Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Madrasah

Saat Sampah Jadi Berkah: Kisah Inspiratif Ibu Karyati di MAN 1 Pringsewu

Jumat, 04 Oktober 2024 Muhammad Faizin
Saat Sampah Jadi Berkah: Kisah Inspiratif Ibu Karyati di MAN 1 Pringsewu
Muhammad Faizin
Muhammad Faizin

Di sudut halaman MAN 1 Pringsewu, sosok seorang wanita paruh baya terlihat sibuk memilah sampah plastik. Dengan cekatan, ia memisahkan botol-botol bekas minuman dari tumpukan sampah lainnya. Wanita itu adalah Ibu Karyati, sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga kebersihan lingkungan sekolah selama lima tahun terakhir.

Kisah Ibu Karyati dimulai dari sebuah kebetulan yang berbuah berkah. Suaminya yang bekerja sebagai satpam malam di MAN 1 Pringsewu menjadi pintu masuk baginya untuk mengenal lingkungan sekolah lebih dekat. Awalnya, Ibu Karyati merasa malu ketika mulai mengumpulkan sampah plastik di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa malu itu berubah menjadi kebanggaan.

"Dulu saya malu, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa. Ternyata hasilnya lumayan, dan guru-guru di sini mulai kenal dengan saya," ungkap Ibu Karyati dengan senyum mengembang di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan usia.

Rutinitas harian Ibu Karyati dimulai sejak pagi buta. Sebelum matahari terbit, ia sudah sibuk di dapur, menyiapkan makanan untuk anak-anak kos yang menjadi pelanggan setianya. Memasak bukan hanya sekadar pekerjaan bagi Ibu Karyati, tetapi juga bentuk kepeduliannya terhadap para pelajar yang jauh dari orang tua.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai 'ibu' bagi anak-anak kos, Ibu Karyati tidak lantas bersantai. Begitu azan Ashar berkumandang, ia bergegas menuju MAN 1 Pringsewu, siap menjalankan misinya sebagai pahlawan lingkungan.

"Saya berangkat ke sekolah setelah sholat Ashar. Waktu sore hari itu pas, karena anak-anak sekolah sudah pulang dan sampah-sampah sudah terkumpul," jelasnya.

Kehadiran Ibu Karyati di MAN 1 Pringsewu bukan sekadar tentang mengumpulkan sampah plastik. Ia telah menjadi teladan hidup bagi para siswa dan guru tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Meski banyak yang menganggap pekerjaannya remeh, Ibu Karyati justru melihatnya sebagai peluang untuk berkontribusi pada lingkungan sekaligus menambah penghasilan keluarga.

"Alhamdulillah, dari sampah plastik ini saya bisa dapat tambahan rezeki. Tapi bukan itu intinya. Yang penting bagi saya adalah bisa ikut menjaga kebersihan sekolah," ujarnya dengan mata berbinar.

Ibu Karyati bukan hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga menjadi duta lingkungan yang tak kenal lelah. Ia selalu mengingatkan siapa pun yang ditemuinya untuk membuang sampah pada tempatnya.

"Walaupun ada yang ngambilin sampah, tapi kita harus tetap buang sampah pada tempatnya. Biar lingkungan sekolah terjaga," pesannya dengan penuh semangat.

Kisah Ibu Karyati adalah potret nyata bahwa setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, dapat menjadi agen perubahan. Dari hal yang tampak sepele seperti mengumpulkan sampah plastik, ia telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil namun konsisten.

Saat senja mulai turun di MAN 1 Pringsewu, Ibu Karyati mengakhiri tugasnya hari itu. Dengan karung berisi sampah plastik di punggungnya, ia melangkah pulang, membawa harapan untuk hari esok yang lebih bersih dan lebih baik. Baginya, setiap sampah plastik yang ia kumpulkan bukan hanya sumber rezeki, tetapi juga langkah kecil menuju lingkungan yang lebih lestari.

Melalui kisah Ibu Karyati, kita diingatkan bahwa kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang, tidak peduli peran dan posisinya, dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam. Dan seperti yang telah dicontohkan oleh Ibu Karyati, terkadang perubahan besar dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan hati. (Abdan dan Laila)