Semarang (Humas) --- Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Ny. Siti Aisyah Zulkarnain, mengapresiasi penyelenggaraan Pameran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Plaza Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Siti Aisyah, pameran yang menjadi bagian dari rangkaian MTQ Nasional XXXI tersebut tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi daerah, produk UMKM, kerajinan, serta ekonomi kreatif dari berbagai provinsi di Indonesia.
“Pameran ini sangat positif karena menjadi ruang bagi setiap daerah untuk memperkenalkan potensi dan produk unggulannya. Kita bisa melihat keberagaman budaya, kreativitas, dan kearifan lokal dari berbagai daerah yang dikemas dalam satu kegiatan,” ujar Siti Aisyah.
Ia menilai, keterlibatan UMKM dan pelaku ekonomi kreatif dalam pameran tersebut memberikan nilai tambah bagi penyelenggaraan MTQ Nasional. Kehadiran produk-produk daerah juga membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat dari berbagai wilayah.
“Ini bukan hanya tentang memperkenalkan produk, tetapi juga bagaimana kegiatan seperti ini dapat membuka jejaring dan peluang bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Apalagi yang ditampilkan merupakan produk-produk masyarakat dari berbagai daerah,” katanya.
Siti Aisyah juga mengapresiasi kehadiran 34 provinsi dalam pameran tersebut. Menurutnya, keberagaman stan yang ditampilkan menjadi gambaran kekayaan Indonesia sekaligus memperkuat semangat persatuan melalui MTQ Nasional.
“MTQ membawa semangat syiar Al-Qur'an, sementara pameran ini memperlihatkan kekayaan budaya dan potensi masyarakat. Keduanya dapat berjalan bersama dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujar Siti Aisyah.
Pameran MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Penasehat DWP Kementerian Agama RI, Ny. Helmi Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, Helmi mengatakan bahwa kepercayaan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah MTQ Nasional 2026 merupakan bentuk pengakuan atas kesiapan, komitmen, dan kontribusinya dalam memajukan syiar Al-Qur'an di Tanah Air.

“Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita tidak hanya menghadiri sebuah perhelatan seremonial, melainkan turut menyaksikan pembukaan pameran MTQ tingkat nasional ke-31 tahun 2026, sebuah rangkaian kegiatan yang memiliki makna strategis dan nilai tambah yang luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Helmi.
Ia mengatakan, pameran tersebut menjadi sarana bagi setiap provinsi untuk memperkenalkan kekayaan sumber daya, kearifan lokal, serta keunggulan wilayah masing-masing kepada masyarakat luas, termasuk para delegasi dan tamu dari seluruh Indonesia.
Sebanyak 34 provinsi ambil bagian dalam pameran tersebut dengan sekitar 150 stan yang menampilkan berbagai produk unggulan daerah, UMKM, kerajinan, dan ekonomi kreatif.
Helmi menilai pameran juga menjadi etalase bagi pelaku UMKM, perajin, dan penggiat ekonomi kreatif untuk memperluas promosi, membuka jaringan usaha, serta meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional.
“Di sisi lain, pameran ini juga menjadi etalase bagi produk unggulan dan ekonomi kreatif masyarakat. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, perajin dan penggiat ekonomi kreatif mendapat ruang promosi yang tidak kecil artinya,” ujarnya.
Menurut Helmi, pameran MTQ juga menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dan semangat kebangsaan dapat berjalan berdampingan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dunia usaha.
Ia berharap pameran MTQ pada masa mendatang terus dikembangkan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital dan media sosial agar promosi produk daerah tidak berhenti pada pengunjung yang datang langsung ke lokasi.
“Kemitraan antara pelaku UMKM dengan dunia usaha dan investor juga perlu terus diperkuat agar dampaknya benar-benar dirasakan sampai ke tingkat usaha kecil,” kata Helmi.
Pameran tersebut diharapkan dapat menjadi bagian yang semakin kuat dalam penyelenggaraan MTQ Nasional, tidak hanya sebagai sarana memperkenalkan produk daerah, tetapi juga sebagai ruang interaksi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi kreatif. (Humas)
