Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Madrasah

Transformasi Karakter Generasi Z: MAN 1 Lampung Tengah Yakin Pembiasaan 5S Jadi Benteng Moral Siswa Di Era Digital

Rabu, 22 Juli 2026 MAN 1 Lampung Tengah Editor: Aziz
Transformasi Karakter Generasi Z: MAN 1 Lampung Tengah Yakin Pembiasaan 5S Jadi Benteng Moral Siswa Di Era Digital
MAN 1 Lampung Tengah
MAN 1 Lampung Tengah
Foto: Tiza Octa Kurniawan

LAMPUNG TENGAH* — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan krisis dekadensi moral di kalangan remaja, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lampung Tengah mengambil langkah progresif dalam menguatkan pendidikan karakter. Melalui konsistensi penerapan budaya *5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun)*, madrasah ini membuktikan bahwa pembentukan etika unggul tidak melulu berfokus pada kurikulum teori di dalam kelas, melainkan diawali dari keteladanan nyata dan pembiasaan sehari-hari.

Pemandangan hangat tersebut rutin terlihat setiap pagi di gerbang utama MAN 1 Lampung Tengah. Sebelum bel masuk berbunyi, jajaran pimpinan madrasah, Guru, dan Tenaga Kependidikan (GTK) berdiri berjejer untuk menyambut kedatangan para siswa. Sapaan ramah, senyuman tulus, hingga jabat tangan takzim dari para siswa menciptakan atmosfer belajar yang humanis, inklusif, dan penuh rasa kekeluargaan sejak awal hari.

Membangun Ekosistem Humanis dan Pencegahan Perundungan

Program penyambutan pagi ini bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan strategi terencana untuk menyelaraskan kondisi psikologis siswa sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar. Menurut berbagai kajian psikologi pendidikan, penyambutan positif di pagi hari efektif menurunkan tingkat stres siswa, meningkatkan rasa aman (sense of belonging), serta menumbuhkan motivasi belajar.

Lebih dari itu, budaya 5S menjadi benteng preventif terhadap maraknya kasus perundungan (bullying) dan perilaku antisosial di lingkungan sekolah. Dengan mengedepankan asas kesantunan (Sopan) dan sikap menghargai (Santun), interaksi antar-siswa maupun hubungan antara guru dan murid terbangun atas dasar saling menghormati.

Pernyataan Kepala Madrasah: Mengakar dari Gerbang Madrasah hingga Masyarakat

Kepala MAN 1 Lampung Tengah, Ahmad Zazili, S.Pd., M.Pd.I., memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi seluruh sivitas akademika dalam menjaga tradisi ini. Beliau menekankan bahwa 5S adalah fondasi penting dalam membentuk karakter religius dan nasionalis pada diri para peserta didik.

 "Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan transformasi nilai (transformation of values). Ketika kami menyambut anak-anak di depan gerbang setiap pagi, kami sedang mengirimkan pesan implisit bahwa mereka dihargai dan disayangi di tempat ini," ujar  Ahmad Zazili, S.Pd., M.Pd.I.

Beliau menambahkan bahwa tantangan terbesar generasi Z saat ini adalah bagaimana menjaga kesantunan di era media sosial yang kerap memicu batas-batas etika memudar.

"Budaya 5S harus menjadi soft skill utama siswa kami. Harapan besar kami, karakter santun ini tertanam kuat dan tidak berhenti di pintu gerbang madrasah saja, tetapi terbawa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, hingga ruang-ruang digital tempat mereka berinteraksi sehari-hari," tegasnya.

Integrasi Moderasi Beragama dan Keterlibatan Wali Murid

Pembiasaan budaya 5S di MAN 1 Lampung Tengah juga selaras dengan agenda besar Kementerian Agama RI mengenai penguatan Moderasi Beragama. Nilai-nilai 5S merefleksikan ajaran Islam Rahmatan Lil 'Alamin—agama yang membawa rahmat dan kedamaian melalui sikap ramah, santun, dan toleran terhadap sesama.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, MAN 1 Lampung Tengah turut melibatkan peran aktif orang tua dan Komite Madrasah. Pembiasaan di madrasah disinergikan dengan pengawasan di rumah melalui komunikasi berkala, sehingga pembentukan karakter tidak terputus saat siswa berada di luar lingkungan sekolah.

Langkah nyata yang ditunjukkan MAN 1 Lampung Tengah menjadi model inspiratif bagi satuan pendidikan lain di Indonesia: bahwa di tengah gempuran teknologi dan modernisasi, etika dan kesantunan tetap menjadi mata uang utama dalam mencetak generasi emas bangsa yang berakhlak mulia.(Red.Tiza/Dian)