MTsN 1 Pesawaran (HUMAS) -- Bekerja sama dengan dinas P3AP2KB (pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta pengendalian keluarga berencana ) Kabupaten Pesawaran MTsN 1 Pesawaran gelar sosialisasi pencegahan pernikahan di usia anak, seks pranikah, napza dan stunting kepada peserta didik dan tim PIK Remaja MTsN 1 Pesawaran. kegiatan ini di bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta didik terkait pencegahan kenakalan remaja di kalangan anak anak yang masih sekolah, Kamis (24 Oktober 2024)
kepala madrasah
MTsN 1 Pesawaran Gamferi sangat mengapresiasi kegiatan ini guna mencegah
perbuatan atau akhlak yang tidak baik yang akan dilakukan siswa, banyak zaman
sekrang ini. Permasalahan pernikahan dini, seks pranikah, dan stunting
terus menjadi tantangan besar di Indonesia. Isu ini berpengaruh langsung
terhadap masa depan anak-anak dan remaja, serta perkembangan sosial masyarakat.
Pemateri dalam
kegiatan ini yaitu anistia viri Marantika (Penyuluh KB Terampil ) dan
Yesi Dwi Jayanti (ketua Genre Kab. Pesawaran. Pernikahan di usia anak, terutama di bawah 18 tahun, masih terjadi
di banyak daerah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, sekitar 10%
pernikahan di Indonesia melibatkan individu di usia muda. Praktik ini sering
mengakibatkan putus sekolah, peningkatan risiko kesehatan, dan rendahnya
kualitas hidup. Dampaknya Anak perempuan yang menikah dini berisiko tinggi
mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan, serta dapat menghadapi kekerasan
dalam rumah tangga. Hal ini memperparah masalah kesehatan mental dan fisik mereka.
Ujar Anistia
Seks pranikah menjadi topik sensitif namun penting untuk dibahas.
Banyak remaja yang tidak mendapatkan pendidikan seks yang memadai, sehingga
kurang memahami risiko dan tanggung jawab yang terkait dengan hubungan seksual.
Menurut survei, 60% remaja di Indonesia tidak memiliki pengetahuan yang cukup
tentang kesehatan reproduksi. Stunting merupakan masalah serius yang terjadi
akibat kekurangan gizi dalam periode pertumbuhan anak. Sekitar 27% anak di
Indonesia mengalami stunting, yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan jangka
panjang dan menghambat perkembangan kognitif. ujar Yesi Dwi Jayanti
Pencegahan
pernikahan dini, edukasi mengenai seks pranikah, dan penanganan stunting
memerlukan kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Program-program yang mendukung anak-anak dan remaja harus diintensifkan, dengan
fokus pada peningkatan pengetahuan dan akses terhadap layanan kesehatan serta
gizi yang baik.
1. Kampanye Kesadaran:
Menggalakkan kampanye di masyarakat untuk mengedukasi tentang bahaya pernikahan
dini dan pentingnya kesehatan reproduksi.
2. Program Gizi dan Kesehatan: Meningkatkan akses terhadap nutrisi yang baik untuk anak-anak, terutama di daerah rawan stunting. (apriyansyah)