Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Darma Wanita Persatuan

Siti Aisyah Zulkarnain Ikuti Seminar Nasional, Perkuat Peran Perempuan di Era Disrupsi

Jumat, 11 September 2026 Anggithya Editor: Anggithya
Siti Aisyah Zulkarnain Ikuti Seminar Nasional, Perkuat Peran Perempuan di Era Disrupsi
Anggithya
Anggithya
Foto: Aziz

Semarang (Humas) --- Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Siti Aisyah Zulkarnain, mengikuti Seminar Nasional “Peran Signifikan Perempuan di Era Disrupsi dalam Membangun Keluarga Sakinah” di Hotel Grand Candi, Semarang, Jumat (11/9/2026).

Penasihat DWP Kementerian Agama RI, Helmi Nasaruddin Umar, dalam sambutannya menekankan pentingnya perempuan terus meningkatkan kapasitas diri di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Menurut dia, penguatan perempuan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas organisasi, tetapi juga kemampuan membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan tetap berlandaskan nilai-nilai agama.


Seminar tersebut juga menghadirkan Nessa Ghozal dalam sesi Leadership Communication. Nessa menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh jabatan, tetapi juga oleh kemampuan membangun pengaruh melalui komunikasi.

Komunikasi yang efektif, menurut Nessa, membutuhkan kesamaan visi, kemampuan mendengarkan secara aktif, empati, ketulusan, serta kecerdasan emosional. Ekspresi, suara, bahasa tubuh, intonasi, dan pilihan kata turut menentukan bagaimana pesan diterima.

Ia juga memperkenalkan teknik JEDA sebagai cara mengelola respons ketika menghadapi situasi emosional, yakni mengambil jarak dari reaksi spontan, mengevaluasi emosi, mendengarkan fakta dan sudut pandang lain, kemudian menentukan respons yang sesuai dengan tujuan.

Bagi Siti Aisyah Zulkarnain, materi seminar tersebut memberikan perspektif penting tentang penguatan peran perempuan, terutama dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah perubahan zaman.

“Di tengah era disrupsi, perempuan dituntut bukan hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga menjadi penguat nilai dalam keluarga. Perempuan harus mampu hadir sebagai pendamping, pendidik, sekaligus teladan,” ujar Siti Aisyah.

Ia menilai kemampuan komunikasi juga menjadi bekal penting bagi perempuan, baik dalam kehidupan keluarga maupun ketika menjalankan peran sosial dan organisasi.

“Yang kita bawa pulang dari seminar ini bukan hanya materi, tetapi juga semangat untuk melakukan sesuatu yang nyata. Penguatan perempuan harus bermuara pada keluarga yang lebih harmonis, komunikasi yang lebih baik, dan generasi yang lebih kuat,” katanya.

Menurut Siti Aisyah, perempuan yang terus meningkatkan kapasitas diri akan memberi pengaruh positif terhadap keluarga dan lingkungan. Keluarga yang kuat, kata dia, menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat. (Humas)