Semarang (Humas) --- Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Siti Aisyah Zulkarnain, membawa semangat untuk mereplikasi program pemberdayaan mustahik berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Lampung. Hal itu mengemuka setelah ia menghadiri penutupan Pelatihan UMKM Bidang Usaha Boga bagi mustahik produktif di Balai Latihan Kerja Jasa dan Pariwisata (BLKJP) Semarang, Jumat (11/9/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar DWP Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah bersama Baznas Provinsi Jawa Tengah dan ditutup Penasihat DWP Kementerian Agama RI, Ny. Helmi Nasaruddin Umar.
Siti Aisyah menilai pemberdayaan mustahik tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan. Penerima manfaat juga perlu dibekali keterampilan dan kemampuan berwirausaha agar mampu membangun sumber penghasilan secara mandiri.
"Sinergi seperti ini patut menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Lampung. Pemberdayaan yang berkelanjutan akan memberikan dampak lebih besar terhadap kemandirian ekonomi keluarga," kata Siti Aisyah.
Menurut dia, pelatihan usaha boga memiliki peluang untuk dikembangkan karena dapat dirintis dari skala rumah tangga. Pemanfaatan media sosial juga penting untuk mengenalkan produk, membangun pelanggan, dan memperluas pemasaran.
"Kami melihat bahwa pelatihan UMKM bidang boga ini mampu membuka peluang usaha baru bagi para peserta. Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan berakhir, tetapi benar-benar dikembangkan menjadi usaha yang produktif dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia mengatakan pola pemberdayaan yang memadukan keterampilan, pendampingan, dan semangat berwirausaha dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. Model tersebut, menurut dia, dapat dikembangkan di Lampung dengan menyesuaikan potensi daerah dan kebutuhan penerima manfaat.

Sementara itu, Penasihat DWP Kementerian Agama RI, Ny. Helmi Nasaruddin Umar, mengingatkan peserta agar tidak berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi berani memulai dan mengembangkan usaha.
"Jangan pulang hanya membawa sebuah sertifikat, pulanglah membawa keberanian. Mulailah membuat produk, menawarkan, menerima pesanan, dan membangun pelanggan," ujar Helmi.
Helmi menekankan, keterampilan yang diperoleh selama pelatihan harus segera diterapkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan peserta. Kreativitas dan keberanian menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha di tengah persaingan dan perkembangan ekonomi digital.
Melalui kolaborasi DWP, Baznas, dan pihak terkait, program pemberdayaan tersebut diharapkan dapat melahirkan lebih banyak mustahik yang mampu berkembang menjadi pelaku UMKM produktif dan mandiri. Keterampilan yang diperoleh tidak hanya menjadi bekal untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian dan peningkatan kesejahteraan keluarga. (Humas)