Way Kanan, MIN 1 (Humas) -- Pelatihan Manajemen Kasus Kabupaten Way Kanan kembali digelar pada Rabu, 3 Desember 2025, dengan menghadirkan peserta dari berbagai satuan pendidikan, termasuk dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Dua perwakilan dari MIN, yaitu Budi Andiansyah dan Rizki Mukaromah, tercatat aktif mengikuti kegiatan tersebut. Keduanya ditugaskan sebagai anggota Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di satuan pendidikan masing-masing.
Pelatihan yang berfokus pada Manajemen Kasus ini dilaksanakan oleh Dinas P3APPKB Kabupaten Way Kanan, sebagaimana tercantum dalam surat undangan resmi yang dikeluarkan Sekretariat Daerah Kabupaten Way Kanan. Kegiatan berlangsung di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blambangan Umpu. Peserta yang hadir terdiri dari kepala sekolah serta perwakilan TPPK dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Way Kanan.
Materi utama yang disampaikan pada pelatihan tersebut adalah Tujuan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak, yang menjadi fokus penting bagi seluruh satuan pendidikan. Melalui materi ini, peserta dibekali pemahaman mengenai langkah-langkah pencegahan, mekanisme pelaporan, serta penanganan awal terhadap potensi kekerasan di lingkungan sekolah. Upaya ini sejalan dengan program pemerintah dalam menciptakan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan.
Budi Andiansyah, salah satu peserta dari MIN, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru dan sangat relevan dengan kebutuhan sekolah. “Kami di TPPK punya tanggung jawab besar untuk melindungi peserta didik. Pelatihan ini sangat membantu kami memahami prosedur penanganan kasus secara benar. Harapannya, kami bisa menerapkan semua ilmu ini agar sekolah semakin aman bagi anak-anak,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Way Kanan melalui Dinas P3APPKB menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Peserta dari MIN, termasuk Budi Andiansyah dan Rizki Mukaromah, diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang ramah anak dan bebas kekerasan. (Rina/Dhany)