Metro, Kanwil Kemenag (Humas) — Menteri Agama menegaskan bahwa Universitas Islam Negeri (UIN) tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai disiplin ilmu. Perguruan tinggi keagamaan Islam juga dituntut melahirkan cendekiawan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan dalam sambutan pada pengukuhan lima guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung. Menurut Menteri Agama, pengukuhan lima profesor dalam satu kesempatan menjadi modal intelektual penting bagi penguatan pendidikan tinggi Islam di Lampung.
“Biasanya pengukuhan guru besar dilakukan satu per satu. Hari ini lima orang sekaligus. Ini menjadi modal intelektual yang besar,” ujarnya.
Ia mengatakan, bertambahnya jumlah guru besar tidak cukup dimaknai sebagai capaian administratif atau akademik. Kehadiran profesor harus memperkuat penelitian, pembelajaran, serta kemampuan perguruan tinggi menjawab persoalan yang berkembang di masyarakat.

Menteri Agama juga menyinggung perubahan status dari Institut Agama Islam Negeri menjadi UIN. Perubahan tersebut, menurut dia, membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan berbagai disiplin ilmu tanpa meninggalkan identitas keislaman.
“UIN bukan hanya bertugas mencetak ilmuwan. UIN juga memiliki fungsi dakwah. Karena itu, yang kita lahirkan bukan hanya orang pintar, tetapi orang yang ilmunya memberi manfaat,” katanya.
Ia membedakan ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan. Ilmuwan, menurut dia, adalah orang yang menguasai bidang ilmu tertentu. Intelektual tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mengamalkannya. Sementara cendekiawan mampu membawa pengetahuan itu menjadi kekuatan yang berdampak bagi masyarakat.
“Kalau orang hanya pintar, tetapi tidak memanfaatkan kepintarannya, ia belum menjadi intelektual. Cendekiawan lebih jauh lagi, karena ilmunya memberi dampak di tengah masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap UIN Jurai Siwo Lampung tidak hanya melahirkan sarjana yang unggul secara akademik, tetapi juga pribadi yang arif. Menurut dia, kepintaran tanpa kebijaksanaan belum cukup untuk menjawab tantangan masyarakat.
“Orang arif itu langka. Yang banyak adalah orang pintar. Semua orang arif itu pintar, tetapi tidak semua orang pintar menjadi arif,” katanya.
Dalam sambutannya, Menteri Agama juga menekankan hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Ia menilai perkembangan sains justru membuka ruang yang semakin luas untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan alam semesta.
Ia mengingatkan agar semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu bidang, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang menyertainya.
“Jangan sampai semakin dalam pengetahuan kita tentang suatu subjek, tetapi tidak meningkatkan kecintaan kita kepada umat,” ujarnya.
Pesan serupa ditujukan kepada para guru besar yang dikukuhkan. Menurut Menteri Agama, jabatan profesor bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga amanah moral untuk menjadi teladan di kampus, keluarga, dan masyarakat.
“Menjadi guru besar itu tidak gampang. Ilmu tidak cukup hanya ditulis dalam buku. Ilmu harus dipraktikkan dan menjadi tempat masyarakat mencari jawaban,” katanya.
Ia juga mengapresiasi perkembangan seni dan budaya lokal yang ditampilkan dalam rangkaian kegiatan. Menurut dia, kebudayaan daerah perlu terus dirawat karena dapat menjadi kekuatan ketika bertemu dengan nilai-nilai agama.
“Budaya lokal adalah kekayaan. Perkawinan antara agama dan budaya lokal akan melahirkan kekuatan besar,” ujarnya.

Menteri Agama berharap Lampung dapat tumbuh sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Islam yang kuat. Menurut dia, kemajuan perguruan tinggi juga berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Menutup sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga suasana damai agar tradisi keilmuan dapat berkembang.
“Peperangan melahirkan jenderal, tetapi ketenangan melahirkan profesor,” katanya.