Way Kanan, Kemenag ( Humas) -- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan, Masir Ibrahim, menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik peserta didik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter, kepedulian, empati, serta hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Masir Ibrahim saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bagi Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MI, MTs, dan MA yang dilaksanakan di Aula MAN 1 Way Kanan, Rabu (23/09/2026).
Dalam sambutannya, Masir meminta para guru tidak hanya menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik yang menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga mampu membangun karakter dan kepribadian peserta didik.
“Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik.
Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, mari kita mendidik dengan hati sehingga peserta didik tumbuh menjadi generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kepedulian, dan rasa cinta kepada sesama serta lingkungan,” ujar Masir.
Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu pendekatan penting dalam proses pendidikan madrasah karena menempatkan nilai kemanusiaan, empati, dan hati nurani sebagai bagian dari proses pembelajaran.
KBC merupakan inisiatif pendidikan Kementerian Agama Republik Indonesia yang bertujuan mengembalikan dimensi kemanusiaan, empati, dan hati nurani dalam proses pembelajaran. KBC bukan merupakan pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan menjadi penguatan terhadap proses pembentukan karakter peserta didik melalui pendekatan mendidik dengan hati.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam menghadapi berbagai persoalan sosial di lingkungan pendidikan, seperti perundungan, intoleransi, serta menurunnya kepedulian dan empati antarsesama.
Masir menjelaskan, inti dari KBC tercermin dalam lima pilar utama, yaitu cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta kepada diri sendiri dan sesama manusia, cinta lingkungan, serta cinta tanah air.
“Kalau nilai-nilai cinta ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian.
Inilah yang kita harapkan dari implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai KBC pada hakikatnya mengajarkan keseimbangan hubungan manusia, yaitu hablumminallah, hubungan manusia dengan Allah SWT; hablumminannas, hubungan manusia dengan sesama; serta hablumminalalam, hubungan manusia dengan alam dan lingkungan.
“Ketiga hubungan ini harus berjalan seimbang. Peserta didik harus memiliki kecintaan kepada Allah SWT, menghormati dan menyayangi sesama manusia, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Itulah bagian penting dari pendidikan karakter yang harus kita tanamkan sejak dini,” ungkap Masir.
Bimtek tersebut turut dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan, para Kepala MAN, MTsN, dan MIN, serta kepala madrasah swasta.
Kegiatan diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang madrasah, dengan rincian KKM MI sebanyak 45 peserta, KKM MTs sebanyak 30 peserta, dan KKM MA sebanyak 30 peserta.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konsep dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta serta mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di madrasah masing-masing.
Dengan demikian, implementasi KBC diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual, tetapi dapat diwujudkan dalam budaya madrasah dan perilaku sehari-hari, sehingga madrasah mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, mencintai lingkungan, serta memiliki semangat kebangsaan.