

“Ini pilihan yang tidak mudah. Saya berusaha maksimal agar kedua peran ini bisa berjalan. Alhamdulillah, jamaah sangat pengertian. Semoga dedikasi kecil ini bisa menjadi contoh, terutama bagi ibu-ibu muda, bahwa mencari ilmu dan berdakwah tetap bisa dilakukan meski dengan segala keterbatasan,” tambahnya penuh keyakinan.

Salah satu jamaah, Siti (50) menyampaikan kekagumannya pada perjuangan Juleha. Ia menilai kejadian hari ini justru memberikan pelajaran hidup yang lebih dalam daripada materi pengajian.

“Tadi kami semua mendengar tangisan anaknya. Tapi kami juga melihat Bu Juleha begitu kuat dan profesional. Dia tidak panik, hanya sesekali menenangkan dari jauh, lalu lanjut mengajar. Ini luar biasa,” ujar Siti dikonfirmasi terpisah.

“Bagi kami, ini bukan gangguan, tapi justru jadi penyemangat dan pengingat. Kami melihat langsung pengorbanan seorang ibu sekaligus seorang dai. Beliau mengajarkan kesabaran, multitasking, dan dedikasi tanpa kata menyerah. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusannya dan membalas semua kebaikannya,” pungkas  Siti, mewakili rasa hormat jamaah yang hadir.

Kejadian ini menyiratkan gambaran nyata perjuangan banyak perempuan pekerja, khususnya di bidang dakwah, yang berusaha menjalankan peran ganda dengan sepenuh hati. Dedikasi Siti Juleha menjadi inspirasi tentang ketangguhan, kesabaran, dan komitmen dalam menyebarkan ilmu agama, di mana setiap tetes keringat dan air mata memiliki nilai ibadah yang tak ternilai. (Humas)

Penulis  :  Yanto/Oksi/Asep

Editor  :  Anggithya